Janji adalah sebuah ikatan manusia. Dimana sebuah kehidupan saling mengikat pada kesepakatan yang akan dijalani.
Saling memberikan kepercayaan, dan bergantung pada hutang yang terikrar. Hanya satu harapan, tak ada kekecewaan saat kata-kata itu diucapkan.
Ketika dijalani dengan suka dan duka, banyak tantangan menggoyahkan keteguhan jiwa, kepercayaan memudar, dan ketidakterimaan pengorbanan yang harus dibayar mahal.
Mata yang seharian penuh itu terbuka perlahan, membuat mereka yang berada di dalam bernapas lega melihat kedutan mata itu membuka.
Welly senantiasa memegang tangan anak sulungnya, menciumnya berulang kali. Radit tak kalah senang, ia mengusap surai Sang Anak sembari mengucapkan syukur.
Indra dan Welly yang melihatnya mendekati brangkar, mereka tak peduli posisi Welly yang tergeser akibat desakan mereka.
Saat mata Bagaskara terbuka sempurna, senyuman lega keluarganya menjadi pemandangan pertamanya. Ia berusaha tersenyum di balik masker oksigen, membalas genggaman tangan oma dan opanya. Ia kembali menutup matanya merasakan keningnya cium oleh ayahnya. Sangat manis, bahkan setiap perlakuan mereka membuatnya merasa nyaman.
Tapi rasanya ada yang kurang, ia baru ingat kenapa ia berakhir di sini. membuka matanya kembali, meliarkan pandangan, ternyata mamanya tak jauh darinya. "M-ma ...."
Welly merasa terpanggil dengan lirihan Bagaskara, berusaha mendekat walaupun tatapan tak suka kedua mertuanya, membuat mereka mau tak mau memberi ruang.
Welly tersenyum dengan air mata berjatuhan, menggenggam lembut tangan Bagaskara, apalagi saat balasan genggaman itu terasa lemah.
"Iya, Nak. Ada yang sakit?"
Bagaskara berusaha menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku, tapi setiap kali berusaha menggerakkan kakinya ada yang aneh.
"Jangan banyak gerak," ucap Radit khawatir apalagi gips di kaki anaknya ikut berubah posisi.
Bagaskara histeris merasakan kakinya sakit, apalagi melihat balutan gips tebal menutupinya.
"Kenapa dengan kakiku?" tanyanya dengan panik. Bahkan ia tidak ingat lagi mau menanyakan keadaan kembarannya.
Radit dan Pita menahan paha dan betis Bagaskara agar tidak bergerak. Radit berusaha mengunci pandangan Sang Anak untuk tidak melihatnya. Welly mengusap dada yang kembang kempis itu agar tetap tenang.
"Hanya sementara, Nak. Kamu hanya butuh istirahat. Pasti akan sembuh," tutur Radit.
Banyak harapan yang Bagaskara pupuk dengan kakinya itu, bahkan ia berusaha menyangkal hanya terkilir biasa. Tapi, rasanya tak bisa bergerak leluasa.
Bagaskara begitu tak tenang, mengingat sebentar lagi ia akan mengikuti pertandingan basket antar sekolah.
Mereka yang di dalam berusaha menenangkan Bagaskara yang menangis keras. Pita dan Indra berusaha menenangkannya, mengusap wajah pucat Sang Cucu yang basah.
Radit sibuk memencet nurse call agar segera mendapat penanganan. Sementara Welly hanya terdiam dengan perasaan kalut melihat Bagaskara bernapas memburu.
Tak membutuhkan waktu yang lama Dokter datang bersama beberapa perawat dengan langkah tergesa-gesa. Meminta keluarga pasien untuk keluar agar tidak menganggu penanganan.
Mereka dengan berat hati keluar, dan pandangan terakhir saat Dokter menyuntikkan penenang ke Bagaskara yang menangis histeris.
Mereka sangat tidak tega dengan kondisi Bagaskara seperti ini, tak pernah mereka melihatnya sesakit ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Different Blessings [TERBIT]
Novela JuvenilSebuah kisah dibalut luka. Tentang lara dihantam kelabu, tentang hati dikuasai pilu, hingga berakhir penyesalan tak berlalu. Lahir dengan bentuk yang sama dengan jalan takdir berbeda. Si sempurna pembawa kebanggaan, si cacat merumpangkan kebahagiaa...
![Different Blessings [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/288578803-64-k417335.jpg)