apokalips

666 40 3
                                    


Menjadi niraksara dan samsara
Di tepi butala nan alufiru masih ada sisa percikan pawaka yang membakar habis ilusi hingga binasa
Bahkan, nestapa yang tak berpenghujung pun sudi berjatuhan bak musim gugur.
Menjana kamu, membunikan frasa dan fasad yang tempur hingga babak belur.


Nabastala di penghujung fajar menghadirkan gabak disertai hawa dingin yang kentara. Kicauan kukila seakan absen dari atensi menyambut pagi, sisa-sisa kabut embun pun masih menapaki rerumputan di halaman rumah.

Di tengah hiruk pikuk kesibukan pagi hari kota Braxland Sarajevo itu kita sambangi sebuah kediaman megah nan agung yang terdapat ditengah kota. Rumah dengan nuansa khas eropa modern dengan furnitur mewah sangat menarik untuk jajaki.

Rumah dengan nilai estetika jika di amati secara eksternal namun secara internal tidak seindah itu. Bukan perkara interior, tetapi para orang-orang di dalamnya. Saling memiliki sifat durkarsa, tidak ada kasih sayang, ikatan mereka hanya sebatas saling membutuhkan.

Hal itu merupakan isi kepala dari seorang remaja yang sedang pada masa penjajakan jati diri. Jejaka ini sangat piawai dalam memerankan karakter seorang remaja yang penurut, bahkan terkesan menunggu perintah. Segala bentuk pergerakannya di kendalikan oleh tali-tali kuasa milik orangtuanya.

Seperti pagi ini, pemuda itu sudah duduk seorang diri di ruang makan. Meskipun para maid tengah berlalu lalang menyiapkan hidangan diatas meja pemuda itu tidak merasa terganggu. Ia hanya memfokuskan tatapan pada buku bacaan pelajaran hari ini.

Hingga derap langkah beberapa pasang kaki terdengar, pergerakan maid yang semula terkesan sibuk dan buru-buru terhenti seketika untuk membungkukkan badan memberikan sapaan sopan kepada kepala keluarga Orlando.

Nathan Orlando, di kenal dengan sosok yang sangat berbiwaba namun culas di waktu bersamaan ketika berbisnis. Banyak yang berpikir bahwa sosok ini adalah sosok figur ayah yang begitu di dambakan oleh khalayak. Begitu penyayang kepada istri dan anak-anaknya, itu yang mereka ketahui. Bahkan, putra keduanya yaitu Aarashaga Orlando berdecih ketika mendengar pujian untuk sang ayah.

Begitu meja makan sudah terisi oleh sepasang suami istri dan dua anaknya, para maid beserta koki kepercayaan berbondong-bondong pergi meninggalkan ruangan makan tersebut dengan tujuan memberikan ruang untuk keluarga itu saling menyantap hidangan yang telah di sajikan.

Di tengah kegiatan makan, sendok dan pisau Nathan sudah di letakkan di atas piring membentuk huruf v sebagai tanda pria paruh baya itu tengah menjeda santapan nya. Tatapan yang kemudian beralih ke arah kiri dimana tempat kedua anaknya berada. Kedua putranya saling memahami tatapan ayahnya pun seketika turut menghentikan santapannya.

Kepala Shaga terdongak membalas tatapan sang ayah.

"Kosongkan jadwal mu setelah sekolah, ikut ayah untuk menemui guru les piano mu." bariton yang terdengar begitu tegas itu bahkan tidak ada unsur permintaan, konversasinya adalah perintah mutlak.

Shaga memberikan anggukan kemudian kembali melanjutkan santapannya. Ia tidak memperdulikan lagi tanggapan sang ayah selanjutnya. Isi kepalanya mulai tersara bara, di umur yang sangat muda ini kapasitas tenaganya sedang di pertaruhan.

Waktunya untuk istirahat terbilang banyak tersita, ia pun sudah mengikuti kegiatan yang beragam. Dari mulai les belajar, ballet, memanah, menembak, berkuda dan sekarang ia harus mengikuti les piano? Ia bahkan tidak memiliki dasar kemampuan dalam bidang itu.

Di balik wajah tenang pemuda itu tanpa sadar memegang peralatan makan dengan sekuat tenaga, manifes peralihan kejengahan yang menginvasi. Penaka jengah bahwa persisten menjadi sang penurut sebab ia pula tidak mengetahui kemana arah hidupnya.

00.01 - Norenmin [End]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang