Happy Reading
“Nih,” sosok pria yang menggunakan jas hitam senada dengan celananya itu menyodorkan hot coffee kepada Sabit.
Sabit pun menoleh ke arah pria itu dan menerima hot coffee yang diinginkannya. Lantas pria itu pun duduk di samping gadis itu. keduanya tampak saling diam, menikmati kopi yang sedang mereka pegang masing-masing.
Sabit meneguk kopi itu. lalu tatapannya menatap datar hamparan jalanan kota Quebec yang selalu ramai di penuhi dengan lalu lalang orang-orang. Namun, ramainya kota Quebec tak dapat menyaingi ramainya isi kepalanya.
“Itu dia?”
“Hah?” Sabit menolehkan kepalanya menatap laki-laki itu. ia tidak mengerti dengan maksud ucapan laki-laki itu.
“Laki-laki yang kamu temui tadi, itu dia kan?”
“Oh, iya.” Sahut Sabit menunduk sembari memain-mainkan cup kopi di tangannya.
“Want to go back to Indonesia?” suara pria itu membuat sabit kembali tersadar dari riuhnya isi kepala gadis itu.
“Nggak,” sanggahnya tidak membenarkan apa yang diucapkan laki-laki itu barusan.
“But, he come to meet you. You’re not happy? Isn’t this what you wanted all along?” ujar pria itu sembari menenggak kembali kopi panas miliknya.
Terdengar helaan napas yang cukup berat dari Sabit. Memang, selama ini ia berharap bahwa perasaannya tidak sendirian kepada Langit. Ia berharap Langit juga memiliki perasaan terhadapnya. Sesekali, Sabit juga berharap, ada satu masa dimana Langit datang untuk menemuinya di sini. Walaupun beberapa kali ia harus tertampar oleh kenyataan di mana Langit tidak memiliki perasaan kepadanya dan apa yang harus membuat pria itu datang menemuinya di sini.
Tapi hari ini, semesta seolah mempermainkannya. Harapan yang sudah berusaha Sabit kubur. Sebuah kenangan yang sudah berusaha Sabit lupakan malah justru menguar kembali karena keberadaan Langit di sini. Sabit Syok. Dia terkejut karena apa yang selama ini ia harapkan terjadi. Tapi… ketika sudah bertemu, hatinya tak tergerak untuk berlari dan memeluk tubuh pria yang selama setahun ini sangat ia rindukan. Hatinya mengatakan rindu tapi tubuhnya menolak itu semua. Seolah tubuhnya kembali mengingatkan Sabit perihnya penolakkan di masa itu.
“Nikah yuk, Mas,” Ajaknya diluar kendali pria itu. bahkan pria itu sempat tersedak kopi miliknya sendiri ketika ia dengan santainya menenggak kopi hitam panas miliknya.
“Jangan suka ngomong sembarangan. Selesaikan masalah kamu dengannya. Jangan buat diri kamu menyesal karena keputusan yang tidak sesuai dengan pilihanmu,” Ungkap pria itu memperingati Sabit.
“Dengarkan segala bentuk penjelasan darinya. Setelah itu silahkan pilih, tetap stay disini atau kamu pulang bersamanya dan pergi meninggalkan Kanada.” Ada nada sedih yang tersemat di sana. Sabit pun menoleh ke samping untuk menatap raut wajah pria itu.
“Terus, meninggalkan kamu dan Kanada? Itu bukan pilihan aku, Mas.” Jawabnya yang menatap ke atas Langit Kanada yang sudah mulai berubah menjadi malam.
“Mas Angga,” Panggil gadis itu masih dengan menatap ke atas.
“hmm,”
Pria yang bernama Angga itu hanya berdehem untuk menjawab panggilan dari gadis kecil yang selama setahun ini dia rawat. Gadis yang sejak pertama kali kehadirannya di sini, sudah ia jaga sesuai dengan perintah almarhum Papa dari gadis itu.
Yah, pria yang mengirim Email kepada Sabit setahun lalu adalah Angga. Ia sangat berusaha sekali mencari-cari jejak keberadaan gadis itu di Indonesia dengan bantuan sang teman yang ada di sana. Sembari Angga juga mencari-cari sesuatu yang ditinggalkan Papa gadis itu di sini. Siapa tau bisa jadi petunjuknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANGIT SABIT (Selesai)
Romansasebuah Rasa yang tak seharusnya ter-asah. Cover by : pinterest
