Hujan deras membuat jalan malam terlihat lebih gelap dari biasanya. Bahkan kalau tidak meningkatkan kewaspadaan, motor yang dibawa bisa saja oleng dan berakhir terjatuh menghantam aspal. Disaat semua orang sedang tidur dengan pulasnya di atas kasur kesayangan, Kaila Tamara justru harus menerobos hujan dem pulang ke Kosannya agar bisa ikut tidur seperti kebanyakan orang.
Namun, kita tidak tahu musibah kapan terjadi. Meski sudah sangat berhati-hati, orang lain justru berbanding terbalik. Mobil ugal-ugalan dari belakang menabrak motor matic Kaila dan membuat Kaila terjatuh mengenaskan di tengah jalanan yang sepi.
Entah harus bersyukur atau tidak. Pengendara mobil ugal-ugalan, tidak berhenti menghampirinya melainkan langsung melajukan mobilnya dengan keugal-ugalannya.
Kaila tidak bisa membayangkan bagaimana kalau pengendara itu adalah preman? Atau laki-laki yang mabuk? Dan mengambil motornya atau macam-macam dengannya?
Dengan kaki yang gemetar hampir tidak bisa menopang tubuhnya sendiri, Kaila menghampiri motor yang tidak jauh jatuh darinya lalu kembali mengendarai dengan sangat pelan. Kali ini Kaila menjalankan motornya di pinggir jalan, sangat pinggir sekali.
Matanya mencari-cari Klinik yang buka 24 jam. Bibirnya bergetar karena kedinginan dan kakinya semakin terasa sakit. Mungkin karena terbentur cukup keras dengan aspal. Kaila berhenti di depan Klinik yang hampir saja ditutup oleh pemiliknya kalau tidak melihat Kaila berhenti.
"Maaf, Kliniknya masih buka, Pak?"
Bapak di depan Kaila tampak memperhatikan Kaila yang terlihat mengenaskan. "Masih, kok, ayo silahkan masuk."
"Makasih, Pak, saya parkirin motor saya dulu."
"Biar saya aja. Kamu masuk duluan ke sana. Luka kamu harus segera diobati."
"Saya juga basah. Jadi sekalian aja," ucapnya karena Kaila ragu memberikan kunci padanya.
"Makasih, Pak. Maaf merepotkan."
Begitu Kaila masuk ke dalam Klinik. Semua orang yang ada di dalam Klinik tampak kaget melihat Kaila yang terlihat mengenaskan itu. Kaila tersenyum kikuk lalu duduk di salah satu kursi tunggu.
"Mbak, ada yang bisa saya bantu?" Dokter bernickname Susi itu menghampiri Kaila. "Silahkan duduk."
"Makasih, Dok."
"Baru aja jatuh, ya?"
"Iya, tadi ditabrak dari belakang. Untung aja saya gak papa."
"Yang nabraknya mana?" Suara lain berasal dari wanita yang tadi duduk dengan Dokter Susi bersama dengan satu lelaki muda.
"Pergi, Bu. Ugal-ugalan gitu. Untung aja dia gak berhenti. Takut saya. Mau protes juga gak mungkin keburu mati nanti kalo ditabrak lagi."
Wanita itu terkekeh. "Kamu kesini sama siapa?"
"Sendiri, Bu." Kaila meringis saat Dokter Susi membersihkan lukanya. "Saya baru aja pulang kerja."
"Oh, kerja apa?"
"Part time, Bu. Di Starb*uks."
"Biasanya dari jam berapa part time itu?" Dokter Susi ikut bertanya.
"Kalau saya, sih, dari jam tujuh sampai jam satu pagi. Ini karena hujan doang makanya disuruh tutup lebih awal sama atasan."
"Pasti orang rumah nyariin. Sudah dikabari?"
"Saya sendiri, Bu. Ngekos."
"Kamu kuliah, ya?"
"Enggak, Bu, saya kerja."
"Kerja dimana?" Dokter dan wanita itu terus-menerus bertanya pada Kaila. Sedangkan Kaila menjawab dengan kikuk.
"Di Jaskar, Bu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Before Marriage
Teen FictionMencari istri tidak semudah mencari rekan kerja. Itu yang ada di pikiran Rezwan. Tetapi, Mamanya terus saja menyuruhnya menikah dan selalu mencarikan wanita untuknya. Wanita yang sangat jauh dari tipe Rezwan. Apakah Rezwan akan menikah dengan wanita...
