Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nuansa kelam di ambang kepelikan petang itu menjadi penyebab kebungkaman seluruh kepala. Bahkan sang kepala keluarga pun tidak berkapabilitas untuk mendedahkan sepatah aksara kata. Mereka begitu di invasi oleh keterkejutan yang mendalam.
Kausanya ialah mereka mendapati sebuah pariwara yang menyangkut pautkan putra bungsu mereka. Berawal dari supir putra bungsu mereka menemukan pemuda itu yang berendam di dalam bathtub yang bercampur darah dalam keadaan tidak sadarkan diri dan seorang gadis tergelak tanpa busana di ubin kamar mandi yang dingin itu.
Atmosfer yang cukup mencengkam itu bahkan diikuti oleh undangan berdirinya bulu kuduk. Terlampau ngeri dan berkecil hati bagi sang kepala keluarga, sebab ia tengah merasa sudah membesarkan seorang psikopat.
Deheman kecil ia dedahkan, tatapannya menatap lurus pada putra bungsu yang tetap tenang menyantap kudapan yang telah tertata rapi diatas meja.
Kini Aarashaga tengah membisu dengan sorot datar seolah ia tidak melakukan perbuatan yang membuatnya dirundung penyesalan. Pemuda itu tetap dalam kondisi tenang, berbeda dengan dua orang dewasa lainnya yang sudah kepalang bimbang untuk menangani masalah yang disebabkan oleh Shaga.
“Shaga?”
Merasa terpanggil, netra Shaga menatap wajah wanita dewasa itu dengan lirikan tajam. Alisnya terangkat sebelah kemudian memutar bolamata jengah.
“Saya bertanya sekali lagi, alasan kamu melakukan ini apa, Shaga?” intonasi sang wanita dewasa meninggi.
Yang lebih muda hanya mengangkat bahu acuh tanda tidak peduli. Pemuda itu bangkit dari duduknya hendak melangkahkan kaki pergi, namun pergerakannya terhenti saat kepala keluarga itu mulai berdehem.
“Dimana sopan santunmu?” bariton yang terdengar lebih berat itu membuat Shaga kembali pada posisi duduknya. Melipat kedua tangannya diatas meja dengan patuh, siap mendengarkan. “Jawab pertanyaan Ibu mu, Aarash.”
“Ibu? sudah ku bunuh, kalian lupa?”
Tidak ada hal yang lebih mengejutkan dari apapun saat kalimat itu keluar dari mulut Shaga. Mereka kembali terbungkam, sebab pemuda yang kerap kali membisu ini mulai bersedia untuk mendedahkan suara.
“Shaga, Saya tidak bisa mentolerir perilakumu kali ini, kamu sudah keterlaluan.” wanita dewasa itu mulai berdiri dan berkacak pinggang, “kamu harus di hukum.”
Decihan kecil terurai dari Shaga, pemuda itu melirik sinis istri ayah nya dengan sorot penuh cemoohnya. Ia bergegas pergi meninggalkan ruangan keluarga itu tanpa sepatah kata, hanya merasa jengah dan kesal di waktu bersamaan.
Tangan kanan Nathan terangkat sebuah kode agar sang istri berhenti. “Jangan lakukan apapun pada Aarash.”
“Hati-hati, sebelum kamu bertindak pun Aarash sendiri yang menyingkirkan mu.”