Chapter 4 : Identitas yang Tak Ditemukan

1 1 0
                                    

"Shira, ada hal yang harus aku sampaikan padamu," ucap Lynn sembari menatap wajah Shira serius.

Shira hanya mengangguk, bertanya-tanya tentang apa yang ingin dikatakan Lynn kepadanya.

"Informan yang kita sewa telah melaporkan hasil kerja mereka. Namun sayangnya, tidak ada informasi apapun yang ditemukan."

"Tunggu, benar-benar tak ada? Bahkan penduduk desa di dekat hutan itu juga tak mengetahuinya?" sela Yuri keheranan.

"Iya, mereka bahkan mengembalikan tiga koin perak sebagai permintaan maaf atas tidak adanya informasi yang didapat," ujar Lynn sambil menyodorkan tiga koin perak yang dimaksud.

Yuri menghela napas dan berkata, "Sulit dipercaya."

Yuri kemudian menatap Shira dan berkata, "Aku tahu hal ini berat bagimu, namun sebuah keputusan harus kamu ambil. Apakah kamu akan bertekad menyusuri jalanmu sendiri, atau pergi bersama kami?"

Shira menunduk, memikirkan jawaban dengan sungguh-sungguh. Karena keputusan yang ia pilih, akan sangat mempengaruhi masa depannya.

Namun ia merasa ada seseorang yang tengah membelai rambutnya, seolah peduli padanya. Ia menengadah, dan menemukan kalau tangan itu adalah tangan Lynn. Shira menatapnya dan Lynn hanya tersenyum tipis.

"Kamu masih punya waktu berpikir sampai matahari terbit pagi nanti. Kembalilah ke kamarmu bersama Yuri untuk tidur, malam sudah hampir tiba sepenuhnya." Shira hanya mengiyakan perkataan Lynn dan langsung pergi setelahnya.

Yuri masih di tempat seraya menghabiskan minumannya, kemudian ia menghela napas dan berkata, "Bocah malang."

"Terang-terangan mengasihani orang lain, tidak seperti Yuri yang biasanya," celetuk Lynn. Yuri terdiam sebentar dan lalu menjawab, "Aku hanya merasa bahwa kita punya nasib yang sama dengannya, kehilangan tempat yang dapat kita sebut rumah."

"Hey Lynn, jika kau jadi dia, maka keputusan apa yang mungkin kau pilih?"

"Entahlah, namun dalam situasi dimana kamu bagaikan anak domba yang tersesat, kurasa solusi terbaik disaat itu adalah mengikuti orang yang menolongmu."

"Begitu, ya."

"Berhentilah minum dan tidur sana," ujar Lynn.

Rembulan yang tengah menaiki malam, perlahan turun digantikan Sang Surya. Esok itu, Shira bangun lebih awal daripada Lynn dan Yuri. Ia membasuh mukanya, lalu pergi ke bar penginapan untuk sarapan.

Ketika sarapannya tinggal tersisa setengah porsi, batang hidung Yuri baru terlihat tengah memasuki bar. Rambutnya masih berantakan, khas bangun tidur.

"Pagi Kak Yuri," sapa Shira. Yuri hanya mengangguk sambil mengucek-ucek matanya. Ia menghampiri konter dan memesan sarapan, kemudian pergi dan duduk di depan Shira untuk menunggu pesanannya diantar.

Shira lanjut memakan sarapannya, sementara Yuri menatapnya seolah begitu kelaparan. Tatapan itu membuat Shira merasa tak nyaman.

"Uh … dimana Kak Lynn?" tanya Shira 'tuk menyembunyikan ketidaknyamanannya. Yuri menguap sebentar kemudian menjawab, "Pergi ke dokter untuk mengobati luka yang dibuat serigala itu."

"Oh, begitu …," ujar Shira.

Yuri memiringkan kepalanya sembari menatap Shira lekat, "Kenapa? Apa kamu merasa bersalah atas luka itu?" tanya Yuri.

"Kurang lebih begitu."

Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri meja mereka dan membawakan sarapan milik Yuri. Itu adalah irisan daging yang digoreng, dan disajikan dengan saus krim diatas kentang rebus.

Azaria : Journey To UnknownTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang