Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rasa kagum ataukah cinta?
Ketika keduanya menjadi sesuatu yang tak tersampaikan, akhirnya pun sama saja.
Perasaan yang disimpan dalam diam itu bercampur antara duka dan cita.
Beberapa orang menikmatinya, bahkan ada yang merasa lebih baik seperti itu.
Seperti diriku dan pandanganku yang tidak bisa lepas dari seseorang di perpustakaan sekolah.
* * *
"Sejeong, apa ini yang kau cari?" tanyaku. Aku sedang membantu Sejeong mencari novel yang ia cari.
"Oh! Iya benar!" Sejeong segera mengambil duduk di salah satu kursi perpustakaan setelahnya.
Aku masih melanjutkan melihat-lihat koleksi buku perpustakaan sekolah. Berjalan menyusuri rak buku khusus koleksi komik. Meskipun beberapa edisi komiknya tidak lengkap, tapi hampir semua judul yang aku ketahui ada disana.
Saat mengambil salah satu komik dari sela-sela rak buku didepanku, aku melihat Winwin berjalan dengan dua orang temannya. Tidak biasanya dia pergi ke perpustakaan.
Alih-alih membaca komik yang tadi kuambil, aku terus memperhatikan Winwin dari sana. Saat berjalan dia sering menyisir rambutnya kebelakang dengan tangan. Itu adalah kebiasaan yang sering kuperhatikan darinya.
Bagaimana mungkin hal-hal kecil yang dia lakukan terlihat begitu menarik dimataku?
Aku periksa kanan dan kiri ku, apakah ada orang atau tidak. Untunglah tidak ada. Sesekali aku pura-pura membaca ketika ada orang yang lewat.
Dari sisi ini aku bisa melihat Winwin sedang duduk di salah satu bangku berbincang dengan Hendery salah satu temannya. Dia tidak membaca buku atau mengerjakan apapun. Kurasa dia hanya ikut dengan teman-temannya.
Aku berinisiatif untuk pindah ke barisan rak lainnya. Kurasa dari sisi itu aku bisa melihatnya dengan lebih jelas. Oh, aku benar-benar gila.
Aku berjalan perlahan tanpa memperhatikan apa yang aku pijak, karena mataku terus tertuju pada Winwin.
"Eh!" aku memekik pelan saat tiba-tiba tersandung.
Ternyata seorang siswa sedang tiduran diatas sofa di samping rak buku, kaki nya terjulur ke lantai. wajahnya tertutup komik. Dia sontak menyingkirkan komik itu dari wajahnya—terbangun.
Awalnya aku merasa panik karena tidak sengaja membangunkan orang tidur. Siswa itu pun terlihat hendak menyolot marah, tapi sedetik kemudian wajah kami sama-sama saling menatap datar.
Ternyata dia. Aku sekelas dengannya. Tak jarang kami bertengkar, karena tentu saja dia dulu yang mencari masalah.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya nya ketus. Membuatku lantas memelototinya.