1. Istana

29 4 0
                                    

"Mengapa pula aku harus membantumu?!" Tanya seorang wanita dengan ketus.

Pria yang di hadapannya berdiri dengan gusar, mengusap wajahnya kasar lalu berucap, "Ayolah, kali ini saja kau membantuku, Val," bujuknya dengan wajah memelas.

Tetapi wanita yang dipanggil Val itu tetap pada pendiriannya. "Tidak. Lebih baik kau pergi saja, Victor," katanya dengan tegas.

"Hei, kau tega mengusir kembaranmu sendiri, Valorie? Jahat sekali!" Victor berucap dengan dramatis.

Valorie merotasikan matanya malas melihat kembarannya yang begitu dramatis.

Terkadang ia berpikir mungkin saja Victor adalah anak yang tak sengaja ditemukan oleh orangtua mereka di depan pintu rumah. Karena sifat dan kelakuan pria itu sangat berbanding terbalik dengan sifat yang dimiliki oleh keluarganya – dingin dan tak tersentuh.

"Aku tidak peduli dengan masalah politikmu, Letnan," ujar Valorie yang masih menampilkan muka datarnya.

Sekali lagi Victor memelas. "Kau tidak mungkin membiarkan aku sendirian ke istana tanpa pasangan, kan?"

"Aku tidak peduli. Lagipula aku ada jadwal pemotretan di Spanyol," ucap Valorie cuek.

Victor menghela napas panjang, "Hanya untuk makan malam. Aku janji."

Kemudian pria itu mengacungkan kedua jarinya ke atas membentuk huruf V.

Namun Valorie memicingkan matanya.

"Aku tidak percaya. Kau pasti datang ke sini bukan hanya karena itu. Apalagi yang kau sembunyikan, Vic."

Victor membeku. Ia merasa sudah tidak bisa menyembunyikan sesuatu lagi. Kembarannya itu terlalu cerdas.

Valorie melotot padanya. Menuntut jawaban.

Entah sudah ke berapa kali Victor menghela napasnya berat seharian ini. Ia menatap kembarannya dengan gelisah sambil menelan salivanya dengan susah payah.

"Sebenarnya aku mendapat misi penting. Kau pasti sudah tahu bahwa istana kerajaan mengundang kami untuk makan malam." Ia menatap wanita itu sedang mengangguk. Dan kembali melanjutkan, "Pada acara itu juga akan membahas mengenai permasalahan yang sedang terjadi di perbatasan sebelah barat Inggris. Aku mendapat laporan bahwa peristiwa itu sangat genting."

"Kami berusaha untuk menutupi permasalahan ini dari awak media, karena kalau tidak, pasti akan menyebabkan kekacauan yang lebih besar. Dan atasanku memberikanku misi ini, aku harus mencari tahu sebab terjadinya kekacauan di Wales. Aku membutuhkan koneksimu, Val, itu sebabnya aku mengikutsertakan kau dalam undangan makan malam ini."

Keterdiaman Valorie membuat pria itu merasa gusar. "I need you, Val. Please.."

Namun itu tidak membuat Valorie membalas perkataannya, sehingga Letnan muda itu kembali berkata, "Aku tahu kau masih berhubungan dengan orang itu. Aku membutuhkan koneksimu dengannya. Dia bisa memberikan informasi."

Perkataannya sukses membuat Valorie membalas tatapan pria di hadapannya ini.

Dengan berat hati ia menjawab, "Alright. Aku akan membantumu. Tapi kau harus tahu bahwa setelah ini aku tidak ingin lagi berurusan dengan kalian. Kau seharusnya ingat, Vic, bagaimana mereka memandang kita."

Valorie memandang kembarannya dengan tajam lalu pergi meninggalkannya sendiri di ruang tamu.

***

"Apa yang kau pakai itu?" Valorie menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala, dan menyeringai remeh.

Victor yang baru saja dikritik oleh saudarinya tampak tidak peduli dan mengendikkan bahunya.

The Hidden DragonTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang