“Haechan, jadi kau selama ini tidak memakai pengaman sama sekali? Ini terlihat sekali jika kau ingin menjebaknya seumur hidup bersamamu.” Jaemin membawa buah kesukaan Haechan.
“Ya, diamlah. Aku sedang malas bicara apapun. Berikan buahnya pada Bibi Kim agar dikupaskan. Kau tahu Rora, Ayah dan Ibuku saja tak mau bicara denganku, aku jadi pusing sekarang.” Tadi malam cukup membuat ia merasa kesal pasalnya ia baru saja tersadar dari pingsannya, lalu sudah ada banyak orang yang melayangkan tatapan menghakimi sekaligus membunuh kepada dirinya. Apalagi Rora, dia jadi merasa sangat bersalah dengan anaknya.
Dokter menjelaskan bahwa dia sedang hamil, berusia lima minggu. Hebat sekali padahal ia dan Mark saling mengenal baru akan berjalan dua bulan, dan ia sudah dapat kabar bahwa ia hamil dengan usia kandungan sedemikian. Ini tidak terdengar seperti saat baru pertama kali mereka melakukannya dulu langsung jadi.
“Dia memang tidak pakai kondom, tapi aku minum obat, seingatku.”
Jaemin berdecih, geleng-geleng kepala.
“Seingatmu. Berarti jika tidak ingat, sebenarnya kau tidak minum obnat. Benar?” Jaemin menyerahkan buah persik yang ia bawa kepada Bibi Kim yang juga ada di dalam kamar Haechan. Sosok itulah yang tadi menemani Haechan sebelum ia datang. Sementara Rora dan kedua orangtua Haechan, ia tidak tahu mereka ke mana, sejak tadi belum nampak sama sekali batang hidung mereka.
“Ya sudahlah, sudah terlanjur begini juga mau apa. Aku pun bisa merawat dan membesarkannya sendiri jika nanti Mark keberatan. Dengan Rora saja aku bisa bertahan sampai sekarang, yang kali ini anggap saja aku hanya sedang mengulang waktu.” Haechan mengubah posisi berbaringnya, menyamping menghadap ke arah Jaemin, ingin melihat apa saja yang dibawa oleh sang kawan di dalam tas tentengnya yang cukup besar itu.
“Bicara soal Rora, di mana dia? Masih kesal?” Jaemin membuka tasnya, menunjukkan apda Haechan apa yang ia bawa, hanya sebuah dompet dan baju ganti saja.
Haechan mendengus, ia dorong tas itu jauh-jauh, ia pikir Jaemin membawa makanan atau sesuatu apapun itu yang bisa membuat mood jeleknya sedikit naik.
“Kau tahu sendiri bukan kalau dia tidak mau punya adik. Sekarang tahu-tahu dapat kejutan akan dapat adik. Aku yakin dia pasti akan jadi sangat benci dan tidak suka pada Mark.” Haechan membayangkan bahwa Rora akan memusuhi Mark sampai dalam kurun waktu yang cukup lama. Bukan hanya merepotkan untuk mark, ia sendiri pun akan emrasa sangat pusing sbeba membujuk anak itu bukan perkara yang mudah. Dahulu mungkin terasa mudah karena tanpa perlu berusaha menarik perhatian terlalu jauh Mark ternyata telah berhasil untuk menjadi dekat dengan Rora. Namunn bila sudah sekalki dibuat marah, kecewa, dan tidak senang.
Maka konsekuensi yang harus didapat cukuplah fatal.
“Memangnya kau berpikir bahwa kau dan Mark bisa berlangsung lama?”
Haechan terdiam. Ia meniti kain bajunya pelan, mengusap permukaan lembut itu dengan hati yang terasa tidak nyaman. Pembicaraan yang membuat perasaannya menjadi makin jelek saja.
“Aku inginnya juga begitu. Tapi aku cukup realistis bahwa ini akan terasa sangat sulit untuk kami. Sekarang saja aku tidak tahu di mana orangtuaku, bisa saja dia dalam perjalanan menuju ke rumah Mark untuk menghabisinya. Kau dengar sendiri betapa sangat murkanya mereka kemarin, kepalaku saja sampai mau pecah.” Haechan menyentuh pelipisnya, hanya kembali mengungkit perkara ini saja rasa pening itu kembali datang, bersarang dan berkumpul gila di dalam kepalanya.
“Sepertinya kau malas membahas ini, bila begitu berdoa saja semoga Mark bisa selamat. Karena dari sopir Ayahmu tadi, aku dengar dia pesan tiket pesawat ke Seoul.” Tepat saat Jaemin memberi tahu ini, Bibi Kim juga sudah selesai mengupaskan buah persik yang telah dinantikan oleh Haechan sejak tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
PEACHY BE*CHY {MARKHYUCK}
FanficI'll take you home, my peachy. BxB Markhyuck olderHc Mpreg smut explicit age gap
