BAGIAN 17 Three Sunflowers and each of his memories

18 3 0
                                        

Happy Reading

Sesuai dengan apa yang pria itu katakan ketika berada di pantai--bahwa selesai ia mengontrol Bar miliknya yang ada di pantai. Maka setelah itu ia akan mengantarkan Sabit ke tempat yang ingin gadis itu tuju. dan kini, mobil putih bersih dan mengkilap milik Langit berhenti tepat di sebuah Toko Bunga. Langit pun mengajak Sabit berjalan beriringan memasuki The Garden House, nama tempat yang mereka datangi.

Sabit menatap kagum dengan seluruh bunga dan tanaman-tanaman yang terurus dengan baik di sini. Sabit juga sangat-sangat tidak menyangka bahwa Langit tahu tempat-tempat seperti ini. Jika tidak ada Langit, Mungkin Sabit sudah mendatangi toko Bunga sembarangan yang terdekat dengan lokasi Kantor Langit. Beruntung ia bertemu laki-laki itu.

Langkah kaki gadis itu tanpa sadar sudah semakin memasuki area Garden. Beberapa kali ia berdecak kagum dengan tatapan yang juga tak kalah kagum ketika melihat bunga-bunga yang tertanam indah di sini. Hingga di ujung sana, di bawah teriknya sinar mentari siang itu, Sabit mendapati apa yang ia cari--Bunga matahari tumbuh dengan indah di sana.

Sabit menoleh sejenak kepada Langit, melebarkan senyumnya dan berjalan cepat menghampiri bunga itu. Tangannya ia biarkan menyentuh bunga tersebut, mengusap dedaunanya. Dan beberapa kali juga ia mencium wangi yang ditebarkan oleh bunga yang memiliki bentuk serupa dengan matahari.itu.

"Mau beli berapa?" Sabit menoleh ke samping. sedikit terkejut ketika mendapati Langit berdiri dengan jarak yang begitu dekat dengannya.

"Tiga kali, ya." Sahutnya sedikit ragu sambil sejenak menatap Langit. Lalu kembali menatap bunga dengan kelopak berwarna kuning gonjreng tersebut.

Langit menganggukkan kepalanya singkat. Matanya berkeliaran mencari pemilik toko ini untuk membeli bunga matahari sesuai dengan keinginan Sabit. Ketika melihat gadis bule dengan rambut pirang dan kulit putihnya menghampiri mereka, Langit tersenyum senang. Sudah lama sekali rasanya ia tidak bertemu dengan teman lama itu. Langit kenal gadis itu karena setiap bulannya ia akan menemani Opa untuk membeli tanaman terbaru di toko ini.

Wanita berambut pirang itu, dari kejauhan sudah memasang senyum ramahnya. Ia senang akhirnya bisa kembali bertemu dengan Langit setelah hampir 3 bulan lamanya Langit tidak berkunjung kemari. Opa nya juga sudah lama sekali tidak membeli tanaman terbaru dari tokonya.

"Hai, Long time no see, " Sapa wanita berambut pirang itu ketika sampai di hadapan mereka. Gadis itu sedikit melirik Ke arah Sabit, lalu kembali menatap Langit dengan tatapan seolah bertanya 'Siapa gadis yang kau bawa itu, teman? Pacarmu kah?'

"She is Sabita. And Sabita, She is Alice." Langit saling memperkenalkan dua wanita yang tidak saling mengenal itu.

Sabit memasang senyum ramah miliknya yang biasa ia haturkan ketika ia bertemu dengan orang baru. Sabit juga mengulurkan tangannya terlebih dahulu kepada wanita bule cantik di depannya. Hingga wanita Wanita bule yang Langit kenalkan dengan nama Alice menyambut senang tangan Sabit. Mereka berdua pun saling berjabatan tangan sebagai tanda perkenalan di antara keduanya.

"Oke, Need help?" Gadis itu kembali bertanya kepada Langit.

Sabit terus memperhatikan bagaimana Alice berbicara dengan lancarnya menggunakan bahasa asing. sepertinya gadis itu masih kurang fasih menggunakan bahasa indonesia. makanya, ia terus-terusan menggunakan bahasa asing yang memang sudah menjadi bahasa internasional untuk saling berinteraksi dengan orang-orang dari luar negeri.

"Sabita is looking for sunflowers, so, I asked you to wrap three sunflower plants for Sabita to take home." dengan fasihnya pula Langit menjelaskan apa yang mereka inginkan disini.

LANGIT SABIT (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang