"How was your day?" Aku menengok ke kanan dan melihat Ardi duduk di sebelahku. Sambil tersenyum kecut, aku mengangkat bahu. Lalu menghela napas panjang.
"Capek ya?" tanyanya lagi sambil mengacak pelan rambutku. Hei, harusnya rambutku yang berantakan, bukan hatiku. Tapi, perasaan hangat itu membuatku tersenyum tipis.
"Apa tuan putriku laper? Kereta kencana siap mengantar ke restoran terdekat." Kali ini Ardi menunjuk motor bebeknya yang terparkir tak jauh dari bangku tempat kami duduk.
Aku terkekeh pelan. Sial, aku gagal dalam upaya tutup mulut kali ini. Harusnya aku pura-pura tidur di dalam dan membiarkannya membujuk Farah, cewek kamar sebelah untuk memintaku keluar. Aku masih mendidih membayangkan kejadian tadi pagi. Saat dia asyik ngobrol dengan Dina, anak baru itu.
Bukan Ardi namanya kalau tidak pandai meluluhkanku. Aku menghambur ke pelukannya, sebagai tanda kalau aku memaafkannya. Aku sadar, aku cemburuan. Aku hanya takut kehilangan.
Tapi, ada yang aneh. Aku merasa bukan memeluk Ardiku. Tubuh yang kupeluk terlalu kurus. Dia juga mengibaskan tanganku. Sialan! Teganya dia melakukan itu padaku. Setelah aku menurunkan gengsi dan egoku.
"Ardiiiiii...." Teriakku manja. Aku merasa sebuah benda empuk dilempar ke mukaku. Dan tiba-tiba aku sudah berada di dalam kamar dan berhadapan dengan muka Ardi yang dingin, tapi menyebalkan itu.
Oke, rileks. Jadi. Tadi cuma mimpi. Fine. "Tenang, Fa." Batinku.
"Jadi, lu mimpiin gue lagi?" Dia masih orang yang sama seperti di dalam mimpi. Iya, sedikit kurus. Mungkin karena beban hidup? Idk. "Gue cuma mau ambil laptop Mila yang lu pinjem semalem. Gue lihat lu masih molor. Sori, gue ga bermaksud lancang. Tadi tiba-tiba lu manggil gue dan mel...."
"Oke. Makasih. Gapapa." Jawabku cepat. Aku bangun dari tempat tidur dan buru-buru mendorong Ardi agar keluar dari kamarku.
Perasaanku campur aduk. Harusnya aku ga memikirkan masa lalu itu lagi. Masa lalu yang aku sembunyikan rapat-rapat selama ini. Toh cuma tiga bulan hubungan itu terjalin. Dan aku ga mau hal itu merusak rumah tangga kakakku. Haha, rumah tangga yang diawali kecelakaan karena Ardi mabuk dan berujung jadi kakak iparku.

KAMU SEDANG MEMBACA
Love and Shit
RomanceCinta tak selamanya indah. Tak selalu berakhir happy ending. Kadang-kadang, cinta itu cuma omong kosong dan membuat kita jadi bodoh. Jadi, sebodoh apa kamu saat jatuh cinta?