Bali-Pulang

11 2 0
                                    

// "ngopo koe melu melu?. Iki urusanku" (nagapin kamu ikut ikut?. Ini urusanku!!"

●●●

"Dia manusia!!" Sorot mata Dahyu menantang dua pria di depan nya.

"Alah kokean cangkem!!. Wong wedok ngerti opo!!!" (Alah banyak bacot!!. Perempuan tahu apa!!!")

Dahyu memang manusia dari masa depan yang terperosot pada masa kuno Indonesia. Tapi ia tahu apa yang di katakan pria dengan kumis sepanjang jalan tol itu.

"Bicaramu!!!" Bentaknya

"Selamet!!!. Maju, malah meneng wae" (Selamet!!!. Maju, malah diem aja!!) Pria kumis jalan tol itu mendorong temannya untuk bersiap-siap mengeluarkan parang mencincang Dahyu. Rodra yang melihat akan ada pertumpahan darah justru hanya dapat berteriak bingung. Tapi orang-orang di sekitar hanya sebatas menonton, tidak berani menghentikan keributan.

Dahyu sedikit kikuk. Walaupun dia cukup berani menantang bahaya maut di masa depan. Tapi berurusan dengan senjata tajam bukanlah hal yang harus di dekati.

Pria kumis tol dan teman nya sudah sigap. Membawa parang yang cukup panjang, dengan gigi ompong menghiasi wajah mereka berdua.

"Iki alesan e. Wong wedok kudu meneng wae nang omah!!!" (Ini alasannya. Perempuan harus diam saja di rumah!)

Dahyu cukup geram mendengar kata-kata sampah yang keluar dari mulut lawan bicaranya. Tapi ia cukup takut dengan parang. Mungkin jika adu dua lawan satu tanpa senjata ia mampu.

"Selamet!!! Hajar!!!" Pria dengan tubuh berisi. Menggenggam parang dengan mantap. Bersiap membunuh siapa saja di depannya.

Wushh..

Dua orang wanita yang entah datang dari mana menebas kepala Selamat hingga tergulir ke tanah. Sementara pria kumis tol hanya mampu menyaksikan rekannya terbunuh di depan mata bersimbah darah.

"Asu!!" Teriaknya.

Seorang wanita dengan rambut yang di sanggul rapi bersiap mengulurkan parang dengan mantap ke arah pria kumis tol.

Pria kumis tol tidak kalah mantap menggenggam dua buah parang di kedua sisi tangannya. Terlihat sorot mata yang sama-sama akan membunuh satu sama lain terpancar nyata.

"Aku wong wedok!. Aku iso mateni koe" (aku perempuan!! Dan aku bisa membunuh kamu) suara yang menggema dengan amarah yang bercampur menghiasi seisi pasar. Kini bukan hanya sepuluh orang yang menonton kejadian itu, namun hampir satu pasar mentap pertikaian yang memakan satu korban jiwa.

"Kokean cangkem!" (banyak bacot!) Pria kumus tol mengibaskan parang pada wanita sanggul. Wanita sanggul itu cukup lincah menghindari parang yang siap menebas bagian mana saja tubuhnya.

Sedangkan seorang wanita yang datang bersamanya tadi hanya tersenyum manis di belakang. Ia melihat pertikaian dua manusia itu seperti adu ayam, bukan adu nyawa.

"Hentikan dia!!" Bentak Dahyu pada wanita di sampingnya.

Wanita itu menoleh meninggalkan senyum manis. Ia maju menarik rekannya untuk mundur. Dan

Jleb...

Darah menyebar ke segala penjuru area. Meninggalkan tetesan merah kental di setiap orang yang berada di tempat kejadian.

Tentang KitaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang