Cahaya pagi kembali masuk lewat sela sela jendela meninggalkan cahayanya memenuhi kamar. Udara sejuk yang merasuk hingga tulang. Tidak ini tidak seindah itu.
"Den Bangun"
" Den"
"Iya mba, Dahyu bangun. Sebentar"
Perempuan dengan kulit kuning langsat serta rambut panjang yang menutupi setengah wajahnya seperti tidak ada kekuatan untuk membuka mata.
"Bangun yu!!" (bangun yu!!) wanita yang sedari tadi mengomel, memutuskan keluar kamar setelah ia membuka jendela lebar lebar.
Perempuan itu duduk di ranjangnya sedikit menguap menahan kantuk yang tertahan. Ia sedikit malas untuk melangkahkan kaki memijak bumi. Menghabiskan beberapa menit dengan melamuni dinding dinding kamar adalah keahliannya.
Menatap sekelilingin dan tertuju pada luar jendela. Satu dua detik dia tertegun. Diam, bola matanya terbuka lebar.
Seketika Dahyu bangkit dari ranjang mengusap wajah dengan tangannya, tidak ini bukan mimpi. Dia berjalan ke arah pintu. Kali ini bukan hanya tertegun dia setengah mau pingsan. Dahyu melihat sekeliling mengamati dengan teliti sekelilingnya. Gila ia tak habis pikir.
"AAAAAARRRRRRRRGGGGGGHHHH!!!" Seorang wanita sekiranya berusia 17 tahun datang menghampiri Dahyu. Baik sekarang dia sungguh pingsan.
●●●
"Ya Gusti. Den...."
"Pie ki mbok"
"Den tangi den...."
Dahyu membuka mata sangat pelan. Kepalanya pusinh bukan main nafasnya tidak teratur. Sembari tetap berusaha mencerna hal hal tidak terduga beberapa menit lalu. Ia duduk seketika.
Menatap dua. Orang yang wajahnya sama sekali tidak ia kenali. Sangat asing dan juga....
"Kalian???"
"Maturnuwun gusti" (trimakasih ya tuhan)
"Kalian siapa??" Terlihat takut. Itu yang nampak pada Dahyu.
"Kalian??, sampean ngomong opo to denayu" (kamu bilang apa si raden ayu) wanita itu mendekat, menggelus lembut telapak tangan Dahyu, namun Dahyu buru-buru menarik tubuhnya mundur, memberi sedikit jarak antara keduanya.
"Mbok, iki hudu mergo pingsan to??" (Mbok ini bukan efek pingsan kan)
Wanita paruh baya sekiranya berumur 70 tahun menggeleng.
"Yowes, Ro. Aku pamit ya.."
"Nggeh mbok. Matursuwon" (iya mbok trimakasih)
Kini Dahyu semakin bingung. Dia menatap penuh 1000 pertanyaan gila. Wanita yang di panggil 'ro' siapa dan dia dimana?, apa yang dia lakukan dalam sebuh rumah dengan ornamen kayu seperti ini??.
"Den. Nembeh maem opo??" (Raden mau akan apa)
Dahyu diem. Wanita itu berniat pergi keluar kamar.
"Eh..." entahlah Dahyu bingung
Wanita itu putar badan dan kembali berjalan mendekat ke Dahyu. Sontak Dahyu kembali menjauhkan tubuh.
"Kamu siapa??"
"Kamu??" Wanita itu menunjuk dirinya sendiri
"Ya Gusti. Raden lali kaleh kulo??" (Raden lupa dengan saya??) Wanita itu melemparkan tatapan penuh bercanda, sedangkan Dahyu bingung.
"Den. Kulo ngerti raden ayu mboten pengen di nikah ke kaleh raden mas. Nangeng raden mboten oleh lali kaleh kulo" ( raden ayu, aku tau kamu ga mau di nikahkan dengan raden mas. Tapi kamu jangan lupa sama aku)
Dahyu makin bingung. Raden mas??.
"Raden ayu??. Aku Raden?" Itu kalimat yang bercampur dengan kebingungan yang keluar dari mulut Dahyu.
"Raden ki koyo wong londo" (raden seperti orang Belanda)
"Kamu siapa??" Baik ini terlihat serius. Wanita itu yang justru bingung.
"Aduh mesti iki mergo mau" (aduh pasti ini karena pingsan). Wanita itu duduk sembari menggenggam tangan Dahyu.
"Kamu siapa??" Wanita itu semakin bingung dan panik.
"Raden moso lali kaleh kulo. Kulo Rodra den. Rodra. Rencang raden ayu ket cilik" (raden ayu masa lupa dengan saya, saya Rodra raden. Temen raden ayu dari kecil)
"Rodra?" Rodra mengangguk, mengiyakan pertanyaan Dahyu.
"Raden ayu mesti mumet. Ayo den metu ben penak pikir e" (ayo den keluar. Biar fikirannya angak enak) Rodra menarik tangan Dahyu memaksanya bangkit keluar ruangan. Dahyu yang di tarik Rodra tidak berbuat banyak entahlah, bisa saja wanita ini menculiknya dan meracuni Dahyu.
Dahyu terperanga. Mereka tiba di luar rumah, Dahyu melangkah pelan. Mengamati sekeliling. Ini seperti tempat berbeda dari yang ia kenal.
"Ro, ini dimana??" Dahyu mundur beberapa langkah menatap bingung Rodra. Sedangkan yang di tatap memasang wajah sedih.
Dahyu menggenggam tangan Rodra
"Ini dimana??" Dahyu meneteskan air mata, ia ingin teriak. Frustasi hebat.
"Raden..." Rodra masuk ke dalam rumah, Dahyu mengikuti.
Keduanya duduk di sebuh kursi tengah, seperti rungan penerimaan tamu.
"Raden, kulo ngerti Raden mboten saget nerimo niki. Raden kudu kuat" (raden saya tau raden tidak bisa menerima semua ini. Raden harus kuat) Rodra berbicanya serius, sorot matanya memberikan rasa kekuatan untuk Dahyu. Bukannya terharu Dahyu malah semakin bingung.
"Ro bicara jelas saya bingung"
Rodra mengerutkan kening. Bingung. Apa penjelasan yang di inginkan Dahyu.
//Dua orang pria membuka pintu lebar lebar. Menerobos masuk, Rodra dan Dahyu terkejut dan saling melempar tatapan bingung.
"Ndi Dahyu..."
"Raden mas"
Membosankan??
Ini adalah alasah kalian harus terus membaca sampai part terakhir. Tidak ada yang sempurna dari suatu pencapaian yang luar bisa anak muda.
-nadaz
KAMU SEDANG MEMBACA
Tentang Kita
AventuraBukan soal cinta seperti bagian awal yang akan kalian baca. Ini lebih dalam dari itu, bagaimana kehidupan mereka terhalang banyak larangan, derajat dan status sosial. Kehidupan yang enggan untuk kita rasakan. Soal kematia, perpisahan, keberhasilan d...
