"Kenapa sih gue selalu ga beruntung dalam percintaan?" Kemarin Arvi. Sekarang Tasya. Dan dua-duanya datang dengan masalah yang sama. Asmara.
Aku cuma mengangkat bahu sambil mengunyah makanan yang masih penuh di mulutku. Tasya melotot seolah-olah memaksaku untuk menjawab pertanyaannya yang sangat retoris itu.
"Raaa!" Aku memaksa menelan makanan yang masih perlu beberapa kunyahan itu karena melihat ekspresi gadis cantik di depanku ini. Lalu buru-buru mengambil botol air mineral dan meneguknya dua kali.
"Hmmm, gimana ya. Ya karena lu lagi ga beruntung aja, Tas. Emang dia bukan jodoh lu." Dalam hati aku menggerutu. Kenapa dia nanyain hal ini ke orang yang bahkan belum pernah menjalin hubungan percintaan sama sekali? "Yaudah, lu mau cerita apa? Gue siapin telinga. Tapi gue ga punya tissue. Ini adanya tissue makan punya Ibu kantin."
Tasya langsung manghambur ke pelukanku dan menangis sesenggukan. Dia ga peduli sama pandangan orang-orang di sekitar kami yang kurang mengenakkan. Tapi, aku ga bisa berkutik. Sepertinya aku harus membuat semacam bubble agar bisa fokus mendengar ocehan Tasya yang tersendat-sendat sambil sesekali membuang ingus itu.
Aku tahu, Tasya memang salah satu cewek cantik yang jadi idaman cowok-cowok di kampus kami. Aku juga tahu bagaimana pola hubungannya dengan mantan-mantannya. Dia cemburuan, possesif, moody-an parah, dan sering ngambek ga jelas kalau kemauannya ga dituruti. Dia pengen ditreat like queen. Tapi dia sendiri memperlakukan cowoknya lebih mirip kacung ketimbang pasangan.
Jadi, kalau ga diselingkuhin, dia selalu dighosting cowok-cowok yang awalnya ngejar-ngejar dia. Dan kalian tahu kalimat yang selalu dia lontarkan? Kalimat yang udah gue hapal. Yang dia ucapkan lagi detik ini. "Semua cowok itu sama aja, Ra. Semua cowok itu brengsek." Aku cuma mengangguk pelan, meskipun saat dia sedang sibuk menghapus air matanya, kuputar bola mata ke arah yang berlawanan.
"Menurut lu, gue brengsek juga ga Tas? Gue ga ninggalin lu kan?" Awalnya aku cuma pengen menghiburnya. Aku benar-benar ga bermaksud untuk mengajukan diri untuk menjadi penyembuh luka atau semacamnya. Tapi aku sedikit panik melihat pupil mata Tasya yang melebar. Selang beberapa detik kudengar Tasya tertawa kecil, membuatku sedikit lega.
"Lu mau jadi pacar gue?" Dia menggeser posisi duduknya, sedikit menjauh dariku.
Sial, situasi macam apa ini? Kenapa tiba-tiba jantungku berdegup kencang? Aku mematung selama beberapa detik. Lagi-lagi Tasya tertawa. Kali ini lebih keras. Pasti wajahku sangat menggelikan waktu itu.
"Ga usah dijawab. Gue juga ga mau. Lu jelek!" Ujarnya sambil menjulurkan lidah. Tanpa sadar, dia menarik kacamataku dan pandanganku mulai blur. "Kalau gini, lumayan sih. Tapi gue tetep ga mau."
Aku ga pernah tertarik dengan Tasya. Aku juga yakin dia ga akan tertarik denganku. Karena kami sudah seperti saudara sejak orangtuaku menjadikannya anak angkat 10 tahun yang lalu. Dia mungkin racun buat pasangannya. Tapi aku tahu, dia hanyalah cewek yang haus kasih sayang dari orangtuanya yang entah ke mana.

KAMU SEDANG MEMBACA
Love and Shit
RomanceCinta tak selamanya indah. Tak selalu berakhir happy ending. Kadang-kadang, cinta itu cuma omong kosong dan membuat kita jadi bodoh. Jadi, sebodoh apa kamu saat jatuh cinta?