Tak Ada Yang Mau Menerima Luka

748 66 7
                                        

Tuhan menciptakan dunia untuk setiap jiwa menapakkan raganya, memberikan kehidupan, mengarahkan kepada takdir yang telah ditentukan. Sementara manusia menjalankan takdir yang telah ditentukan. Semuanya tak akan sama karena setiap hati mempunyai tempat pulangnya, sementara raga mengikuti alur yang telah dipilih.

Satu persatu rahasia akan terungkap, mengapa setiap kehidupan mempunyai nasibnya tersendiri, bahkan dua jiwa ditempatkan pada rahim yang sama sekalipun, akan membawa kehidupan berbeda dari saudaranya yang lain.

Tak ada yang menjamin semuanya akan baik-baik saja, tak ada yang bisa memastikan mereka tetap bersama, suka dan duka, tangis dan tawa, selalu mengimbangi setiap kehidupan manusia.

Semuanya seolah memiliki tabirnya sendiri, selangkah demi selangkah akan terungkap mengapa ia lahir keatas dunia.

Candra menatap lurus lapangan, banyak pertanyaan di benaknya. Papa dan Mama memperlakukannya berbeda dengan Bagaskara, dan perubahan mereka membatasi ia dan Bagas berinteraksi dengan Om Kenzie.

Hari ini Candra pulang lebih lambat dari biasanya, karena ia ingin melihat Bagaskara latihan Basket untuk  persiapan pertandingan antar sekolah beberapa minggu lagi.

Jujur Candra sangat bangga dengan kembarannya itu. Dari kecil sampai sekarang banyak penghargaan mengharumkan, tak hanya Mama dan Papa saja yang bangga, pihak sekolah pun begitu salut dengan  kepintarannya itu, baik akademik maupun non akademik.

Terkadang tanpa sadar terbesit rasa iri di hati Candra karena tak bisa mengimbangi kepintaran Bagaskara. Tapi, ia tetap mendukungnya tanpa menghalangi usaha Sang Kembaran meraih prestasi.

Candra berdecak kagum melihat betapa lihainya Bagaskara memasukkan bola ke ring. Kaki panjang itu tampak gesit menghindari lawan, sungguh mereka yang berada disana besorak setiap bola masuk mencetak poin. Senyum manis Sang Kembaran begitu mengembang ketika poin lebih unggul dari tim lawan.

Candra langsung mengeluarkan sebotol air putih dari tasnya saat Bagaskara berjalan ke arahnya, lalu memberikannya dengan wajah riang.

“Hebat banget, Kakak.”

Bagaskara tersenyum lebar menerima air pemberian Candra, meneguknya rakus sampai tak tersisa. “Kakak gitu loh,” narsisnya, meletakkan botol minum di sampingnya.

Tak sengaja Bagaskara melihat jam tangannya, ia menghembuskan napasnya lelah. “Dek, yok kita pulang. Udah mau magrib, nih.”

Candra mengangguk, berdiri dibantu Bagaskara. Tepat mereka semakin mendekati gerbang sekolah, sopir yang ditugaskan menjemput mereka sudah stand by disana. Mereka dengan langkah santai memasukinya.

Di dalam perjalanan mereka tak kehabisan cerita menemani perjalanan mereka, Candra mulai terbuka dengan bercerita dengan kegiatannya selama di sekolah. Tentu direspon baik oleh Bagaskara, hingga tak terasa mobil yang membawa mereka memasuki area mansion.

Mereka keluar dengan wajah ceria walaupun tengah merasa lelah dengan kegiatan sekolah. Namun senyum mereka perlahan luntur mendengar keributan di dalam, tak hanya suara Papa dan Mama, suara asing turut jelas di rungu mereka.  

Mereka terdiam di sebalik dinding menyaksikan perdebatan tiga orang dewasa di ruangan tamu. Bahkan mereka bersitegang satu sama lain.

Mama mereka tampak gemetaran menatap orang tak asing dihadapannya, begitu juga dengan Sang Papa berusaha menahan emosi di tengah panasnya suasana.

“KAU MAU APA KESINI, HAH?!” Wajah Welly merah padam dengan teriakan menggegelegar meluapkan emosinya.
Radit disebelahnya berusaha tenang, mengusap punggung sempit Sang Istri yang naik turun.

Kenzie menatap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menatap pasangan itu dengan sorot tak bisa diartikan. Lalu sorot matanya memandangi foto yang terpajang di dinding. “Ramah sekali kalian menyambutku sebagai tamu.”

Different Blessings [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang