25

2.3K 165 37
                                        

Member yang baru pulang dari acara variety show langsung masuk ke dorm. Tidak seperti biasanya yang masuk ke dalam diringi sebuah obrolan atau candaan. Kali ini mereka hanya diam sepanjang perjalanan, terutama Namjoon. Dia memilih diam jika tidak ditanya, dan terlihat raut sedih dari wajahnya yang membuat member merasa tidak enak dan bersalah. Mereka hanya berjalan di belakang Namjoon yang memimpin langkah mereka.

“Jin Hyung,” Jungkook memanggil pelan Seokjin yang berjalan di depannya.

Seokjin  menoleh. “Apa?” sahut Seokjin pelan.

Jungkook tidak menjawab dan hanya menunjuk Namjoon yang jalan ke arah kamar. Seokjin yang mengerti maksud sang maknae  memilih untuk mengajak Namjoon bicara.

“Namjoon, Bisa kita bicara sebentar?”

Pertanyaan Seokjin membuat Namjoon menghentikan langkahnya, lalu berbalik ke arahnya. “Bicara apa?” tanyanya tak semangat.

“Duduk dulu. Kita bicara sebentar,”ajak Seokjin, lalu berjalan ke ruang tengah dan duduk di sofa yang masih kosong di susul member lain yang duduk disampingnya, sementara Namjoon duduk di sofa single dengan lesu.

“Mau bicara apa. Hyung?” tanyanya seraya melihat member tertua dan yang lainnya.

“Kau marah?” tanya Seokjin.

“Marah kenapa?” 

“Kau pasti tahu kalau Jimin tidak salah sebut grup chat. BTS, bukan Bangtan.” 

“Ya … aku tahu, lalu apa salahnya? Itu kan hak kalian,” ujar Namjoon dengan senyuman datar.

“Kau tidak marah karena kami membuat chat lain tanpa sepengetahuanmu?” tanya Yoongi.

Namjoon tersenyum getir, lalu melihat lawan bicaranya. Tampak menyembunyikan kesedihan.

“Aku tidak akan marah karena itu hak kalian. Hanya saja … aku merasa sedih karena ternyata kalian sebenci itu padaku,” ia terkekeh sebentar, lalu melanjutkan ucapannya. “Aku terus mengirim pesan di grup Bangtan dengan harapan kalian membalas pesanku dan kita bisa mengobrol setelah itu di grup. Aku pikir kalian sibuk sampai tidak sempat membalas pesanku, ternyata … aku hanya sendirian di grup itu. Kalian meninggalkan ku sendirian,” ia kembali terkekeh, namun kali ini matanya berkaca-kaca.

“Seandainya kalian bilang tidak nyaman karena aku ada di grup Bangtan, aku pasti akan keluar agar kalian bisa mengobrol tanpa ada aku, dan aku bisa berkomunikasi dengan kalian melalui telepon dan mengirim pesan langsung ke nomor yang bersangkutan.” Imbuhnya.

Member hanya diam dengan perasaan bersalah. Mereka pikir Namjoon akan marah, tetapi tanggapannya malah membuat mereka tidak enak hati dan merasa bersalah.

“Sekarang aku tahu kalian punya grup lain, tapi aku tidak akan meninggalkan grup Bangtan. Ya … siapa tahu kalian ingin mengobrol denganku suatu saat nanti. Hanya saja, aku tidak akan mengirim pesan duluan karena percuma juga kalau tidak ditanggapi,” ujarnya lagi, lalu melihat member bergantian. “Ini hanya masalah sepele, jadi tidak perlu dibesar-besarkan. Jangan khawatir, aku tidak marah kok.” tambahnya.

Member hanya mengangguk saja.

“Apa masih ada yang mau dibicarakan?” tanya Namjoon.

Tidak ada,” sahut Hoseok.

Namjoon mengangguk. “Ya sudah, kalau begitu aku ke kamar dulu. Hari ini aku sangat lelah. Hati dan fisikku butuh istirahat, dan aku harap kalian tidak keberatan aku tinggal,”katanya dan berdiri sambil melihat anggotanya yang masih diam. “Kalian juga istirahat, ya. Jangan begadang karena tidak bagus untuk kesehatan,” pesannya dan pergi tanpa menunggu jawaban mereka.

Member memperhatikan sang leader yang berjalan dengan lesu dan kepala menunduk sampai masuk ke dalam kamar.

“Maaf karena sudah salah bilang grup,” tutur Jimin mengakui kesalahannya.

“Semua sudah terjadi, dan mungkin sudah saatnya dia tahu kalau kita membuat grup lain tanpa ada dia didalamnya,” sahut Taehyung.

“Lebih baik aku hapus saja grup BTS. Aku benar-benar tidak enak dengannya,” ujar Hoseok.

“Lebih baik begitu. Pakai saja grup Bangtan seperti sebelumnya,” sahut Seokjin yang disetujui oleh yang lain.

Hoseok mengambil ponselnya untuk menghapus grup chat BTS yang di buat. “Sudah ku hapus,”  ucap Hoseok dan member mengangguk menanggapinya.

Mereka hanya diam saja setelah Hoseok menghapus grup chat, sedangkan Namjoon di dalam kamar sudah berbaring dengan tangan kanan berada  di atas kedua matanya yang memejam. Perasaannya tidak bisa dijelaskan sampai air mata mengalir begitu saja dari sudut matanya. Dia menangis dengan caranya sendiri agar yang lain tidak tahu seberapa sakit hati dirinya atas sikap mereka.

Sementara itu, di Seokjin dan Yoongi yang sudah di dalam kamar duduk bersama dengan pikirannya. Suasana hening untuk sesaat sampai akhirnya pertanyaan Seokjin memecah keheningan itu.

“Selain persiapan konser, apa jadwal kita padat?” tanya Seokjin tanpa melihat Yoongi.

“Tidak, kita hanya fokus mempersiapkan konser yang tinggal 4 bulan lagi. Kenapa?” jawab Yoongi dengan bertanya balik.

“Namjoon, sudah saatnya kita bergerak mencari tahu apa yang terjadi dengannya. Anak itu, benar-benar pintar menyimpan rahasia,” jelas Seokjin yang masih curia leader bangtan menyimpan rahasia dari member.

“Kau benar Hyung, mau dipancing bagaimana pun, anak itu tetap tenang dengan rahasia- nya. Kemarin kita masih sibuk rekaman dan persiapan pembuatan Mv, tapi setelah ini harus kita cari tahu.” ujar Yoongi yang disetujui oleh Seokjin.

“Kau benar, Yoon. Mungkin dia leader dan memiliki IQ yang tinggi, tapi dia lupa kalau dia juga seorang adik di Bangtan, bahkan dia lupa kalau ada dua pengamat yang diam-diam memperhatikan,” ujar Seokjin dengan mengangkat salah satu alisnya.

“Besok, kita mulai bergerak, Hyung!” ajak Yoongi sambil melihat Seokjin.

Seokjin menoleh dan saling pandang dengan member berkulit pucat yang usianya tidak jauh untuk darinya. “Apa rencanamu?” tanya Seokjin.

Yoongi tersenyum, lalu membisikan rencananya ke telinga Seokjin.

“Aku setuju,” kata Seokjin dan keduanya tersenyum dengan rencana mereka.

BERSAMBUNG










I'm Okay. (Kim Namjoon) ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang