Berakhir Dalam Kesendirian

2K 159 8
                                        

Di dalam hidup ini, banyak ketentuan yang menjadi takdir kehidupan. Perihal keinginan mengusut pikiran, perihal rasa berusaha menetapkan pikiran. Tak ada yang bener-benar mengerti perihal itu, semuanya saling memerangi demi memperebutkan hati yang kian menyendu.

Mata seolah buta melihat  dalamnya luka yang dihunuskan, telinga seolah tuli mendengarkan rintihan ketidakberdayaan, dan pada akhirnya keputusasaan pemuncak segalanya.

Terlalu baik bila semesta mengusaikan semuanya tanpa ada yang berkorban. Hati yang rapuh tak akan luput dari kehancuran, harap yang ditunggu tak akan luput dari kekecewaan. Seakan tahu bahwa semuanya akan berakhir semu.

Usaha yang menjadi tumpuan berbalik tajam mengoyak harapan, tak ada yang bisa dipercaya sampai kehancuran mengukir luka, dan Candra mengalaminya tanpa ada yang tersisa.

Candra masih ingat berbagai tatapan mengulitinya, memperhatikan disetiap langkah yang ia seret susah payah, melontarkan kata-kata menghujaminya tanpa perasaan.

Candra menatap sendu kakinya, mengusap kedua lututnya, lalu bergerak turun memijit betisnya. Hal biasa Candra lakukan setiap pulang sekolah, kakinya selalu sakit jika terlalu lama berjalan.

Sejak kecil Candra bukanlah anaklah normal yang mempunyai fisik yang sempurna. Candra teringat ketika kakaknya sudah pandai berjalan ia baru bisa merangkak, sampai diumur tujuh tahun ia baru bisa berjalan walaupun harus menggunakan tongkat.

Candra bersyukur beberapa tahun belakang ini ia biasa berjalan tanpa bantuan tongkat. Meskipun begitu tak jarang orang-orang  mengejeknya karena kakinya terlihat pincang berjalan, membuatnya merasa kecil hati bila beriringan dengan kembarannya, Bagaskara.

Bagaskara sangat jauh berbeda dengannya, ia begitu sempurna di mata semua orang. Apalagi mempunyai otak yang pintar, baik akademik maupun non akademik merupakan bintang untuknya.

Entahlah, terkadang Candra iri dibuatnya. Bila dibandingkan dengan dirinya, Candra tetap di pandang sebelah mata. Tak akan ada yang bangga akan kehadirannya, cacat tetaplah cacat, dan nilai sempurna pun tak akan mampu menutupi kekurangannya.

Dirasa mendingan, Candra mengambil buku di meja belajar, membuka lembaran pelajaran. Tadi, sebelum keluar dari kerja papanya, ia menerima beberapa buku untuk dipelajari sebagai hukuman kecil.

Cklek

Pintu kamar di buka dari luar, menampilkan Bagaskara masuk ke dalam kamar. Berdecak kesal memperhatikan Candra duduk di meja belajar sambil memegang buku pelajaran.

“Adek, dari tadi orang nunggu turun makan malam di bawah, nggak keluar-keluar.” Bagaskara berjalan mengambil buku di tangan Candra. “Kita baru ngambil lapor, lo, Dek, dan besok kita libur semester, Dek! Apaan langsung belajar,” omel Bagaskara, menaruhnya ke rak buku di sebelah meja belajar.

Bagaskara tidak habis pikir melihat kelakuaan kembarannya, suka sekali belajar. Ia saja melihat banyaknya buku berjejeran sudah membuatnya mabuk pelajaran.

“Eh udah jam makan malam, ya?” tanya Candra bingung.

Bagaskara yang gemas menguyel-uyel pipi Candra. “Makanya jangan baca buku mulu, coba sesekali lihat jam.”

“Udah, Kak.” Candra melepaskan tangan kembarannya. Beralih pandang ke jam dinding di belakangnya. Ternyata benar sekarang sudah hampir jam delapan malam. 

“Ayok, nanti keburu lewat jam makan malamnya.” Bagaskara merangkul Candra dengan semangat.

“Ughh,” lenguh Candra, ketika kakinya dipaksa berjalan cepat mengimbangi langkah Bagaskara.

Bagaskara mendengarnya langsung berhenti berjalan, beralih memperhatikan Candra yang tampak kesakitan. “Sorry, Kakak lupa. Masih sakit? Kita makannya di kamar aja, ya?” Bagaskara berjongkok memijit betis Candra.

Different Blessings [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang