Cacat Tetaplah Dibuang

1K 98 31
                                        

Hidup ini terkadang bercanda dengan rumitnya semesta. Memberikan harapan dan cinta, melingkupinya dengan kasih sayang. Namun disaat semua itu terajut indah, sebuah luka menggores disepanjang kehidupan manusia.

Walaupun ikatan janji mengukuhkan jiwa, akan putus oleh badai penuh kesah. Hanya sakit yang terasa, hanya kecewa yang teringat, bahkan tanpa mempedulikan hati yang diciptakan untuk bahagia.

Tak sekalipun niatan Radit dan Welly memperhatikan Candra yang berdiri lemas di pintu. Mereka sibuk dengan pikiran berkecamuk memperhatikan Bagaskara yang masih belum sadarkan diri.

Satu harian penuh mereka terombang-ambing kekalutan, walaupun Dokter mengatakan  Bagaskara sudah melewati masa kritisnya. Mereka terus dikuasai akan kehilangan, takut bila Bagaskara sembuh nanti, Kenzie akan membawanya pergi dari hidup mereka.

Radit duduk di bangku sebelah ranjang, matanya memerah menatap Bagaskara yang terlelap damai. Dari mulai dalam kandungan sampai anaknya ini tumbuh sebesar ini, tak sekalipun ia melewatkan moment bersamanya.

Radit menerimanya dengan sukacita, menjalankan peran orang tua semestinya. Tapi, ketika ia bahagia dengan itu semua, tiba-tiba orang yang mencampakkan anaknya kembali meminta hak yang tak pernah tunaikan kewajibannya.

Radit tentu tidak terima, karena ialah yang menyaksikan tumbuh kembang Bagaskara, dan mengisi peran kosong sebagai  Sang Ayah.

Tak jauh berbeda dengan Welly. Matanya membengkak saking lamanya menangis, air matanya tak pernah surut melihat Bagaskara terbaring lemah di ranjang pesakitan.

Dari dulu Welly selalu memastikan Bagaskara tak pernah merasa kekurangan, dan baik-baik saja. Tapi, karena Candra membuat Bagaskara harus merasakan sakit.

Tidak itu saja, kebahagiaan keluarga yang berusaha Welly bangun dengan hadirnya Bagaskara, terancam hancur akan kehilangannya. Hanya Bagaskara kunci kebahagiaan mereka.

Tiba-tiba saja pintu ruangan dibuka kasar dari luar, diikuti langkah cepat dua orang paruh baya dengan wajah khawatir. Membuat Candra yang semulanya berdiri di sana jatuh akibat hantaman pintu.

"Kenapa bisa terjadi?" tanya Pita, mengusap kepala Bagaskara.

Begitu juga dengan Indra memperhatikan keadaan cucu kesayangannya. Mereka meringis melihat kanan Bagaskara di gips dengan posisi tinggi.

Welly diam tak tahu harus menjawab apa. Karena ia selalu salah di mata mereka, lebih-lebih dengan keadaan sekarang.

Radit menghela napas lelah, kemudian menatap Candra yang berusaha berdiri "Seharusnya ini tidak terjadi jika anak itu tidak menyebrangi jalan," ucapnya, seolah menyalahkan Candra yang semakin tersudutkan.

Radit tak memikirkan perkataannya memantik amarah kedua orang tuanya yang dari dulu tidak menyukai kehadiran Candra.

Indra dan Pita langsung melihat Candra yang semakin menunduk. Mereka menatap tajam, belum sempat mereka berkata kasar, Kenzie datang bersama surat pengadilan di tangannya.

Setiap langkah lebar itu mendekati mereka, semakin mencekik Radit dan Welly. Kenzie tersenyum penuh kemenangan dengan keadaan menguntungkannya, tak sia-sia ia mengurus surat hak asuh jauh-jauh hari.

"Wah, semuanya sedang berkumpul disini rupanya. Tepat sekali langkahku kemari," ucapnya santai.

Indra dan Pita memandang aneh
laki-laki yang tak mereka kenal. Berbeda dengan Radit dan Welly yang bertambah tegang dengan lembaran kertas di tangan Kenzie.

"Siapa kamu?" tanya Indra.

Kenzie tersenyum miring, menatap Welly dan Radit yang semakin tak berdaya. "Saya adalah orang yang mempunyai hak atas Bagaskara."

Different Blessings [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang