"Dia siapa? Kalian terlihat sangat dekat sekali." Ucap Haechan sambil memakan kentang gorengnya malas-malasan.
"Aku kan sudah menjelaskannya, dia hanya kakak senior satu jurusan. Semalam kan sudah aku jelaskan, apa kau masih marah soal itu?" Mark memberikan tatapan memelas miliknya. Mereka masih di hotel, hari masih sangat pagi dan mereka baru selesai mandi.
"Cantik, ya?" Haechan memberi tatapan menyipit.
Mark gelagapan. Haechan yang cemburu memang menyenangkan buatnya, namun bila Haechan yang terus menaruh curiga sembari melayangkan tatapan tidak senang, hal itu sangat membuatnya takut sekaligus panik bukan main.
"Kau lebih cantik, serius!" Berbicara secara gagap, ia berusaha mendekati Haechan lalu duduk di sebelahnya dan pelan-pelan mulai mengulurkan tangan untuk membawanya dalam genggaman.
Haechan memerhatikan dalam diam, ingin tahu apa yang akan dilalukan oleh bocah ingusan ini. Muka nampak pucat, bibir mengering yang terus dibasahi dengan jilatan ludah, serta sorot mata yang bergetar dengan hebat. Sebernya ia juga tak tega membuat Mark panik dan takut begini, tapi karena reaksi yang diberikan begitu lucu dia malah jadi ingin terus melakukannya. Konklusinya dirinya memang cukup tega jadi orang, tapi tenang saja ia tetap tahu batasan -ya setidaknya ia tak sampai membuat Mark menangis maka semua hal ini masih akan ia anggap sebagai hal yang oke-oke saja.
"Tanpa kau beri tahu aku juga sudah tahu itu. Aku hanya tanya, dia cantik sekali, ya?"
"Haechaann~~" Mengeluarkan suara merengek.
Haechan terkekeh sebelum kemudian ulur tangan untuk mencubit hidung mancung milik Mark ia pelan. Padahal tangannya habis terkena minyak dari kentang goreng, tapi malah ia usapkan ke hidung milik Mark yang baru selesai mandi. Jahatnya.
"Aku ada urusan pekerjaan sampai jam makan siang, setelah itu aku kosong. Kau sendiri? Kau ada waktu luang atau tidak." Haechan berdiri dari duduknya, melangkah ambil tisu kemudian membersihkan -bertanggung jawab pada hidung yang telah menjadi korban keusilannya.
"Coba aku pikirkan dulu, aku agak lupa." Mark bergumam pelan, kepala merunduk untuk mempermudah Haechan membersihkan hidungnya.
"Aku harap kau ada waktu luang, karena jika aku sudah sibuk aku tak jamin bisa membalas atau sekadar baca pesan darimu." Ia berbalik menuju ke arah pakaian yang sudah ia siapkan. Selama di Seoul ia hanya mengurus pekerjaan milik ayahnya yang masih betah tinggal berlama di London, tidak sepenuhnya ia ambil alih, ia hanya mengawasi kinerja di lapangan saja yang kemudian segala laporannya akan ia alihkan kepada sang ayah untuk ditinjau dan diambil sendiri keputusannya oleh beliau.
Kinerja ini sudah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun, lebih enak bila ia langsung mewarisi jabatan milik ayahnya, tapi Haechan hanya merasa bahwa kemampuannya masih benar-benar belum mumpuni, jadi ia tak mau untuk melakukan semuanya secara sepenuhnya. Hanya sedikit ulur bantuan saja. Lagipula ia juga sudah senang dengan hidup sederhana yang ia dapat dari tempat kelola spanya itu.
"Nanti malam bagaimana? Kelas terkahir selesai jam delapan. Setelah itu aku kosong." Jawab Mark yang juga ikut beranjak dari posisi, melangkah mengikuti Haechan dan sampailah dia di belakang tubuh itu, ingin memeluknya dengan erat sambil mencium aroma tubuhnya dalam-dalam. Padahal semalam mereka sudah main gila tapi bagi Mark hal itu masih belum cukup, dia masih sangat merindukan Haechan dan tidak percaya jika sekarang benar-benar bisa saling berhadapan lagi dengannya.
"Mark?" Haechan menatap kepala Mark yang ada di belakangnya melalui pantulan kaca besar di depan meja riasnya. Pria itu merunduk, menatap pada tubuhnya dengan sorot dalam bahkan hampir tanpa berkedip.
"Iya? Aku boleh memelukmu tida-" Mark belum selesai bicara ketika kepala itu sudah bersandar pada dadanya. Haechan mendongak, memberi senyum padanya -bukan. Itu bukan senyum, lebih tepatnya adalah seringai. Mark berkedip cukup banyak untuk merasakan jantungnya tiba-tiba berdegup dengan kencang.
KAMU SEDANG MEMBACA
PEACHY BE*CHY {MARKHYUCK}
FanfictionI'll take you home, my peachy. BxB Markhyuck olderHc Mpreg smut explicit age gap
