BAGIAN 39 Kanada dan Quebec

25 4 0
                                        


Happy Reading

1 tahun kemudian…

Sudah setahun Langit meninggalkan Indonesia untuk mencari keberadaan Sabit di Kanada, namun selama setahun pencariannya, ia tak kunjung menemukan gadis itu, padahal, Langit sepertinya sudah menjelajahi semua kota yang ada di Kanada, tapi hasilnya nihil. Langit tak bisa menemukan keberadaan Sabit, bahkan untuk berpapasan jumpa layaknya pertemuan mereka di Jogja saja tak pernah terjadi di sini.

Kini, lelaki itu tengah merebahkan tubuhnya di kasur putih bersih di sebuah hotel di Quebec yang baru sebulan lalu ia huni. Quebec adalah kota terakhir yang akan ia jelajahi untuk mencari sosok gadis yang sangat ia harapkan keberadaannya. Langit sangat berharap besar di kota ini. Berharap ia akan menemukan Sabit disini.

Selama setahun disini, Langit benar-benar takjub dengan luasnya Negara ini. Kanada adalah negara terluas nomor dua setelah Russia. Makanya, ia beberapa menggerutu ketika tak ada satupun jejak Sabit yang bisa ia dapatkan disini, karena sangking luasnya Negara ini.

Pria itu sayup-sayup membuka matanya yang beberapa menit lalu terpejam. Ia menghembuskan napasnya sejenak. Sebelum akhirnya memilih bangkit karena ia merasa perutnya Sangat lapar sore ini. Perjalananya yang Panjang seharian ini membuat ia lupa untuk sekedar makan siang.

“Semoga ketemu ya, Bit. Semoga kota ini menjadi kota terakhir aku berkelana untuk menemukanmu.” Batin pria itu sebelum akhirnya bergegas pergi menuju restoran terdekat untuk mengisi perutnya yang terasa keroncongan.

Selama sebulan mulai mengenal jalanan Kota Quebec, membuat Langit mulai terbiasa. Ia sudah mulai menghapal setiap sudut kota yang lumayan luas ini, walaupun beberapa kali ia masih sering lupa. Dering di ponselnya membuat Langit menghentikan langkahnya. Ia merogoh kantong celana panjangnya untuk meraih ponselnya yang tersimpan disana. Nama Almyra tertera disana. Yah, setelah putusnya hubungan mereka, baik Almyra maupun Langit tetap memutuskan untuk menjadi teman. Dan selama Langit di Kanada, tak Jarang Almyra menanyakan apakah pria itu sudah menemukan Sabit atau belum.

Langit langsung menggeser layar ponselnya untuk menjawab panggilan telepon dari Almyra.

“Gimana? Udah ketemu?” Kata itu adalah kata yang yang menyambut Langit setelah sebulan mereka tidak berkabar.

“Belum,”  Terdengar helaan napas disebrang sana.

“Ini Kota terakhir, Al. Kalau semisal gue juga gak ketemu sama dia, mungkin emang udah takdirnya untuk gue dan Sabit gak bisa bersama. Mungkin semesta kecewa karena gue pernah membiarkan dia pergi.”

Sorot mata pria itu terlihat begitu putus asa sekali. Selama setahun, ia bahkan sudah tidak mengenali bagaimana ciri gadis itu. apakah rambutnya sudah memanjang atau lebih pendek. Langit hanya masih mengingat dengan jelas wajah gadis itu.

“Pelan-pelan aja,” sambut gadis disebrang sana mencoba meyakinkan Langit untuk tidak mudah menyerah.

Mata pria itu terus berkelana menatap sekitar. Berharap dapat berjumpa dengan gadis itu. ketika mata itu asik berkenala tiba-tiba saja matanya terfokus pada sosok gadis dengan rambut panjang bergelombang dan baju berwarna hitam serta sepatu boots yang juga senada dengan warna bajunya.

Sabit. Bisiknya di dalam hati.

“Al, Gue tutup dulu ya.”

Pria itu pun memutuskan panggilan teleponnya bersama Almyra secara sepihak. Bahkan ia tak begitu mendengarkan dengan jelas apa yang gadis itu katakan padanya. Karena matanya begitu fokus menatap gadis yang berdiri di sebrang sana. Ia pun langsung bergegas untuk menghampiri gadis itu, sembari memasukkan asal ponselnya ke dalam saku celana jeans hitam miliknya.

LANGIT SABIT (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang