"Bohong!" Seruan disertai dentingan keras yang bersumber dari benturan alat makan dengan piring menjadi satu suara yang sukses menarik perhatian beberapa pasang mata di sekitar mereka.
Serentak mereka yang satu meja dengan sang pembuat gaduh melotot ke arahnya, buat perempuan itu meringis dan mengatupkan kedua telapak tangan memohon ampun ke teman-teman dia.
"Mungkin lo salah liat," Kali ini yang berbicara perempuan lainnya. Raut wajah perempuan itu menunjukan kalau informasi yang baru saja diterimanya adalah suatu kesalahan. Pun dengan beberapa perempuan lain yang kasih ekspresi wajah yang sama; alis mengkerut dalam dan sorot mata mereka tajam menghakimi.
Si penyampai informasi menggeleng cepat. Lengan kanan terangkat, dua jarinya membentuk tanda "peace sign" dan tangannya yang lain diletakkannya di depan dada. Ia pasang ekspresi wajah serius, nampak bersungguh-sungguh akan berita yang baru disampaikannya.
"Sumpah disamber gledek! Yang aku lihat waktu itu beneran assistant manager kita a.k.a Bapak Marion terhormat," ujarnya dengan sedikit mendramatisir.
Jadi dua hari yang lalu, sang perempuan tanpa sengaja bertemu dengan Marion di pusat perbelanjaan.
Jika sehari-hari di kantor penampilan Marion cenderung formal dan rapi. Tapi untuk kali ini, ia bisa menjamin, staff perempuan akan memekik kegirangan kala melihat tampilan sang Senior.
Marion nampak casual, rambut lurus nan lebat yang biasa disisir ke atas dibiarkannya jatuh menutupi dahi, tubuhnya berbalut polo shirt hitam, berpadu celana warna khaki selutut yang melihatkan kaki jenjang laki-laki itu.
Mungkin siapapun yang melihat Marion tidak ada yang mengira jika laki-laki berusia tiga puluh satu itu adalah seorang ayah tunggal yang memiliki satu orang anak.
Berniat untuk menghampiri dan menyapa Seniornya tersebut, langkah perempuan itu terhenti saat seorang anak perempuan muncul dan mengapit tangan Marion.
Tapi bukan itu penyebab mengapa sosok perempuan yang merupakan staff satu divisi dengan Marion bekerja mengurungkan niat untuk sekedar bertegur sapa. Tak berselang lama dari kedatangan sang anak yang perempuan yang ia yakini adalah Luna, anak dari Marion, sosok perempuan berparas manis pun menyusul dari belakangnya.
Begini, perihal Marion yang berstatus duda memang sudah diketahui banyak karyawan ─bahkan tidak sedikit yang menaruh hati kepada laki-laki itu. Sikap Marion yang ramah, mudah berbaur tanpa memandang umur yang menjadi faktornya. Dan para perempuan itu tidak sungguh-sungguh memiliki intensi untuk mendekati Marion. Mereka cukup dengan menjadi pengagum sang Senior.
Yang mereka ketahui adalah belum pernah sekalipun mereka mendengar kabar akan kedekatan Marion dengan perempuan manapun di luar sana.
Jadi, ketika staff perempuan itu melihat Marion bersama seorang perempuan yang bukan dari satu perusahaan yang sama dengannya tengah menghabiskan waktu bersama ─tidak hanya berdua namun bertiga dengan Luna, dan betapa ia melihat keakraban yang terjalin di antara mereka bertiga, bagaikan petir di siang bolong hal itu mengejutkan para pekerja dan beritanya menyebar begitu cepat.
"Ya biarin aja sih. Toh, Pak Marion kan lagi available ini. Beliau bebas mau cari pasangan kan? Lagian Pak Marion udah menduda hampir 5 tahun, jadi wajar aja menurut gue." Salah seorang perempuan menggedikkan bahu seolah tidak mau ambil pusing dengan gosip yang sedang mereka bicarakan saat ini.
"Tapi kan─" si informan menghela napas, ia memasang wajah sendu, garis bibirnya melengkung ke bawah sementara tangannya meremat blouse hitam yang ia kenakan seakan hatinya yang tengah diremat, "rasanya nggak ikhlas gitu kalau Pak Marion akhirnya taken juga. Stok cowok single di kantor kita makin berkurang."
KAMU SEDANG MEMBACA
heart plus 2 [ jinrene ]
FanfictionArumi secara kebetulan bertemu Marion, laki-laki yang menyelamatkan dirinya dari incaran lelaki hidung belang. Bermula semakin sering pertemuan yang terjadi secara "tidak terduga" itu lah, Arumi dan Marion mulai bertukar kontak jika ingin bertemu. T...
![heart plus 2 [ jinrene ]](https://img.wattpad.com/cover/335144593-64-k3139.jpg)