Peluklah Aku Dalam Kedamaian

1.8K 129 48
                                        

Tuhan memberikan jiwa kepada raga untuk mengisi kekosongan hidup manusia, takdir yang menjadi ketetapan yang dipilih, dan semesta menjadi alur cerita.

Pasang surut kehidupan adalah bagian permainan semesta, terombang-ambing dalam rentetan peristiwa, menggoyahkan semangat hidup manusia.

Tak ada yang membantunya, termasuk keluarga yang melindunginya dari kejamnya dunia bekerja.

Yang punya kuasa akan semena-mena, yang lemah akan menjadi bahan olok-olokan tajamnya lidah.

Rasanya hari ini Candra gugup. Hari ini adalah hari penerimaan rapor setelah dua minggu lebih menyelesaikan ujian.

Pagi-pagi sekali Candra sudah mulai bersiap ke sekolah, baju seragamnya telah rapi, tinggal ia menuju meja makan untuk sarapan pagi.

Dengan langkah kecilnya, Candra berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Semakin mendekati tujuan, tatapan tak suka memandangi cara berjalannya yang aneh. Semua anggota keluarganya sudah duduk di bangku masing-masing.

Candra dengan gerakan hati-hati menggeser kursi untuk memudahkannya duduk, mereka kembali sibuk dengan suapan ke mulut mereka, tanpa peduli Candra yang baru datang.

Candra tetap tersenyum, sudah biasa baginya. Ia mengambil nasi dan lauk pauk ke piring, walaupun kesusahan dan sedikit berantakan ia berusaha tidak mengacaukan hari yang penting ini.

Radit dan Welly memilih acuh, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Lain halnya Pita dan Indra berdecih memperhatikan bagaimana anak itu mengambil sarapannya.

"Kamu ini udah besar, loh. Masa aja berantakan ngambil makanan. Mubajir banget nasinya pada tumpah-tumpah," ucap Pita sinis.

Tak

Indra meletakkan sendoknya dengan kasar, menatap geram meja sebelah Candra yang berantakan.

"Seharusnya, kalau kamu nggak becus dalam hal apapun, minimal jangan menyusahkan orang lain." Indra mengambil cepat sendok nasi di tangan Candra, lalu memasukkannya dengan porsi asal. Ia sangat muak melihat tangan anak itu gemetaran untuk sekedar memegang benda ringan.

Candra bukannya sakit hati mendengarnya, malah senang dibantu mengambil makanan.

"Terimakasih, Opa," ucapnya dengan riang.

Pita memutar matanya malas. "Jangan cuma bilang terimakasih aja, usaha dong biar nggak nyusahin orang lain terus," sarkasnya.

Candra mengangguk semangat. "Aku janji ini untuk terakhir kalinya menyusahkan kalian."

Mereka yang mendengar jawaban Candra merasa ada aneh, termasuk Radit dan Welly menatap anak itu yang tampak berbeda. Bahkan tatapan itu terlihat redup walaupun tengah tersenyum lebar.

Radit meneguk air sampai tandas. "Cepatlah habiskan sarapanmu, Ayah nggak mau penerimaan rapor nanti telat."

Ucapan Radit menarik atensi mereka, baru mengetahui hari ini adalah hari yang penting.

"Wah, kok kamu baru bilang, Dit," protes Pita.

"Berarti Bagaskara juga dong," timpal Indra semangat.

Radit menghela napas. "Lupa, saking banyaknya masalah," jawabnya membuat Candra merasa tersindir.

"Wah, pasti cucuku itu dapat juara umum lagi," ucap Indra bangga.

"Pasti itu, Mas. Secarakan Bagaskara hebat dalam segal hal, nggak pernah buat kita malu, apalagi menyusahkan."

Candra berusaha sabar perkataan-perkataan yang berbanding terbalik jika itu dirinya. Ia mengalihkan perhatian dengan memakan sarapannya sampai habis.

Different Blessings [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang