"I paling gak like banget karena kepikiran dukun pesugihan kemarin. Rasanya I ketempelan, deh. Dari tadi bawaannya merinding terus. Apa jngan-jangan dukunnya like sama I?"
Suara di seberang telepon terdengar. Itu adalah suara Bimo yang masih mengeluhkan perihal dukun pesugihan yang ia yakini adalah dukun urusan Cafe sebelah yang baru jadi. Quonno Bimo bercerita tentang bagaimana ketakutannya setelah bertemu dengan Pak Rezwan yang dikiranya adalah dukun pesugihan.
"Lo mau dijadiin tumbal pesugihan, Bim. Biasanya ciri-cirinya emang gitu. Pertama-tama ketempelan terus merinding."
"Mas Ale, You jangan begitu, dong! Gak kasihan sama I? Kai, You kasihan sama I?"
"Kasihan, kok, sedikit," jawab Kaila. Mereka melakukan panggilan grub disela-sela jam istirahat Kaila. Kaila memang hari ini tidak ikut nimbrung di Pantry karena Mbak Lida terlihat mondar-mandir seperti setrika dan Mbak Juju yang dipanggil ke bagian HRD entah untuk apa. Sedangkan Mbak Ras jangan ditanya, kalau baru aja jam istirahat tiba, ia tidak bisa bersantai kecuali pengunjung Pantry sudah dibereskan.
"Kamu jangan ikut ketularan virus dukunnya si Bimo, Kai. Memang agak lain si Bimo ini. Aku curiga dukun kemarin lagi nyari tumbal buat pesugihan Cafe sebelah. Bimo, kan yang paling gede diantara kita. Dagingnya banyak."
"Jangan ngomongin yang gak baik, dong! Mas Ale nakutin I. I kan jadi parno!"
"Tapi beneran loh apa yang dibilang Mas Ale. Mas Bim harus hati-hati soalnya kan yang dari kemarin dilihat si dukun itu Mas Bim bukan Mas Ale."
"Bener tuh, Kai."
"Gak bener!" Bantah Bimo. "Kalian berdua bisa gak sih tenangin I? I takut kalau nanti beneran dijadiin tumbal pesugihan."
"Sabar, ya, Mas Bim."
"I selalu sabar, Kai."
"Bener juga. Bisa aja lo salah kira, Bim. Gak yakin gue ada dukun spek model majalah dewasa."
"Bener, kan! Apalagi badannya bagus pol!"
"Iya, bisa aja dia cosplay jadi babi ngepet nanti. Terus dia mau ngambil uang lo, Bim."
"Mas Ale! Ih sumpah, ya! I udah tenang jadi tegang sekarang!"
"Bisa tegang juga lo?"
"Bisa lah! Apalagi dia satu spesies sama I. I cari-cari di internet ternyata ketemu, dia punya pacar cowok. Namanya Niel."
"Serius?" Tanya Kaila. Awalnya memang ia tidak percaya kalau Pak Rezwan itu gay tetapi begitu Bimo yang mengatakannya entah kenapa Kaila merasa sedikit terganggu.
"Serius lah! I tahu siapapun yang satu spesies sama I."
Kaila mengangguk lalu tiba-tiba mematikan panggilan sepihak karena melihat Rezwan menghampirinya. Buru-buru Kaila menghabiskan minumannya dan bersiap untuk pergi.
"Kaila?"
"Iya, Pak?" Kaila memasang senyum terpaksa berharap lelaki itu menyadari ketidakinginan Kaila bertemu dengannya.
"Mau kemana?"
"Ke---"
"Sudah makan?"
"Sudah."
"Banyak?"
"Lumayan, Pak."
"Berapa piring?"
Dengan pelan Kaila mengangkat kedua jarinya, Rezwan tergelak. "Oke-oke, sekarang kamu mau kemana? Saya mau ikut boleh tidak?"
"Saya mau lanjut kerja lagi, Pak," jawab Kaila. Alasan sebenarnya ia tidak ingin menimbulkan gosip apalagi digosipkan seperti dulu. Ada beberapa orang yang mengira mereka mempunyai hubungan bos dengan karyawan. Apalagi begitu mengingat Pak Rezwan ini gay, bisa habis Kaila dibabat Niel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Before Marriage
Dla nastolatkówMencari istri tidak semudah mencari rekan kerja. Itu yang ada di pikiran Rezwan. Tetapi, Mamanya terus saja menyuruhnya menikah dan selalu mencarikan wanita untuknya. Wanita yang sangat jauh dari tipe Rezwan. Apakah Rezwan akan menikah dengan wanita...
