Ekstra Part

1.6K 103 5
                                        

Jauh sebelum manusia lahir ke atas dunia, tajamnya pena telah menuliskan kisah, kisah dimana menjalankan ketentuan atas takdir yang dipilih.

Baik buruknya manusia tak lepas dari ujian kehidupan. Satu persatu mengambil alih permainan, mengarahkan pada dua pilihan, hingga pada keputusan yang dipilih menjadi ketetapan yang tak bisa diubah.

Manusia seolah ditempatkan pada panggung sandiwara, dipaksa menampilkan terbaik, dan yang tak bisa mengambil hati akan disingkirkan oleh kejamnya lisan.

Radit hanya bisa meratapi nasib, setelah menghardik takdir yang menempatkan Candra pada kehidupan yang jauh dari kata sempurna. Ia sebagai seorang Ayah berusaha menutupi sisi rumpang itu dengan membuat Candra bisa menggapai prestasinya.

Namun satu hal yang Radit lewatkan, anak bungsunya tak sekuat itu dipaksa menjadi yang diinginkan orang-orang, hingga anak malang itu benar-benar menyerah terhadap kekecewaan yang diterima.

Radit termengu memandangi hamparan hamparan biru yang dibersamai gelombang laut tarik menarik menggapai bibir pantai.

Radit berusaha berdiri tegak dengan menumpukan tongkat di tangan kanannya. Semenjak kondisinya semakin membaik setelah menjalani terapi panjang, akhirnya ia bisa menegakkan tubuh lemahnya menggunakan alat bantu.

Tongkat itulah yang menemani hari-harinya dalam beraktivitas, dan ia sangat ketergantungan menjadikannya sebagai benda berharga. Bukan hanya karena mobilitas, melainkan tongkat itu adalah barang peninggalan anak bungsunya yang tak pernah pulang.

Tak hanya tongkat itu saja, semua peninggalan yang berhubungan dengan Candra tetap pada berada diposisinya, tanpa satupun niat untuk menyingkirkannya, termasuk seragam sekolah yang masih tersusun rapi di lemari.

Radit benar-benar meresapi setiap tubuhnya ditopang oleh benda kecil nan kokoh, berusaha membangkitkan eksistensi Candra lewat tongkat kesayangannya itu.

Tubuhnya yang mulai bisa diajak bekerjasama ia manfaatkan untuk bisa ke pinggir pantai. Termenung sendirian di sana sembari memberikan kelopak bunga ke kepada ombak yang menariknya.

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, bahkan melihat kejadian yang sudah-sudah Radit merasa Candra masih ada di rumah, belajar dari pulang sekolah hingga malam, seperti itu seterusnya. Tapi ketika ia kembali ke realita, anak bungsunya itu tidak pernah kembali ke rumah.

Kaki Radit bergetar berusaha ia langkahkan mendekati ujung ombak, merasakan sapuan halus mengenai kakinya yang tanpa alas. Matanya berkaca-kaca merasakan bagaimana manjanya ombak menyapu kakinya.

"Laut setenang itu, ya, sampai kamu mau dipeluknya," ucapan Radit mengudara bersama deburan ombak berlomba-lomba menyapanya.

Hati Radit serasa diremat kuat dihinggapi kenangan janji yang ia lontarkan. Waktu itu ia hanya mengucapkan asal saat melihat Candra kecil tampak murung setiap kali Welly menolak mentah-mentah permintaan anak itu. Sederhana, ingin bermain di luar.

Radit yang tak tega melihat wajah kecewa Candra kecil, menghampirinya dengan harapan yang membuat anak itu kembali mendapatkan binarnya.

"Nanti kalau Candra juara satu, Papa Janji kita akan pergi main ke pantai. Di sana Candra bisa main tanpa membuat Mama marah."

Candra kecil yang mendengarnya tentu sangat senang, matanya bersinar menyorot tatapan Radit.

"Papa serius? Tapi kata Mama, aku hanya buat malu saja kalau dilihat orang-orang."

Radit tersenyum sendu, berjongkok menyamakan tinggi Candra kecil yang tak seberapa. Baju merah putih Sang Anak tampak dibanjiri peluh bersama lelahan air mata. Ada rasa iba setiap kali melihat anak bungsunya ini.

Different Blessings [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang