Bab 5

174 3 3
                                        

Ditatap sekeliling gua, tempat yang cukup tersembunyi, sunyi dan indah. Caesar tersenyum kecut. Ada sebuah lubang ditengah tengah nya yang penuh dengan air laut.

"Hiks.. Tempat yang cantik. " ucap Caesar sambil menangis lirih.

Perasaan nya tercampur aduk. Dengan pelan Caesar menghampiri lubang yang seperti kolam buat nya, dengan pelan Caesar mengambil sedikit air dengan kedua tangan nya dan membasuhkannya ke wajahnya hingga berulang-ulang.

"Ughhh... Sshhttt... " rasa perih menjalar di sekujur tubuhnya saat air laut membasahi wajahnya.

Caesar baru menyadari bukan hanya wajahnya yang terluka melainkan lengannya juga terluka, segera Caesar melepas kemeja hitamnya melihat luka yang mengangah dan berdarah.

"Ughhh..... " rintih Caesar saat membasuh lukanya dengan air laut yang asin.

"Hikss.... Kenapa baru sadar kalau lenganku terluka juga.. Hiksss.... Sakit...." rintih nya lirih.

Darah yang mengalir bersamaan dengan air yang turun mengusik tidur seseorang. Tanpa Caesar sadari sedikit jauh dari tempatnya mengeluh ada seseorang yang sedang tertidur pulas di antara batu karang.

Aroma darah tercium cukup manis untuk nya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aroma darah tercium cukup manis untuk nya. Mungkin bukan hanya satu sosok saja, ada beberapa sosok lainnya yang juga tergiur dengan aromanya. Seketika sosok yang sejak awal mencium aroma itu menatap tajam kearah yang lainnya sebagai isyarat dia milik saya. Sosok yang lebih agung, lebih besar dan lebih berwibawa diantara yang lainnya mulai bangun dan berenang menghampiri aroma itu.

Sedangkan Caesar sendiri mulai kelelahan dan tertidur pulas di tepi kolam. Tak lama kemudian sosok itu muncul ditepat di tengah tengah kolam dan berenang perlahan menghampiri Caesar yang tertidur pulas.

"Rupanya aroma ini milik Anda manusia cantik. " ucapan nya lirih tersenyum smirk.

"Wajah Anda semakin cantik. " lanjut nya dan semakin mendekat.

Tatapannya yang tajam terhenti di wajahnya yang terluka, tatapan tak suka dan kilatan amarah di matanya membuat air berubah menjadi dingin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Tatapannya yang tajam terhenti di wajahnya yang terluka, tatapan tak suka dan kilatan amarah di matanya membuat air berubah menjadi dingin.

"Siapa yang berani melukai wajah anda yang cantik ini. " ucapnya dingin yang kemudian duduk di sisinya.

Dengan pelan sosok itu merubah tidur nya yang miring menjadi terlentang.

"Kenapa Anda melepas baju Anda cantik, lihat kulit Anda yang putih menjadi pucat karena dingin. " ucapnya lirih.

Dengan pelan sosok itu semakin mendekat dan mengecup pipi Caesar yang terluka, keajaiban terjadi, luka Caesar menghilang tanpa bekas. Tak hanya luka nya yang menghilang, kulit wajahnya kian cerah dan merona. Senyum tipis menghias wajah sosok itu. Tatapan nya kembali turun ke lengan nya yang terluka. Kembali sosok itu mengecup luka yang mengangah tanpa rasa jijik, sama seperti di awalnya luka itu menutup perlahan.

"Ughhh.... Sshhttt.... " rintih Caesar lirih saat lukanya tersentuh sesuatu.

Caesar merasakan sesuatu yang sejuk menjalar perlahan dari kulit lengannya. Lenguhan lirih karena merasakan sebuah sensasi yang aneh ditubuhnya. Sosok itu hanya tersenyum penuh misteri.

"Belum saatnya kita bertemu cantik. Tunggulah, disaat yang tepat saya akan muncul dihadapan Anda dan memeluk Anda erat. " ucapnya lirih dan mengecup pelan kening Caesar.

Caesar hanya menggeliat pelan merasakan hawa yang sejuk. Sosok itu kembali tersenyum yang kemudian turun dan masuk kedalam kolam. Kembali riak kecil dan kilauan putih terlintas diantara air yang jernih. Tak lama kemudian Caesar terbangun, mendapati lukanya yang hilang dan sembuh tanpa jejak sedikitpun membuatnya  terkejut dan merasa takut. Segera Caesar beranjak dan pergi dari gua itu dengan perasaan yang bercampur aduk antara bingung takut dan aneh. Dengan setengah berlari Caesar meninggalkan tempat itu menuju dimana dia memarkirkan motor nya. Sedangkan waktu tak terasa sudah menjelang pagi. Mentari mulai menampakan bias sinar nya.

Sesampainya di rumah Caesar segera ke kamarnya, dia tahu pasti bahwa kedua orang tuanya sudah pergi dengan segala rutinitas entah apa itu. Mungkin itu yang ada di pikiran Caesar saat itu. Selesai membersihkan badannya dan berganti pakaian Caesar segera keluar dari kamarnya. Betapa terkejut Caesar mendapati mama nya berdiri didepan pintu kamar hendak mengetuk pintu nya.

"Mama, tumben Mama masih ada dirumah. Biasa Mama sudah pergi. " ucap Caesar datar.

"Masih terlalu pagi untuk pergi Caesar, dan kamu sendiri bukankah ini masih terlalu pagi untuk pergi ke kampus. " jawab Clarisa sambil menatap arlojinya.

"Saya ada jadwal pagi, dan lagi semalam saya tidak buka buku sama sekali jadi hari ini saya mau ke perpustakaan kampus. Permisi. " ucap Caesar dengan kaku dan ingin berlalu dari hadapan Clarisa.

Segera Clarisa memegang lengan putra semata wayang nya itu. Dan menatap dengan tatapan sedih mendengar putranya yang berbicara dengan begitu formal.

"Caesar, maafkan Mama. Mama benar benar tidak tahu kalau kamu akan masuk, padahal mama gak mau bust kamu terluka, atau pun melihat sosok mama yang kacau itu" ucap Clarisa lembut.

Bukannya senang mendengar itu, Caesar semakin geram dan menatap wajah Mama nya dengan pandangan datar.

Memangnya sejak kapan mama peduli ada atau tidak nya saya jika soal pertengkaran. " ucap Caesar sambil tertawa kecil.

"Saya juga sudah terbiasa hanya saja kemarin malam saya lupa untuk menahan diri seperti biasanya. " lanjut Caesar.

"Dan lagian Anda tahu benar seperti apa kebiasaan saya, tapi yahh....sudah lah saya tahu bagaimana kalian kalau sedang bertengkar pasti akan ada banyak benda yang berterbangan kesana kemari. Saya kemari hanya sedikit terkejut saja. " ucap Caesar sambil tersenyum hambar.

"Caesar ini semua kesalahan Papa, dia membawa pelacur itu masuk kekantor nya hari ini. Mama sangat kecewa dengan tingkah Papa mu itu. " Clarisa mencoba membela diri.

"Ma...sudah lah jangan selalu menyalahkan Papa juga, bukankah Mama juga sama saja dengan Papa. " ucap Caesar menatap dingin.

Clarisa terkejut bukan main di tatap nya lekat lekat wajah putra nya itu. Dan semakin terkejut lagi saat sadar bahwa luka putra nya sudah sembuh dan hilang tak berbekas. Dengan cepat Clarisa menyentuh wajah putranya dengan tatapan tak percaya.

"Caesar luka kamu bagaimana mungkin bisa hilang begitu saja. " ucap Clarisa heran.

"Jangan tanya itu Ma, saya sendiri juga bingung kenapa luka itu bisa hilang, tapi itu lebih bagus kan. " jawab Caesar.

"Saya harus pergi sekarang. " lanjut Caesar sembari melepas sentuhan tangan mamanya  yang sebenarnya sudah lama ingin dia rasakan.

"Kamu tidak ikut sarapan bersama kami, Caesar  ? " ajak Clarisa.

"Tidak, lebih baik saya makan di kantin kampus saja. Saya tidak mau nafsu makan saya hilang saat mendengar perdebatan kalian. " jawab Caesar sambil berlalu dari hadapan Clarisa.

"Caesar..... " ucap Clarisa lirih.

Caesar segera pergi meninggalkan rumahnya, rencana awal Caesar ingin menikmati breakfast di kampus tapi niatan itu berpindah dengan berhenti di sebuah kafe yang menyediakan menu breakfast. Usai memarkirkan motor nya Caesar segera melepas helmnya dan duduk di bangku out door depan kafe seorang pelayanan menghampirinya, sambil mencatat pesanan Caesar wanita itu tak henti hentinya menatap Caesar dengan tatapan penuh arti.

HUMAN LOVE LINE WITH MERMANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang