5. Ada Dukun di Cafe Ale

9 1 0
                                        

Malam Kamis adalah malam yang begitu panjang bagi Kaila. Ia harus bekerja hingga jam satu malam di tempat Part timenya. Sebenarnya sama saja dengan malam Senin dan Rabu, hanya saja ini adalah malam terakhir bekerja dalam seminggu, Kaila merasa ini adalah malam panjang.

"Pesanan atas nama Agung."

Lalu datang ibu-ibu dengan ponsel di tangannya. Kamera ponsel mengarah pada Kaila. "Pesanan saya ya, Mbak?"

"Iya, matcha, ya, Bu?" tanya Kaila ramah. Mesti lebih ramah lagi karena Kaila tahu sedang direkam.

"Oh bukan.. saya pesan greentea," jawab Ibu-ibu itu lalu mematikan rekamannya.

Kaila mengernyit bingung, "atas nama Agung, kan, Bu?"

"Oh bukan.." ibu-ibu itu menggeleng. "Saya Nana. Nama saya Nana."

Senyuman dan keramah-tamahan Kaila lenyap begitu saja. Kesabaran Kaila yang setipis tisu itu membuatnya berkeinginan untuk menghujat ibu-ibu di depannya ini. Kalau saja tidak bertentangan dengan peraturan kerja, sudah kena mental ibu ini.

"Saya Nana."

Hufft.. "iya, Bu. Tunggu sebentar lagi."

Kaila menormalkan detak jantung yang temponya sempat meningkatkan demi kembali memunculkan kesabaran kepermukaan.

"Lagian ngapain lo maju! Kampret!" gerutu Kaila. "Nama lo bukan Agung!"

Kaila memandang Ibu-ibu itu sinis sekali meski tidak ketahuan. Kalau ketahuan, mampus Kaila! Lagian orang-orang seperti Ibu itu ada loh di dunia ini. Dipanggil siapa, yang nyahut siapa. Benar-benar aneh bin ajaib.

"Maaf, Mbak. Atas nama Agung, ya, tadi?"

Kaila menoleh lalu melotot ketika melihat Mas-mas yang ketampanannya diatas rata-rata namun masih berwajah lokal. Seperti campuran Jawa-Bali. Badannya proposional dan atletis sangat cocok dengan wajah tampannya. Ditambah hidung mancung seperti perosotan membuatnya semakin tampan saja.

"Mbaknya yang nabrak saya waktu itu?"

Kaila melirik kebawah lebih tepatnya melihat sepatu yang dikenakan oleh Mas ganteng ini. "Oh iya! Mas Berluti!"

Dia tertawa. "Salam kenal, Mbak." Dia mengulurkan tangan. Dengan gugup Kaila menyambut uluran tangan dari Mas ganteng.

"Saya Agung, Mbak."

"S-saya Kaila, Mas. Panggil aja Kai." Dengan tangan sebelah kirinya, Kaila menyelipkan rambut ke belakang telinga.

"Iya, Mbak Kaila." Mas Agung melepaskan jabatan tangannya.

"Yah.. dilepas." Mas Agung menoleh. "Eh, Maksudnya ini pesanan Mas Agung. Maaf lama." Kaila jadi salah tingkah sendiri.

Mas Agung tertawa. Keras sekali. Namun tidak mengurangi kadar ketampanannya. Memang, ya orang ganteng itu mau seperti apa juga ganteng. Gantengnya beda sama Pak Rezwan. Kalo Mas Agung adem dilihat.

"Hahaha santai aja, Kai. Ini saya bayar pakai debit card."

Kaila mengambil debit card milik Mas Agung dengan hati-hati. "Masnya kesini sama siapa? Sendiri?"

"Sama itu."

Lenyap sudah senyuman Kaila yang tadi tersungging begitu melihat siapa yang ditunjuk oleh Mas Agung. Perempuan bergaun biru selutut dengan rambut yang digerai ke samping.

"Ceweknya, ya, Mas?" Kaila mengembalikan debit card milik Mas Agung. "Cantik, ya. Cocok sama Masnya ganteng."

"Loh, bukan." Mas Agung tertawa. Duh, kok adem bener ini hati liatnya ketawa begitu. "Saya sama teman saya. Itu yang pake kemeja batik, berdua."

Before MarriageCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang