Happy Reading
Setelah pembicaraan yang begitu mendalam antara Opa dan Langit, kini keempatnya sudah duduk di sebuah ruang makan di dapaur yang memang biasanya menjadi tempat dimana mereka menyantap sarapan ataupun makan malam. kali ini mereka duduk sembari mencicipi rainbow cake yang tadi di buat oleh Sabit dan Pinka.
Kini Sabit juga sudah mengganti bajunya dengan Baju yang awalnya ia pakai sebelum ia memakai dress yang sangat membuatnya risih tersebut. Kini, pakaiannya sudah lebih nyaman untuknya.
Beberapa kali mereka tergelak ketika Opa mengeluarkan lelucon-lelucon random yang sebenarnya sangat-sangat tidak lucu. Tapi melihat bagaimana Opa tertawa lah yang membuat mereka juga ikut tertawa. Ternyata benar apa yang Langit ucapkan pada Sabit bahwa Opa adalah orang yang asik untuk diajak berbicara.
"Jadi Mas Langit bisa kenal Mbak Sabit karena Mas Langit yang nemuin Gelang sama rangkaian Jurnal Kit nya, Mbak Sabit?" Sabit mengangguk.
"Mbak Sabit kenapa harus selalu keren, sih!" celetuknya begitu iri dengan segala hal yang Sabit lakukan akan terasa keren dan luar biasa bagi Pinka.
"Mbak Sabit mau tau satu rahasia, gak?" ujarnya lagi yang memang Pinka adalah gadis yang cerewet dan supel. lihat saja bagaimana hari ini ia begitu banyak berbicara ketimbang yang lainnya.
"Apa?" Tanya Sabit yang begitu penasaran akan rahasia yang Pinka maksud.
"Cerita keempat aku bakalan aku selipin tentang Mbak Sabit." Ujar Pinka dengan senyum sumrigah.
Namun berbeda dengan respon Sabit dibuat melongo. Sepertinya ia masih berusaha mencerna apa yang Pinka katakana barusan. "Maksudnya?" tanyanya dengan kening yang mengkerut-kerut.
"Iya, Jadi setelah aku pikir-pikir. Di cerita keempat ini, aku mau nulis yang karakter wanitanya itu seperti Mbak Sabit. Handal dalam segala hal. Termasuk meyakinkan diri seseorang bahwa segalanya akan baik-baik saja."
Sabit mendengkus geli. "Nggak harus berlebihan gitu, Pinka. Tulislah sesuai apa yang kamu mau."
"Menulis tentang Mbak Sabit adalah hal yang aku mau," sahut gadis itu lebih ceria.
"Mau apaan, nih?"
"Kok tumben rame banget?"
Tiba-tiba suara seseorang mengintrupsi semua orang yang tengah duduk bersantai di meja makan. Yang paling terkejut adalah Langit. Pria itu lekas berdiri dari kursi tempat ia duduk dan dengan segara menghampiri sosok wanita dengan sebuah koper yang berada di tangan kananya.
Pinka pun tak kalah terkejut melihat keberadaan wanita itu. begitu juga dengan Sabit yang kebingungan. Karena ia tidak mengenal wanita yang dia yakini memiliki umur yang sepantaran dengan Langit. Pinka menoleh ke arah Opa dan Opa hanya mengangkat kedua bahunya bahwa hal itu di luar dari kendali Opa.
"Al, kok nggak ngabarin kalau kamu pulang. Kan aku bisa jemput kamu di bandara. Kesininya naik apa?" Langit Langsung menghantam gadis itu dengan beribu pertanyaan.
Almyra terkekeh setiap kali melihat Langit panik dengan runtutan pertanyaannya. "Aku udah nelpon kamu tadi, tapi telpon kamu ga aktif." Jelas si wanita.
Langit membuang napasnya. "HP aku lagi di Charger di kamar Pinka. Sorry." Sesal pria itu.
"No, it's Oke."
"Kenapa gak pulang ke rumah?" Langit jelas bertanya-tanya ketika gadis itu bukannya pulang ke rumah tapi malah membawa kopernya kerumah Opa.
"Emang gak boleh aku pulang ke sini? Aku juga mau ketemu Opa kali." Gadis itu langsung menyingkir dari hadapan Langit untuk memeluk pria paruh bayah yang tampaknya selalu sehat.
KAMU SEDANG MEMBACA
LANGIT SABIT (Selesai)
Romancesebuah Rasa yang tak seharusnya ter-asah. Cover by : pinterest
