"Banyak orang lebih suka merayakan kesedihannya ketimbang mengejar kebahagiannya." Aku sedang sibuk bercumbu dengan plot manis di buku yang kubaca ketika Arvi mengagetkanku dengan quote anehnya.
Dia menarik kursi di depanku dan duduk sambil memasang muka tertekuk. Aku cuma terkekeh. "Siapa? Dewi?"
Arvi tidak menjawab, hanya menghela nafas panjang yang mengisyaratkan kalau tebakanku benar. Dia memijat pelipisnya, lalu meraih botol minuman yang ada di depannya. Seperti biasa, dia selalu mengambil barang pribadiku tanpa permisi. Sedikit dongkol, tapi mengomelinya di moment seperti ini tentu saja tidak tepat.
"Jadi, mau cerita ga? Kalau ga, gue mau ngusir lu dan lanjutin kegiatan sakral gue." Kutegaskan kalimatku sambil menunjukkan buku yang sedang kubaca. Dia tahu aku sudah lama menantikan rilisnya novel ini. Karena aku yang memintanya untuk mengecek setiap hari akun penulis favoritku ini di instagram.
"Gue muak sama Dewi, Ra. Dia cuma nangis, nangis, dan nangis. Setiap hari nyekokin gue sama pikiran-pikiran negatif dia. Iya, awalnya gue empati. Gue pikir gue bisa bantu dia. Gue bisa jadi tempat dia bersandar saat dia down. Bisa jadi dewa penolong dia. Biar dia bisa bangkit. Biar dia lebih bahagia. Tapi ini udah 2 tahun, Ra."
Tiba-tiba pikiranku melayang waktu mereka baru jadian. Dan aku yang sedikit bisa menebak arah hubungan mereka, mencoba memperingatkan Arvi soal ini. "Kan baru 2 tahun Ar," sahutku pelan. Dia sedikit melotot padaku. Tahu kalau jawabanku itu sebenarnya mengandung sarkasme.
"Gue capek, an*ing!" Kali ini dia sedikit terkekeh. "Dia bilang dia depresi. Dia bilang dia menyesal dilahirkan. Dia bilang ga ada yang ngertiin dia. Jadi selama ini dia anggep gue apa? Tembok ratapan?"
Aku menepuk-nepuk bahunya pelan. "Jadi, lu cuma diem kayak biasanya? Atau...?"
"Dia ga mau seek help, Ra. Gue udah nawarin buat anterin dia ke psikolog. Gue juga bilang, ga usah mikir biaya. Tapi dia bilang, ga mau dianggap gila. Malah milih mabok-mabokan bareng temen-temennya. Gue udah bisa sabar selama ini. Gue ga pengen dia tambah terjerumus. Gue pengen nyelamatin dia. Tapi apa balasan dia?"
Arvi berusaha menyembunyikan air matanya. Tapi aku tahu dia sudah tidak kuat membendungnya. Dia buru-buru menyekanya agar aku tidak melihatnya. "Lu punya rokok, Ra?" Cerdas, dia berusaha mengalihkan topik agar aku tidak membullynya karena ketahuan menangis. Aku mengeluarkan bungkus rokok dari saku celanaku. Dan dia langsung ngacir keluar.
Aku mengikutinya dari belakang dan kami pindah ke smoking area. Perpustakaan cukup sepi. Tapi terlalu lama mengobrol di dalamnya juga sepertinya kurang etis.
Cukup lama kami menikmati keheningan dan kepulan asap. Sampai akhirnya Arvi membuka suaranya yang sudah tidak bergetar lagi. " Dia hamil, Ra. Ga tahu bapaknya siapa."
KAMU SEDANG MEMBACA
Love and Shit
RomansaCinta itu nggak selalu manis. Kadang dia datang, bikin lo bego, terus pergi. Kumpulan cerita tentang jatuh cinta, jatuh harga diri, dan jatuh terlalu dalam padahal nggak pernah ditangkap.
