Shira mendongak, mencoba melihat perkelahian antara dua pria bangsawan itu untuk memperebutkan hati sang putri tuan tanah. Sang putra mahkota lah yang pertama kali mengayunkan pedangnya, ia mengincar leher sang putra Adipati, namun serangan itu ditangkis dengan baik.
Sang putra Adipati pun membalasnya dengan mencoba menusuk bahunya, namun serangan itu berhasil dihindari oleh sang putra mahkota.
Mereka saling menusuk, menebas, dan mengayunkan pedang mereka ke titik-titik vital lawannya. Pertarungan itu disaksikan oleh seluruh orang di pasar, suara pedang mereka yang saling berbenturan sangat nyaring bagaikan alat musik, sehingga sekilas gerakan mereka bagaikan penari.
Pertarungan itu terus berlangsung sampai beberapa prajurit kerajaan datang melerai mereka, sang putra mahkota secara terang-terangan menunjukkan ekspresi tak suka pada sang putra Adipati. Namun hal itu tak dibalasnya.
Untuk tak terlibat masalah, Shira langsung pergi tepat ketika ia melihat para prajurit itu. Ketika ia baru saja sampai di depan pelataran kantor, ia mendapati sesosok wanita yang tinggi semampai berdiri tak jauh dari pintu masuk, seolah menunggu seseorang.
Ia mengenakan jubah putih dengan sebuah logo di bagian dadanya, mirip dengan jubah yang Lynn kenakan sepulang dari Vintervalt. Sepertinya itu jubah yang biasa dipakai oleh Herbalis.
"Apa mungkin dia orangnya?" pikir Shira. Ia mencoba melewati wanita itu namun segera dihentikan, wanita itu berkata," Apa kamu adalah orang yang mengambil komisi untuk tanaman herbalku?"
Shira mengambil kertas komisi yang disimpan di tasnya, kemudian membaca nama pengirimnya untuk memastikan.
"Apakah anda adalah Madam Adler?" tanya Shira sembari menunjukkan kertas komisi itu padanya. Wanita itu mengangguk, kemudian Shira menyerahkan tanaman herbal yang dicari wanita itu. Wanita bernama Adler itu pun memberikan dua keping koin perak padanya sebagai bayaran, lalu pamit pulang.
Shira yang menatap perginya wanita itu tiba-tiba dikejutkan dari belakang oleh Yuri, "Sedang apa kau?" ucapnya dengan senyum jahil, Lynn hanya tertawa kecil melihat Shira yang kaget karena Yuri.
"Bukan hal penting, omong-omong aku baru saja menyelesaikan komisiku," ucap Shira. Lynn mencoba melihat apa yang Shira tatap sebelumnya, ia hanya melihat seorang wanita pergi dengan jubah yang sama dengannya.
"Oh, pengirim komisi itu adalah Adler, ya?" ujar Lynn. "sudah lama aku tak menemuinya, mungkin sejak dia lulus menjadi muridku," lanjutnya.
Shira memperlihatkan raut wajah kebingungan, "Murid?" ucapnya tak percaya.
Lynn mengangguk dan berkata, "Kabar yang aku tahu tentangnya setelah lulus, hanyalah kabar pernikahannya dengan seorang ksatria dari kerajaan tetangga. Namun suatu rumor beredar, bahwa suaminya meninggal secara misterius beberapa bulan lalu."
"Betapa kasihannya dia ...," ucap Shira.
"Jadi Adler kini adalah janda?" tanya Yuri. Lynn hanya mengangguk sambil memperlihatkan raut wajah simpati.
Hari demi hari berlalu, namun komisi-komisi kiriman Adler tampaknya selalu terpampang di papan komisi tiap hari. Berkat bantuan Lynn yang juga seorang Herbalis, Shira selalu mengambil komisi miliknya tanpa ragu.
Awalnya mereka selalu melakukan transaksi di kantor asosiasi, tapi suatu hari mereka terpaksa berpindah tempat ke kediaman milik Adler karena saat itu Adler tak punya waktu keluar rumah. Kediamannya tidak terlalu megah namun tak kalah bagus dengan rumah-rumah milik warga lainnya.
Hari itu, Adler mempersilahkannya masuk, membuatnya dapat melihat interior rumahnya yang sederhana tapi tetap terkesan mewah. Ia diminta duduk di atas sofa yang empuk di ruang tamu dan diminta menunggu, Adler pergi sebentar dan kembali dengan secangkir teh untuk tamunya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Azaria : Journey To Unknown
AdventureSetiap perjalanan selalu memiliki ceritanya masing-masing. Entah itu pertemuan, perpisahan, maupun kisah asmara. Lynn dan Yuri, selalu menantikan hal-hal semacam itu sebagai seorang petualang. Walaupun beberapa cerita memiliki akhir yang menyedihkan...