Chapter 11 : Murkanya Lamia

0 0 0
                                    


Dengan rasa kebencian yang membutakan nurani Viktor, ia memacu kudanya menuju istana kerajaan tempat pangeran Albert berada. Meski tak disadari olehnya, ia diikuti oleh puluhan bawahannya yang merasa bahwa aksi pangeran Albert untuk mendapatkan Elise sangat kekanak-kanakan.

Para penduduk terus berlari dengan panik ke arah gerbang keluar ibukota, sedangkan para anggota relawan yang baru saja pulang dari Eau De Terre memutuskan untuk membantu mengevakuasi mereka.

Ketika Shira turut membantu mengarahkan rombongan anak-anak pengungsi yang berasal dari ladang gandum, tiba-tiba sebuah tiang penyangga raksasa dari bangunan di dekat mereka retak dan hancur. Bangunan itu pun roboh tepat ke arah mereka.

Anak-anak itu menjerit ketakutan, sedangkan Shira berteriak pada mereka, "Lari! Cepat!". Namun bangunan itu ambruk begitu cepat hingga ia tak dapat menghindar tepat waktu.

Lynn yang juga sibuk mengarahkan pengungsi di gerbang keluar ibukota, reflek menoleh ke arah reruntuhan ketika ia mendengar suara roboh itu diiringi oleh tangisan dari anak-anak yang selamat. "Hei Yuri! Bisa kau cek reruntuhan itu? Aku punya firasat buruk tentang ini," pinta Lynn dengan wajah khawatir, Yuri hanya mengangguk dan melakukan apa yang Lynn minta.

Ia mendekati anak-anak itu dan bertanya, "Apa yang terjadi? Jangan dekat-dekat dengan reruntuhan ini, berbahaya." Salah seorang dari mereka mengusap air mata mereka dan berkata, "Teman kami tertimpa reruntuhan, bersama kakak laki-laki berambut hitam yang membantu kami tadi."

"Hitam?" gumam Yuri, "apakah kakak itu berambut pendek dan memiliki pedang pendek dengan sarung pedang yang ditenun dengan motif matahari?" .

Anak itu mengangguk, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Yuri panik. "Shira!" teriak Yuri berlari memanggilnya. Namun setelah beberapa saat, ia tak kunjung mendengar suara Shira menjawab panggilannya.

Kemudian Yuri pun bergegas mencari Shira di reruntuhan itu, ia mengangkat dan menggali puing demi puing hingga tangannya lecet dan berdarah. Hingga akhirnya, ia menemukan Shira bersama salah satu dari anak-anak tadi. Mereka berdua mendapat beberapa luka, namun Shira menderita lebih banyak karena ia menggunakan tubuhnya sendiri untuk melindungi anak itu dari tertimpa reruntuhan.

Punggungnya terluka dengan luka robek yang cukup lebar, darahnya mengalir keluar kemana-mana. Yuri yang melihat itu tiba-tiba mendapati pandangannya menjadi kabur, sedangkan nafasnya menjadi berat seiring waktu.

"Ada apa denganku?" pikirnya, "ah, benar juga ... ini hampir sama dengan yang waktu itu," lanjutnya. Tangisan anak-anak yang pecah tatkala mereka melihat kondisi Shira yang buruk, mengingatkannya pada saat ia mencoba meredakan tangisan Lynn waktu memeluk tubuh adiknya yang sudah tak bernyawa akibat tak sengaja terlibat dalam insiden bangkitnya Azaria. "Tak kusangka, aku kembali mengingat tragedi itu lagi di luar mimpiku."

Ia kemudian melihat ke sekitar, mencoba mencari bantuan, namun entah mengapa ia tak mampu membiarkan dirinya sendiri untuk berteriak. Ia kemudian kembali menoleh ke arah Shira dan memandangnya dengan tatapan kosong.

"Andai aku tak menganggapmu sebagai bagian baru dari keluargaku dengan Lynn, mungkin memori mengerikan ini tak akan terputar kembali dalam ingatanku.".

Masih dengan tatapannya yang kosong dan putus asa, sebuah ide terbersit di pikirannya untuk mengobati luka itu dengan Archaic Blessing. Namun keraguan menyelimutinya, "Menggunakan berkah Asterik untuk mengobati luka ini, bukankah cukup berlebihan? Luka seperti ini pastinya hanya sebuah luka remeh di mata Lamia," pikirnya.

Ia bergelut cukup lama dengan pikirannya sendiri, hingga akhirnya mengurungkan niatnya tatkala matanya menyadari kehadiran sebuah botol kaca berisi air berkilau di tergeletak di atas tanah.

"Bukankah air ini ... intisari Melmare? Bagaimana bisa berada di sini?" gumamnya heran menoleh kesana kemari, "menurut apa yang pernah Lynn katakan, aku bisa menggunakannya untuk mengobati Shira. Haruskah aku mencobanya terlebih dulu untuk mengecek keasliannya? Kudengar walau hanya dengan setetes, efek obat racikan Lynn bisa menjadi lebih efektif. Mungkin bisa sampai jadi salah satu komoditas unggul di seluruh penjuru Ramone," pikirnya kembali.

