Tak Ada Tempat Aman

1K 89 21
                                        

Setiap manusia lahir ke atas  dunia ibaratkan kertas putih tanpa noda, suci tanpa dosa, polos dan lemah. masa pertumbuhan akan diwarnai oleh kenangan, membentuk jiwa semasa dalam pengasuhan, dan menjadi seorang yang berbeda dengan manusia lainnya.

Baik dan buruk hanyalah penilaian, karena sejatinya tercipta oleh luka yang diterima, menjadi pembelajaran bahwa setiap jiwa tak akan lepas dari kesalahan.

Candra semakin diam setelah kejadian menyakitkan itu, bahkan kehadirannya hanyalah bayangan di tengah keluarganya berusaha menyemangati Bagaskara yang terpuruk.

Candra merasa sangat bersalah telah menghancurkan impian kembarannya, karena dari dulu kembarannya sangat suka bermain basket, dan ketika batu lompatan sudah di depan mata, ia yang menyebabkan kaki Bagaskara patah, dan membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk bisa membuatnya seperti semula.

Bagaskara berubah semenjak kejadian itu, sering melamun, dan tak mau lagi berbicara kepadanya. Tak sepertinya dulu, yang begitu aktif dan bersemangat menjalani harinya.

Candra menatap Bagaskara dari kejahuan, ini hari pertama kembarannya itu masuk sekolah setelah beberapa minggu beristirahat.
Banyak teman-teman Bagaskara mengerubuni bangkunya, mereka prihatin dengannya yang menggunakan kursi  roda, apalagi Bagaskara tampak murung.

“Semangat, Gas. Jangan khawatir, lo pasti bisa main basket lagi kok. Kesempatan mengikuti pertandingan selanjutnya masih panjang.”

“Benar, tuh. Masa kapten basket kita langsung lemah. Anggap aja, rejeki lo untuk pertandingan yang akan datang.”

Ucapan semangat di sekeliling Bagaskara menarik senyum kecil di birbirnya, mengangguk mengiyakannya, walaupun di hatinya masih belum menerima keadaan menimpanya. Ia bahkan sudah jauh hari mempersiapkan pertandingan itu, tapi semuanya hancur begitu saja.

Tak sengaja matanya melihat ke arah pintu, beradu pandang dengan Candra yang tertangkap basah mengintip disana. Ada rasa kesal melihat kembarannya itu, rasanya menyesal menyelamatkan Candra dari tabrakan yang merenggut geraknya.

Bagaskara membuang muka, selalu saja Candra memperburuk mood-nya. Tidak di rumah, tidak di sekolah membuatnya muak melihat muka melas itu.

Candra yang menyadarinya langsung bersembunyi di dinding, tapi lagi-lagi nasib tak berpihak padanya, ia berhadapan dengan salah satu anggota basket yang mau ke kelas Bagaskara. Dari mata mereka tergambar jelas tidak ada yang suka dengannya.

“Ada anak cacat, nih,” ucap salah satu dari mereka, mengundang perhatian orang-orang di dalam kelas.

Melihat suasana tak bersahabat, Candra melangkahkan kakinya hati-hati agar mudah menyeimbangkan tubuhnya.
Tampaknya mereka tak membiarkan Candra pergi begitu saja, dengan mudahnya mendorong tubuh yang tak bisa berdiri normal itu ke dalam, hingga membuatnya jatuh di depan bangku Bagaskara.

“Eh, jatuh. Padahal niat kami baik, loh, bantu masuk ke dalam.”

Mereka terkekeh melihat Candra berusaha berdiri, menatap sekelilingnya yang seolah mengejeknya.  Ia merasa sedang dipermainkan oleh mereka, ditambah Bagaskara hanya diam saja, membuat perlakuan mereka menjadi-jadi.

“Ngapain anak cacat ini kesini, mau memastikan Bagaskara nggak bisa ikut pertandingan, ya?” tuduh teman cewek Bagaskara.  

Candra menggeleng cepat, belum sempat ia meluruskan kejadiannya, tuturan di sebelahnya membuatnya terdiam.

“Lo jahat banget, ya, sampai membuat Bagaskara nggak bisa ikut pertandingan. Lo udah cacat jangan ajak-ajak Bagaskara, dong! Untung patahnya bisa sembuh, nggak kayak lo cacat sampai hati!” geramnya.

Different Blessings [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang