Happy Reading
Sabit turun dari taksi. Ia benar-benar mendatangi toko buku di sini. Senyum Sabit mengembang ketika melihat halaman depan toko, dengan langkah ringan, Sabit melangkah masuk ke dalam. Penjaga toko menyambut Sabit dengan cukup ramah, yang Sabit balas dengan senyuman yang tak kalah ramah.
Bau-bau buku baru menguar di penciuman Sabit. Sabit selalu suka dengan bau itu. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya secara perlahan. Kini, ia membiarkan kakinya melangkah sesukanya. Mendatangi setiap rak-rak buku yang tertata rapi di sana.
Langkah Sabit terhenti pada satu novel dengan Cover berwarna hitam. Sabit cukup mengenali novel itu. Ia turut tersenyum Bangga, Novel yang menjadi project terakhirnya sebelum ia dipecat. Dan lihatlah novel itu, berjejer diantara novel-novel best seller lainnya. Sabit tidak pernah salah dalam memilih karya tulisan. Dari beberapa karya yang sudah ia bantu untuk terbit, 4 di antaranya best seller--yang mengalami penjualan yang sangat melonjak.
Dan kini, Sabit sedang berpikir, apakah perusahaan penerbit itu tidak menyesal telah membuang orang se-kompeten Sabit?
Sabit kembali melangkah, tidak ada niatan untuk membeli, hanya sekedar melihat-lihat Novel yang Sabit berhasil meyakinkan penulisnya bahwa novel itu berhak untuk diterbitkan. Melihat semua novel-novel itu ada di sini, membuat Sabit tersenyum bangga.
"Mbak Sabit?" suara itu membuat Sabit menolehkan kepalanya. Ia mengerut heran ketika mendapati gadis itu berada di sini.
"Beneran Mbak Sabit?" gadis itu tampak takjub. Tak menyangka akan menemukan Sabit di sini.
"Pinka?" Sapa Sabit membuat gadis itu mengangguk senang.
Awalnya Sabit sempat meragu, namun anggukan dari gadis itu membuatnya lega. Gadis itu adalah salah satu penulis yang tidak percaya diri dengan tulisannya. Yang tulisannya sangat enggan untuk diterbitkan. Namun, bukan Sabit namanya kalau tidak bisa membujuk seorang penulis.
"Huh! Kirain Mbak Sabit udah nggak kenal lagi sama aku," katanya dengan ekspresi wajah nyaris menampilkan kegundahaan lantaran takut orang di hadapannya sudah tidak mengenalinya lagi.
"Kamu kok ada di sini?" kening Sabit masih memperlihatkan kerutannya.
"Ada pertemuan jumpa fans, Mbak." Kata Pinka dengan melebarkan senyumannya.
Sabit sedikit takjub. Ekspresi terkejut tidak terelakkan dari raut wajahnya. Pasalnya, Pinka adalah penulis yang tidak ingin pembacanya mengetahui identitasnya. Tapi lihatlah sekarang, gadis itu sudah mengalami perkembangan dalam dirinya, dan Sabit cukup senang melihatnya.
"Wow, udah berapa buku yang terbit?" Ekspresi bangga begitu terlihat di wajah Sabit.
"Tiga, Mbak," jawab Pinka sambil menunjukkan 3 jarinya ke hadapan Sabit. Membuat Sabit lagi-lagi menatap takjub.
"Congratulations!" Sabit turut bangga melihat betapa Suksesnya penulis yang sempat tidak percaya diri itu.
"Terbitnya dimana? Masih di penerbit yang lama?" Tanya Sabit lagi.
gelengan kepala dari Pinka membuat kedua alis Sabit menyatu. "Semenjak, Mbak Sabit, keluar dari penerbit itu, aku sempat mutusin untuk gak nerbitin karya-karya aku yang lain. Sampai suatu hari, temen aku rekomendasiin untuk self publishing di satu penerbit yang sama dengan dia. Dan Boom! Pihak penerbitnya baik banget Mbak, jadi walaupun aku self Publishing, tapi aku tetap nyaman."
Pinka menyentuh kedua tangan Sabit. "Tapi aku tetap berterima kasih sama, Mbak Sabit. Kalau bukan karena, Mbak Sabit, mungkin karya-karya aku nggak akan bisa seterkenal sekarang."
KAMU SEDANG MEMBACA
LANGIT SABIT (Selesai)
Storie d'Amoresebuah Rasa yang tak seharusnya ter-asah. Cover by : pinterest
