BAGIAN 15 perbincangan panjang dengan Langit

19 4 2
                                        

Happy Reading

Ketika mereka selesai dengan makan siangnya, Langit mengajak Sabit untuk kembali ke ruangannya. Ketika mereka sampai, Langit mempersilahkan Sabit duduk di sofa putih yang ada di dalam ruangannya yang terletak di pinggir ruangan yang menghadap ke jendela kaca yang cukup besar--yang dapat memperlihatkan aktivitas serta kesibukkan kota Bali dari lantai 3 ruangan miliknya.

Langit pun berjalan menuju meja kerjanya. gerakkan tangannya seperti sedang membuka laci di meja kerjanya untuk mengambil sesuatu yang membuat Sabit bisa sampai disini. akhirnya jurnal yang hampir tiap hari Langit bawa kemanapun ia pergi--dengan harapan suatu saat jurnal itu bertemu dengan pemiliknya--akhirnya tiba. Kini buku berukuran A5 itu sudah benar-benar beralih tangan kepada pemilik sesungguhnya.

Langit berjalan santai untuk duduk di samping Sabit dan menyerahkan jurnalnya kepada gadis itu. Senyum Sabit mengembang ketika melihat barang itu kembali. Seolah-olah Papa kembali datang merengkuhnya dengan pelukkan hangat yang selama ini selalu Papa lakukan untuknya. Sabit tersenyum haru melihat jurnal itu, tidak ada cacat atau lecet sedikit pun. Langit benar-benar menjaga Jurnal itu dengan baik. Dengan senyum penuh binar itu, Sabit menatap Langit.

"Mas Langit, Aku bener-bener berterimakasih banget. Karena jurnal ini berarti banget buat aku, Mas." sejenak Pandangan mata gadis kembali menatap Jurnal itu. sebelum akhirnya beralih menatap Langit dengan senyum penuh keharuan.

Langit memperhatikan Tatapan Sabit yang begitu bahagia itu. Sorot matanya menyiratkan kesenangan, kerinduan yang berkecamuk menjadi satu sehingga menghasilkan bulir yang tertahan di pelupuk matanya. Langit yakin bulir itu sama sekali tak gadis itu rencanakan untuk turun.

"Kamu suka, buat jurnal begitu?" Langit bertanya lantaran kagum dengan lembaran demi lembaran jurnal yang disusun oleh Sabita.

Sabit mengangguk, "Papa yang ngajarin aku buat beginian."

Sabit menatap rak-rak buku yang tersusun rapi di ruangan Langit. Sedangkan si pria malah terus menatap gadis di sampingnya tanpa sedikit pun menoleh ke arah lain. seolah terpaku dengan sosok gadis yang duduk di sampingnya dengan raut wajah yang sama seperti sebelumnya.

"Papa juga yang ngajarin aku untuk suka baca buku sampai aku bisa kerja di perusahaan penerbit. Walaupun ujung-ujungnya dipecat," Sabit terkekeh mengingat betapa sialan atasannya yang dengan semena-mena memecatnya padahal kinerja yang sabit lakukan untuk perusahaan miliknya itu sangat totalitas sekali. Tapi sekali lagi, Sabit hanyalah manusia biasa yang tak memiliki koneksi apapun untuk bisa tetap bertahan di perusahaan sialan itu. yang ia miliki hanyalah prestasi dan pengalaman. yang tentu saja hal itu akan kalah dengan status orang dalam.

Kini mata si wanita beralih menatap sosok pria dengan kemeja putihnya yang lengannya sudah tergulung sempurna sebatas siku. Namun ia tak menyangka bahwa si pria sudah menatapnya lebih dahulu. bahkan, tatapan itu lebih dalam daripada tatapan yang ia miliki. Entahlah, Sabit sendiri tak tahu pasti maksud dari tatapan pria itu. Tapi jujur, tatapan itu melemaskan seluruh tulang-tulang di tubuhnya.

Seolah tidak peduli karena ia telah kepergok tengah menatap Sabit, Langit malah semakin melancarkan aksinya itu. Entahlah, Langit sendiri tidak mengerti mengapa ia terus melakukan hal itu. Semua terjadi begitu saja, bak air yang mengalir mengikuti arus sungai. Langit membiarkan semuanya terjadi tanpa sedikit pun ingin mencegahnya. Hingga deringan telepon milik pria itu membuyarkan semuanya. Sabit membuang napas lega ketika Langit sudah mengalihkan fokusnya pada ponsel di tangannya.

"Sebentar, ya, " ujarnya. 

Langit pun beranjak pergi untuk menerima panggilan telepon. Sedang Sabit tetap duduk di sofa sambil memperhatikan Langit dengan ekspresi yang berubah-ubah ketika menerima telepon

LANGIT SABIT (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang