"Gimana rasanya jadi selingkuhan?"
Aku tercekat. Spontan saja telapak tanganku mendarat di pipinya dengan cepat. "Reza si*alan!" Umpatku dalam hati. Masih dengan napas yang memburu dan amarah yang memuncak.
Dia meringis kesakitan dan mengelus pelan pipinya yang sedikit memerah. Aku tidak menangkap ekspresi marah dari raut wajahnya. Dia justru menyeringai, puas. Permainan apalagi ini? Aku mengiyakan ajakannya bertemu agar dia bisa mengikhlaskan, bukan menginjak-injakku seperti ini.
Ketika aku baru saja membuka mulutku, dia mengarahkan jari telunjuknya ke bibirku. "Tidak perlu membela diri." Dia memajukan badannya dan berbisik di telingaku. Rasanya aku ingin meludahi wajahnya saat itu juga. Tapi aku hanya menggerakkan gigi. Berusaha tidak terpancing lagi.
Kudorong tubuhnya menjauh. Dia terkekeh pelan. Lalu mengamatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Julia, Julia. Kecantikanmu ini paripurna. Tapi kenapa kamu menggadaikannya untuk pria yang tidak mau mengakuimu kepada dunia?"
Damn! Jadi ini pemicunya? Rasa cemburu dan tidak terima. Bahkan ketika aku sudah bukan lagi miliknya. Ini konyol. Benar-benar konyol. Mengingat semua tindakan kasarnya selama ini, membuatku bergidik ngeri. Aku tidak mau terjebak lagi.
"Setidaknya dia memperlakukanku dengan baik selama ini. Nggak seperti kamu!" Kilahku.
Reza cuma memutar bola matanya. Membuatku tambah muak dengan obrolan ini.
"Jadi, kamu memintaku datang ke sini cuma untuk menghinaku? Menertawakan kebodohanku yang lebih memilih mas Yudha Dibandingkan kamu?" Tegasku sambil terkekeh. "Asal kamu tahu ya, Za. Aku ninggalin kamu bukan karena dia. Tapi karena kamu. Kamu yang memaksaku untuk pergi!"
Reza mendengus. Tatapan matanya yang angkuh meluruh. Dia membuang muka dan berusaha menghindari tatapanku. Diam-diam aku tersenyum puas.
"Aku mencintaimu, Jul." Reza meraih tanganku dan menggenggamnya. Ada secercah pengharapan yang aku tangkap dari nada suaranya. Tidak ada lagi suara tinggi yang mengkonfrontasi. Tidak ada lagi ekspresi mencemooh yang sempat membuatku ciut beberapa menit tadi.
"Tapi aku membencimu!" Tukasku cepat. Aku tidak akan membiarkan pria yang pernah kuharapkan jadi masa depanku itu mencuri hatiku. Lagi dan lagi. Dia tahu kelemahanku adalah kalimat yang dirangkai indah dan janji-janji yang dia patri.
Mataku terpejam sejenak, berusaha mencari bayangan mas Yudha. Perasaanku menghangat melihat sosoknya dalam pikiranku. Tapi khayalanku buyar ketika ada seorang wanita yang menggandeng tangan kekar priaku tersebut. Mas Yudha tersenyum padanya. Memantik api cemburu dalam hatiku. Kemudian disusul dengan seorang anak yang berjalan tertatih ke arah mereka. "Papa .... Papa."
Dadaku bergemuruh, memaksaku membuka mata dan kembali ke realita.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love and Shit
RomanceCinta itu nggak selalu manis. Kadang dia datang, bikin lo bego, terus pergi. Kumpulan cerita tentang jatuh cinta, jatuh harga diri, dan jatuh terlalu dalam padahal nggak pernah ditangkap.
