Dunia ini memiliki dua sisi yang berbeda, menjadikannya sebuah taraf dalam menjalani kehidupan manusia.
Keduanya saling berperang menonjolkan eksistensinya, menguasai semua pandangan melihatnya.
Semuanya akan memperlakukannya sebagaimana nilai yang diberikan, lewat pandangan yang berbeda-beda, baik yang menghakimi maupun memberikan rasa aman. Namun, ada kalanya satu penilain tertuju pada kesalahan, hingga tak memberinya ruang membela dirinya sendiri.
Candra menatap gentar tubuh Bagaskara di tengah jalan, rasa takutnya mengalahkan sakit kepalanya yang membentur sisi jalan. Tubuhnya menjadi membeku melihat tidak ada pergerakan Bagaskara di tengah Mama menangis keras.
Papa berusaha menghentikan pendarahan di tubuh Si Sulung, walaupun tangannya bergetar sedari tadi. Sementara Kenzie sibuk menghubungi ambulance.
Candra berusaha merangkak mendekati tubuh kembarannya, namun sepasang kaki panjang menghalanginya, dan ketika ia mendongak kilatan mata Kenzie menghunuskan kebencian kepadanya. Tanpa perasaan, orang itu mendorongnya dengan kasar membuat tubuh kurusnya terhuyung kebelakang.
“Jangan mendekat!”
Candra menatap nanar Kenzie yang tanpa perasaan mengakatan itu. Air matanya semakin deras membasahi pipi ketika matanya beradu pandang dengan Papa yang menatap dingin.
Tak lama setelah itu datang tenaga medis membawa tubuh Bagaskara yang bersimbah darah ke dalam mobil putih untuk diberikan pertolongan pertama. Mama dan Papa masuk ke dalam dengan tangisan.
Kenzie yang tak bisa masuk, memutar langkah memasuki mobilnya mengikuti ambulance, tak peduli dengan kondisi Candra tak baik-baik saja di pinggir jalan.
Tinggallah Candra sendirian, kakinya serasa jeli untuk sekedar melangkah pelan, menatap sendu dua mobil yang semakin hilang dari pandangan.
Dengan langkah lemah Candra mencari tumpangan yang bisa membawanya ke rumah sakit. Beruntung, tak jauh dari sana sebuah taksi lewat, ia memberhentikannya dengan penampilan berantakan.
Supir Taksi yang merasa kasihan mempersilahkannya masuk, menancap gas sesuai tujuan Candra, beruntung anak itu sempat mendengar nama rumah sakit mana Bagaskara dibawa.
Selama diperjalanan Candra begitu gusar bahkan tubuhnya gemetar hebat. Supir Taksi yang di depan curi-curi pandang dari kaca. Ia melihat anak itu terlihat memprihatinkan.
Sesampainya di rumah sakit pun Candra keluar sempoyongan, Sang Supir sempat menawarkannya memapahnya sampai ke dalam, tapi anak itu menolaknya dengan halus.
Langkah lemas Candra langsung mengarah ke ruangan UGD, benar saja, ketika ia semakin dekat ia mendengar tangisan Mama di pelukan Papa. Kenzie yang tak jauh dari sana, hanya bisa menatap lurus pintu UGD yang masih tertutup rapat. Di tengah suasana kacau ia mendekati mereka dengan keberanian yang tersisa.
Welly yang menyadari keberadaan Candra pertama kali, melepaskan pelukan Radit, berdiri dan berjalan cepat mendekatinya.
PLAK
Tamparan kuat Welly membekas merah di pipi pucat Candra. Anak itu hampir terjatuh jika tidak ada dinding menahannya. Tubuhnya belum siap berdiri, disentak kasar dengan pukulan dada tanpa jeda.
“Anak pembawa sial! Kenapa anakku yang harus menerima kesialanmu, hah?!” makinya, tangisnya menjadi-jadi menatap Candra.
Tubuh Welly meluruh dengan tangisan tak pernah reda. “Kenapa harus Bagaskara? Kenapa bukan kamu saja yang di dalam?”
Pertanyaan menyayat hati itu terus Welly gumamkan disela tangisnya, tak jauh berbeda dengan Candra yang hanya diam dalam tangisnya.
Radit melihat istrinya yang begitu syok, membawanya duduk di kursi tunggu tanpa memperdulikan Candra yang pucat pasih, begitu juga dengan Knzie yang acuh tak acuh di sebelahnya.
Tak lama setelah itu suster keluar. “Adakah disini yang sama dengan golongan darah pasien? Pasien membutuhkan golongan Darah AB-.”
Mata Radit dan Welly langsung tertuju ke Candra yang membisu, hanya anak itu yang sama golongan darahnya dengan Bagaskara.
Si Empu yang peka maju ke depan. “Saya, Sus.”
Suster memperhatikan Candra dari atas sampai bawah, menggeleng singkat. “Sepertinya Adik tidak bisa. Tampaknya kondisi Adik tidak memungkinkan untuk menjadi pendonor darah,” tolaknya dengan pertimbangan melihat wajah pucat Candra.
“Saat ini pasien kekurangan darah akibat pendarahan hebat, stok darah AB- sedang kosong. Jika ada golongan yang sama nanti, tolong hubungi kami secepatnya, kami juga dalam upaya mencari stok darah yang sama di rumah sakit lain.”
Setelah mengatakan itu, suster pamit melanjutkan tugasnya ke dalam. Kenzie yang sedari tadi diam berdiri di hadapan Welly dan Radit yang tercenung setelah menghubungi kenalan mereka yang tidak mendapatkan hasil.
“Saya bisa menyelamatkan Bagakaskara ….”
Radit dan Welly langsung menatap Kenzie. Namun sinar mata mereka redup mendengar perkataan selanjutnya.
“Tapi ada satu syarat … hak asuh Bagaskara jatuh kepada saya.”
Welly menggeleng tidak setuju, bersama tetesan berserakan. “Apakah itu penting sekarang? Anakku … anakmu sedang sekarat.”
Kenzie seolah tak mengindahkan perkataan Welly. Ia tetap keras dengan keinginannya. “Penting atau tidaknya, saya tetap menginginkannya.”
Radit meradang dengan ucapan Kenzie yang tak melihat situasi, saat ingin menghajar lelaki itu Welly memegang tangannya erat mengkodenya untuk tetap diam.
Tiba-tiba suster kembali keluar dengan wajah tegang. “Apakah belum ada golongan darah yang cocok? Pasien sekarang kritis, kapan saja kita bisa saja kehilangannya jika tidak mendapat tranfusi darah cepat.”
Kenzie tersenyum kecil melihat keadaan berpihak kepadanya. “Iya atau tidak?” tekannya.
Welly dan radit saling memandang dengan hati yang berat, apalagi suster mendesak mereka pada keputusan yang tak ingin mereka ambil.
Dengan perasaan hancur Welly mengangguk patah-patah tanpa bisa dihalangi Radit yang tak ikhklas.
Kenzie yang mendapat persetujuan tersenyum lebar, dan mengatakan kepada suster ia yang akan menjadi pendonor. Ia mengikuti suster untuk melakukan prosedur untuk mendonorkan darah, meninggalkan tangisan menyakitkan keluarga kecil yang sudah ia hancurkan keharmonisannya.
Welly terisak-isak dengan keputusan ia ambil, bahkan ia tak bisa memilih untuk mempertahankan Bagaskara untuk tetap disisinya.
Radit hanya bisa menarik-narik kepalanya, berusaha menyangkal ia akan kehilangan anak sulungnya. Air matanya jatuh tanpa bisa dikendalikan.
Welly menarik atensi Candra yang menyaksikannya sedari tadi, langkahnya melebar, menampar Candra tanpa ampun hingga membuat anak itu jatuh tersungkur kelantai yang dingin.
“SEMUANYA GARA-GARA KAMU! ANAKKU … ANAKKU HARUS KULEPAS KARENA KESIALANMU.”
Meraung-raung meluapkan sesak di dadanya. “Kenapa harus saya melahirkanmu … apa dosaku, Tuhan, sampai kau berikan aku anak sepertinya?” Menepuk-nepuk dadanya berulangkali, memaki Candra.
Radit seakan tidak peduli apa yang dilakukan Welly kepada Candra, ia terus dihantui rasa kehilangan anak yang ia banggakan.
Candra tak bisa membela dirinya, bahkan membiarkan Mama menambah sakit di tubuhnya, karena ia sadar, semenjak ia lahir ke atas dunia, tak satupun kebahagian ia bawa. Ia hanya anak membawa petaka untuk keluarganya, dan tak tau malunya, ia berharap mereka menerimanya seperti Bagaskara di tengah badai kehancuran yang ia bawa.
TBC
Candra diam aja tetap salah:(
Semoga kuat, ya, kalian baca part nanti:)
Jika kalian suka, silahkan tinggalkan jejak 🥰
Salam Manis Popon
KAMU SEDANG MEMBACA
Different Blessings [TERBIT]
Ficțiune adolescențiSebuah kisah dibalut luka. Tentang lara dihantam kelabu, tentang hati dikuasai pilu, hingga berakhir penyesalan tak berlalu. Lahir dengan bentuk yang sama dengan jalan takdir berbeda. Si sempurna pembawa kebanggaan, si cacat merumpangkan kebahagiaa...
![Different Blessings [TERBIT]](https://img.wattpad.com/cover/288578803-64-k417335.jpg)