Lee Soraa hanyalah seorang manusia nolep yang bermimpi masuk ke dalam dunia isekai. Keinginannya terwujud, suatu hari Soraa mati karena asam lambung kronis dan memasuki tubuh seorang wanita di dunia lain seperti yang sudah di dambakannya.
"Dari ban...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah kembali ke rumah pengasingan, seluruh pelayan dan pengawal yang bertugas melayani dan menjaga Charlotte mulai heboh. Charlotte hanya berusaha menenangkan para bawahannya agar tidak membuat keributan. Mata Charlotte melirik ke arah Cyrus yang kini sudah kembali menyamar menjadi Alphen menggunakan rambut hitam juga kumis tipis.
"Nona, kami benar-benar khawatir!"
"Saya dan teman-teman langsung bergerak mengitari untuk mencari nona!"
"Saya dan para pengawal memohon agar anda mau ditemani oleh kami! Agar hal ini tidak terjadi dua kali!"
Jerit-jerit para kesatria yang bertugas menjaganya, seolah kehilangannya adalah kehilangan nyawa mereka. Charlotte hanya bisa menghela nafas panjang, memang benar jika ini semua adalah bentuk dari kecerobohannya.
"Maafkan aku, ini memang kesalahanku. Untuk kedepannya mohon bantuan kalian, para kesatria setia pengikut Duke Lewinsky."
Charlotte menepuk pundak ketua dari kesatria yang tengah tertunduk di lantai. Sang ketua mendongak kemudian langsung kembali menunduk patuh, sembari menggenggam tangannya di depan dada. Hal itu diikuti oleh yang lain.
Charlotte tersenyum tipis, "Ah, Carol suruh pelayan yang lain menyiapkan makanan dan hadiah untuk sir Cyr-- Alphen. Beliau sudah--"
"Tidak perlu. Aku tidak suka hadiah." Pria itu mulai keluar dari pintu dan menghilang begitu saja.
Charlotte bertanya-tanya mengapa sikap Cyrus mendadak kembali seperti semula dan bersikap dingin kepadanya.
"Nona? Perlu saya siapkan air hangat?"
Suara Carol memecah konsentrasi Charlotte ketika masih terpaku pada kepergian Cyrus. Gadis itu menoleh dan tersenyum kaku, "Ya, sepertinya aku ingin mandi lalu beristirahat."
"Ah, kalian kembalilah ke kamar masing-masing, maaf sudah membuat semuanya khawatir, dan terimakasih telah mengkhawatirkanku." Charlotte tersenyum sebelum akhirnya undur diri menaiki tangga menuju lantai atas kamarnya.
Semua pelayan dan kesatria di sana hanya memandang satu sama lain.
"Putri Charlotte benar-benar telah berubah?"
***
Charlotte merebahkan tubuhnya malas ke atas kasur berniat menunggu air hangatnya segera siap untuk mandi. Seluruh bagian tubuh Charlotte sakit dan lemas.
"Hai, kelinci."
Charlotte melotot dan segera terbangun dari tempat tidur, tatapan tak percaya terlontar pada seseorang yang tengah duduk bebas pada perbatasan jendela terbuka. Gadis itu tak percaya Cyrus datang dalam bentuk tubuh aslinya. Rambut panjang, pakaian bebas, senyum menyebalkan dan tingkah yang tak bisa ditebak.
"Mengapa menatapku begitu? Merindukanku, heh?" Senyum miring terpampang di sana dengan sombongnya.
Charlotte langsung menggeleng cepat.
"Kau berbeda..." Charlotte bergumam lemah.
"Benarkah? Apakah aku lebih tampan hingga kau tidak bisa mengalihkan pandangan dariku sedikitpun?" Cyrus mendekat dengan secepat kilat, mengangkat dagu Charlotte dan menggoda gadis itu.
Charlotte mengangguk tanpa sadar, tangannya bergerak menyentuh rambut panjang berwarna putih milik Cyrus. "Indah..." gumam Charlotte.
Cyrus meneguk ludahnya kasar, matanya tak berhenti terpana setelah mendengar Charlotte mengatakan hal tersebut, lalu Cyrus mengangkat sudut bibirnya, "Kau memang menyenangkan..." bisik pria itu tepat di telinga Charlotte.
Charlotte langsung tersadar dan segera mendorong dada bidang Cyrus. Pria itu langsung tertawa dengan bebas mengisi kekosongan kamar Charlotte. Charlotte langsung memberikan tatapan mata tajam.
"Kau menyebalkan!"
"Oh~ Apakah begitu sikapmu pada orang yang telah menyelamatkanmu? Yah~ kalau aku jadi kau sih, bakal peluk manja orangnya dan kasih ciuman manies~" ujar Cyrus mulai mengeluarkan akal bulusnya sambil tertawa tidak jelas.
Charlotte menggeleng pelan kemudian menatap lurus memancarkan keseriusan dari matanya, "Mengapa kau bersikap dingin kepadaku tadi? Kau juga berubah menjadi Alphen yang sudah tiada."
"Hei." Cyrus mengulum senyumnya dan melipat tangan di depan dada.
"Menurutmu ada berapa pengkhianat di dalam kesetiaan sumpah pada ayahmu? Kau bisa mati kapan saja dibawah pengawasan Putra Mahkota." Cyrus terkekeh ringan.
Sedangkan Charlotte tampak dilanda syok. "Apa?"
"Berhati-hatilah, kelinciku yang manis!" Cyrus langsung menghilang dari jendela kamar Charlotte. "Oh! Jika kau merindukanku, temuilah aku di telaga jauh dibelakang rumahmu."
Barulah pria itu akhirnya benar-benar pergi menghilang.
"Pria gila! Kau pasti berbohong." desis Charlotte dengan nada lemah di akhir.
Charlotte kembali mendudukan tubuhnya di atas kasur dengan lemah. Nafasnya memburu kuat, memikirkan kembali apa yang dikatakan oleh Cyrus. Kepala Charlotte langsung tertuju kepada ayahnya yang kini menduduki wilayah Lewind. Seharusnya tidak apa-apa tapi entah mengapa perasaannya tidak enak.
Charlotte menggeleng, menepis kenyataan yang mungkin hanya berasal dari overthinking-nya saja. Gadis itu bangkit dari kasus karena dirasa Carol cukup lama menyiapkan air hangat untuk mandi. Charlotte keluar dari kamar untuk mencari makanan, perutnya kosong belum diisi dari pagi.
Baru saja Charlotte menuruni setengah tangga, dia bisa mendengar obrolan orang-orang yang sedikit ribut.
"Ck, seharusnya Dia benar-benar hilang saja. Kalau seperti ini, kita tidak perlu repot-repot untuk membunuhnya."
"Sir Alphen juga sedikit mencurigakan membawa Putri Charlotte kembali."
"Tapi dari sikapnya, sepertinya dia hanya prajurit biasa yang ditugaskan untuk mengawasi Putri Charlotte. Sepertinya dia tidak diberikan misi yang sama dengan kita."
"Ya, besok lusa, kita harus menyelesaikan misi ini dengan cepat agar mendapatkan bayaran lebih."
"Ya, lebih cepat, lebih banyak. HAHAHAHAHAHA."
Langkah Charlotte berhenti di tangga dan mematung. Jantungnya seketika berhenti berdetak mendengar obrolan para pelayan dan penjaganya.
'Apa?'
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.