Namun kondisi Shira yang perlahan memburuk memaksanya untuk berhenti berpikir dan segera bertindak, ia pun membuka botol tersebut dan meneteskannya. Detik dimana air itu bersentuhan dengan kulit Shira, darah kotor yang mengalir keluar dari punggungnya mulai melayang menyatu di udara dan perlahan menguap dan menghilang. Lalu di sekitar lukanya, muncul embun embun yang kemudian menyatu dan merembes ke dalam lukanya, membekukan darah di sekitarnya.

Setelah pembekuannya selesai, embun embun itu naik kembali ke kulit dan menyatu menutupi seluruh permukaan yang robek dan perlahan berubah wujud menjadi kulit yang utuh seperti sedia kala.

"Cepat sekali, jadi inilah alasan mengapa dulu Lynn dan Adler sangat menginginkan intisari Melmare, ya?" pikir Yuri. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya sehingga ia pun menoleh dan mendapati orang itu adalah Adler, "Astaga, Tuan Yuri! Anak-anak ini ... jika anda kelelahan, mengapa anda tak memanggil bantuan?" tanyanya khawatir.

Namun ketika Yuri hendak menjawab, Adler memotongnya, "Biarkan saya bantu membawa mereka ke posko evakuasi." Kemudian Adler membopong Shira dan membawanya pergi, sedangkan Yuri menatapnya pergi sambil bergumam pada dirinya sendiri, "ini menyedihkan sekali." Lalu ia pun menggendong anak kecil yang Shira lindungi tadi dan menyusul Adler ke posko.

Tiba-tiba angin berhembus hebat dari arah selatan, namun entah kenapa, kobaran api di ladang gandum tidak ikut tertiup. Malah kobaran api itu semakin memusat ke tengah-tengah ladang dan perlahan berkumpul menjadi pusaran api yang kuat.

Tiba-tiba sesosok wanita berjalan mendekati pusaran api itu. Ia mengenakan blus berwarna ungu pudar yang memperlihatkan belahan dadanya dengan rok pendek yang ditutupi kain abu-abu tembus pandang. Rambut pirang panjang bergelombangnya tertiup angin, namun ia tak menghiraukannya. Iris matanya memiliki warna ganda—ungu dan emas, sedangkan pupilnya berbentuk bintang yang membuatnya begitu mencolok.. Ia menatap pusaran api itu tanpa rasa takut.

Para warga yang melihat pemandangan itu hanya bisa gemetar tak percaya, "I-itu ... Lamia. Mengapa utusan Artemesia Yang Agung itu berada di sini?" ucap mereka penuh tanya pada satu sama lain. Lynn yang juga menyaksikan peristiwa itu hanya dapat bergumam pada dirinya sendiri, "Tak kuduga, ternyata konflik ini berhasil menyulut sumbu amarah Lamia. Padahal diantara semua Asterik yang ada, dialah yang paling murah hati dan tak sungkan meminjamkan kekuatannya pada manusia fana seperti kita."

William yang ada di sampingnya pun bertanya, "Namun, mengapa harus Ia sendiri yang tiba kemari untuk menghukum sang pembangkang perintahnya?"

"Mungkin saja, itu karena Pangeran Albert telah mengabaikan peringatannya berulang kali. Siapa yang akan tahu tentang hal itu semisal dia menyembunyikannya dari publik, bukan?" jawab Yuri sembari membaringkan anak kecil yang tadi ia gendong. "Itu masuk akal," balas Lynn. "Jadi ... apa yang harus kita lakukan, Guru?" tanya Adler sembari menyibak rambutnya.

Belum sempat Lynn menjawabnya, Lamia mengangkat tangannya keatas dan membelah udara saat itu juga. Tanah tempatnya berpijak mulai terangkat beterbangan, memicu retakan tanah yang cukup dalam dan lebar. Retakan itu mulai meluas dan mendekati istana, meruntuhkan gerbang megah yang mengelilinginya dan menelan puing-puing tersebut ke dasar jurang retakan.

Retakan itu tentunya membuat tanah bergetar hebat, orang-orang yang berlarian mulai kehilangan kestabilannya dan berakhir menabrak satu sama lain. Mereka saling tumpang tindih dan terjebak di bawah tubuh orang yang berada di atasnya, mereka terjebak. Para relawan tak sempat menolong mereka karena ikut terpengaruh arus panik akibat kehadiran Lamia.

Yuri yang masih duduk di samping ranjang lantas merangkul tubuh anak yang tadi masih tak sadarkan diri untuk melindunginya, sementara Lynn, William, dan Adler langsung tiarap sampai getaran tanahnya sudah lumayan mereda.

Adler mencoba menengok keluar dan terperanjat saat ia melihat kondisi istana, ia kemudian menatap Lynn panik sembari berkata, "Guru, istana kerajaan dipenuhi sulur tanaman raksasa! Coba lihatlah itu! Aku juga melihat Pangeran Albert terlilit sulur tanaman itu sembari dicekik oleh Lamia!"

Angin yang berhembus kencang tanpa ampun menerbang-nerbangkan rambut Lamia kala itu. Sembari menatapnya tanpa rasa welas asih yang tersisa untuk dirinya, ia mencekiknya dan mencaci dengan nada rendah, "Sudahkah engkau menyesal telah menghiraukan peringatanku untuk tak mengotori tanahku dengan egomu, pembangkang perintahku?"

Bersambung ...

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 31, 2023 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Azaria : Journey To UnknownTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang