Malam ini yang bisa kusalahkan adalah diriku sendiri.
Ya, aku yang mau menerima permintaan ibu peri untuk masuk dalam pestanya.
Memberiku gaun dan sepatu hanya untuk dikucilkan seperti ini!
Haruskah aku seperti Cinderella?!
Akan kulemparkan sepatu heels-ku ini ke arah mereka dan meninggalkan tempat ini dengan damai!
Ibu peri sialan itu malah asik sendiri dengan pestanya!
Dasar ibu peri tidak peka!
Ibu peri sialan! Aku mau pulang!
Apa dia tidak sadar?!
Aku menatap kearah sahabat ku, Taeyong, dengan tatapan tajam dari sisi ruang pesta dimana tak terjamah penghuni pesta lain. Kugenggam dengan penuh amarah segelas soda ringan yang sewaktu-waktu bisa pecah karena rasa kesal ku padanya.
Dia mengajakku di pesta perayaan kemenangan klub basket kampus. Sahabatku yang menyebalkan itu pasti mengajakku karena tidak mau diejek teman-temannya yang sudah punya pacar semua. Disisi lain aku merasa kasihan, tapi dia kan tahu kalau aku bukan seperti dia yang mudah bergaul dalam pesta.
Persahabatan kami memang aneh. Taeyong adalah mahasiswa populer karena dia anggota klub basket berbakat dan nilainya juga bagus karena dia pintar. Sedangkan aku hanya mahasiswi biasa yang tidak populer dan terkadang dibicarakan orang dibelakang karena bersahabat dengan Taeyong. Indah sekali bukan?
Kami memang sering meributkan hal-hal kecil, dan pertengkaran kecil adalah asupan sehari-hari persahabatan kami. Kalau mengingat-ingat itu, sebenarnya dia adalah sahabat terbaikku. Biar bagaimanapun dia selalu ada disampingku dan kita memiliki kesamaan hobi yang tidak banyak orang tahu. Tapi kali ini dia benar-benar menyebalkan! Taeyong menyebalkan!
Aku sempat berkumpul dengan mereka saat awal pesta di mulai. Berharap aku bisa bercampur dengan pacar teman-temannya itu? Aku bisa lihat orang seperti apa mereka.
BIG NO.
Aku tidak mau membuat diriku bodoh dengan ikut - ikut tertawa dengan mereka. Lebih baik menghindar untuk menjaga perasaan mereka.
Dan lagi, para anggota cheerleaders memulai perkara denganku. Aku sering bertemu mereka saat menonton pertandingan. Dengan ramah aku sapa mereka saat pertama kali bertemu, tapi itu adalah sesuatu yang tak akan aku lakukan dua kali.
Mereka berbisik-bisik tepat didepan mataku. Sudah bisa dibaca apa yang mereka gunjingkan. Kuberi dukungan seratus persen untuk tingkah laku mereka, kalau perlu pakai pom-pom dan berteriak-teriak disamping telinga mereka, Give me HA! Give me HI! HA HA HA! HI H I HI! Kemudian roll depan dan tebar confetti diwajah mereka. Aku akan melihat bagaimana reaksi mereka.
drrrtt...
drrrtt...
hp ku bergetar.
Taeyong
Kenapa disana terus? Kesini gabung. Jangan buat aku malu dong.APA?
Membuatnya malu?
Demi kepala saitama! Apa yang dia pikirkan sebenarnya? Dia mau aku berdiri disana lagi dan dikucilkan lagi? Memangnya siapa yang malu? Kenapa tidak jemput saja aku kemari lalu mengajakku berkumpul dengan mereka. Lewat chat? yang benar saja. Pantas saja dia tidak punya pacar.
