4. New

265 31 9
                                    







.

.

.

.

.







    Keesokan paginya Jake bangun tepat pukul 6 pagi, dilihatnya kasur disebelahnya, ada Jungwon masih tertidur dengan nyenyak, dengan Segera Jake membangunkan Jungwon.

     Sudah selesai mengumpulkan nyawa masing-masing, mereka bergegas keluar untuk mengantri kamar mandi. Yah, memang di Camp ini kamar mandi berada terpisah, kecuali toilet, disetiap Cabin tersedia toilet masing- masing. Tetapi tetap mengharuskan mereka untuk mengantri jika ingin mandi. Sebenarnya tidak perlu waktu lama untuk mengantri. Ada puluhan kamar mandi disini, juga tidak semua orang memilih mandi pagi-pagi buta seperti ini. Banyak yang hanya menyikat gigi mereka dan mencuci muka saja. Hal seperti itu bisa dilakukan disamping kamar mandi. Terdapat sekitar puluhan keran air disana. Tapi Jake dan Jungwon lebih memilih mandi karena mereka sudah terbiasa mandi pagi.

    Selesai mereka dengan urusan mandi dan sejenisnya, Junghwan datang bersama Minji, juga satu orang yang Jake tidak kenali. Mereka melangkahkan kaki kearah Jake dan Jungwon.

"Ayo, kita ke Mess Hall, untuk sarapan." Junghwan juga menambahi, "oh iya, kenalkan ini Beomgyu."

Orang yang diperkenalkan Junghwan mengulurkan tangannya sambil berkata, "Choi Beomgyu. Anak Apollo." Jake membalas uluran tangan tersebut dan dengan ramah berucap "Shim Jaeyun,  panggil saja Jake, salam kenal." Jungwon juga melakukan hal yang sama dengan dirinya.

    Akhirnya, mereka berlima memutuskan berjalan bersama ke Mess Hall. Mengantri makanan, lalu duduk bersama dimeja yang masih kosong. Jake mengedarkan pandangannya untuk melihat sekelilingnya. Banyak remaja sepertinya, bahkan ada yang lebih kecil darinya disini. Mereka, biarpun memiliki God parent yang berbeda, tetapi mereka tetap akur. Mungkin hanya beberapa Cabin yang susah sekali akur, contohnya Ares dan Hephaestus. Juga beberapa Demigod sesekali saling bentrok, tapi itu hal yang wajar bukan.

Jake melihat-lihat  kesekililing, dilihatnya sebuah meja yang terletak paling ujung di Mess Hall, terdapat seseorang yang sedak duduk sendirian, sambil menikmati sarapannya.

Ah, ternyata seseorang itu Lee Heeseung.

Kenapa dia makan sendiri?

"Jake?"
"kau sedang melihat apa?" seruan Beomgyu menghentikan agenda Jake menatapi Heeseung.

"Oh, itu," Jake menggerakkan kepalanya,memberi gestur menunjuk Heeseung menggunakan kepalanya.

"Kenapa dia duduk sendirian." Beomgyu melirik arah yang ditunjuk Jake.

"Oh... Kak Heeseung, dia memang seperti itu, memang sering juga itu jadi tempat dia untuk makan. Katanya dia tidak suka kalau makan di suasana berisik. Kadang dia tidak sendirian, biasanya bersama kak Jay atau kak Sunghoon. Tapi sepertinya, kak Jay belum tiba. Kak Sunghoon juga sedang tidak berada disini."

Mendengar penjelasan dari Beomgyu, Jake mengangguk-anggukkan kepalanya tanda dirinya mengerti.




.

.

.



    Sungguh, menurut Jake, dirinya lebih baik disuruh mengerjakan seratus soal matematika. Daripada duduk 2 jam mendengarkan penjelasan Miss Joy, Mentor di Camp, yang susah sekali masuk ke otaknya. Jake bagai kembali menjadi anak kelas satu sekolah dasar yang tidak memahami apapun. Meski dirinya suka membaca dan belajar hal baru, entah kenapa sejarah yang dijelaskan Miss Joy, saat kelas tadi sulit masuk ke kepalanya. Belum lagi dirinya dibuat pusing,  akan dirinya yang belum diakui oleh orang tua dewata nya. Entah dia anak dewa atau dewi Jake tidak memiliki petunjuk sama sekali.

𝓕𝓪𝓽𝓮Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang