Akhir Dari Semua Luka [END]

2.6K 141 30
                                        

Puncak kehidupan manusia adalah menerima apa yang telah Tuhan berikan. Baik atau buruk yang diterima adalah ketetapan yang tak bisa ditawar.

Jauh sebelum itu terjadi, takdir telah memberikan pilihan kepada setiap insan yang akan menjalaninya.

Tak ada kata menolak ketika semesta mengambil alih permainan, menciptakan kehidupan atas takdir yang berjalan.

Dosa adalah tanda titik hitam keegoisan manusia, menentang kebenaran, dan menjadi tamak terhadap dunia yang fana ini.

Bagaskara berulang kali menelpon Candra. Ia meruntuhkan egonya saking  khawatirnya belum mengetahui keadaan Candra sekarang. Semua siswa di grup kelasnya bergosip tentang kembarannya itu, ditambah dengan tempramen keluarganya, membuatnya takut terjadi hal yang tak diinginkan.

Bagaskara memutuskan pergi ke rumah Papa Radit, tapi belum sempat membuka pintu keluar, Papa Kenzie sudah menanti disana dengan tatapan datarnya.

"Mau kemana kamu?"

Bagaskara menatap kesal Papa kandungnya ini. "Aku mau ketemu Candra ...."

Kenzie menatap malas. "Untuk apa repot-repot mengurus anak itu? Kamu hanya akan mendapatkan masalah berada di dekatnya. Lihatkan tadi, bagaimana dia mempermalukan Radit dan mamamu karena kebodohannya."

Bagaskara menatap berang Kenzie yang dengan entengnya mengatakan itu, Lagi-lagi kata selanjutnya membakar perasaan yang selama ini ia pendam.

"Papa heran, kenapa anak itu sangat berbeda denganmu. Tak satupun kelebihan yang terlihat padanya, bahkan hanya membuat orang disekitarnya malu. Syukur sekali Papa tidak mendapat hak asuhnya, karena hanya orang yang sempurna bisa menjadi penerus Papa."

Bagaskara tertawa sumbang, menangkap nada keangkuhan Kenzie. "Kenapa Papa melakukan ini? Kenapa Papa membuatku seolah menjadi investasi masa depan yang tak pernah aku inginkan?!"

"Karena kamu anak Papa yang bisa diandalkan!"

Bagaskara miris mendengarnya. "Aku tak punya pilihan selain mengikuti keinginan Papa, bukan, lebih tepatnya Papa mencari yang sempurna tanpa mau mengerti di dunia ini bukan hanya tentang Papa saja!" ucapnya meluapkan emosinya.

Kenzie bungkam mendengar Bagaskara menumpahkan keluh kesahnya. Selama ini Bagaskara tak bertanya maupun menolak keras kehadirannya yang tiba-tiba.

Bagaskara menepuk dadanya. "Siapa aku? Siapa Candra?
Kenapa kami selalu dibedakan karena hanya soal menguntungkan?
Tidak bisakah Papa mau melihat bagaimana Candra berjuang untuk dirinya sendiri di tengah banyaknya penolakan yang dia terima?
Paling tidak, lihat secara manusiawi bahwa tak ada orang yang mau terlahir dalam kondisi cacat!"

Bagaskara mengusap dadanya yang sesak. "Seumur hidup seorang anak dituntut menjadi apa yang orang tuanya inginkan, memberinya yang terbaik, dan mengarahkan jalan Sang Anak untuk menggapai harapan orang tuanya kelak. Tapi ... terkadang kalian lupa, seorang anak juga mempunyai kebahagiaannya sendiri. Termasuk aku, termasuk Candra."

Kenzie tertegun mendengar protes anaknya itu, kata-katanya menusuk perasaan yang berusaha ia redam.

Bagaskara mengusap kasar pipinya yang basah. "Aku dan Candra sama-sama lahir dari rahim yang sama, darahku, darah Candra, sama-sama dialiri oleh darah Papa. Kalau Papa terus saja melebelinya dengan kata-kata menyakitkan, aku juga merasakannya karena kami anak Papa, darah daging Papa, anak kembar Papa."

Bagaskara berdecih melihat wajah Radit mengendur. "Papa pikir, hidup akan terasa sulit karena ada orang bodoh, maka Papa harus mengerjakan semua hal sendirian, benar?"

Bagaskara tak mendapatkan jawaban Kenzie semakin membuatnya panas. "Coba pikir? Papa tak bisa. Tak ada yang bisa."

Bagaskara tersenyum sendu terbayang wajah lelah Candra. "Seharusnya Papa senang mempunyai anak sebaik Candra. Jika Papa mengenalnya sejak kecil, Papa akan mengerti kenapa Tuhan memberikan kekurangan itu kepadanya. Candra telah banyak melewati masa-masa sulit, bahkan ketika aku bisa berlarian ke sana kemari, dia tetap semangat merangkak perlahan. Candra sangat gigih menjalani harinya, berusaha belajar dan belajar."

Different Blessings [TERBIT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang