Chapter 13

2.6K 67 7
                                        

Nathan menatap sengit keberadaan papanya, ia mengacak rambut seraya terus menggeram tanpa sebab. Yang menjadi masalahnya kini adalah papanya yang terus-terusan mengambil alih gadisnya, hih padahalkan dia baru saja ingin kangen-kangenan.

"Wajah kamu itu loh Nath, buat Papa pengen ngakak. Hahaha," ejek papa melirik putranya sekilas.

"Jelek banget, sok imut dih!"

Ditaman kecil samping rumah ini, semuanya berkumpul termasuk juga gadisnya bersama Rajash yang ternyata mengantarkannya kemari.

"Lagian Papa cuma pinjem Ola bentar aja kamu udah ngambek dih, yang kangen Ola kan nggak cuma kamu aja. Papa juga kangen sama Ola," sambung papa sembari terus menyemburkan tawa.

"Tolong dikondisikan mukanya."

"Ihh Mas! Udahlah, Nathan tuh mau berduaan tau sama Olanya. Dah ayuk masuk," ajak mama menarik lengan suaminya, merasa sedikit kasihan mungkin dengan putranya disudut taman.

Papa bangkit, diikuti dengan Rajash dibelakangnya. Memberikan tatapan setajam samurai pada dirinya lalu berkata penuh tekanan, "Jangan sekali-kali lagi buat Viola nangis atau lo gak akan pernah lagi ketemu sama dia."

Bukannya menggubris ucapan kakak gadisnya, Nathan malah berangsur riang gembira dengan semangat memeluk gadisnya erat-erat mengecupi puncak kepala juga kening gadisnya berkali-kali.

"Raja, bawa Leo ke dalem kasihan dia kedinginan."

Rajash melenggang pergi diikuti papa yang mungkin ingin memberikan waktu lebih banyak bagi keduanya.

"I really miss you so much, baby, " ungkapnya menggebu-gebu seraya terus mengecupi pipi gadisnya.

Gadis itu tertawa, terlalu geli menerima kecupan-kecupan singkat yang dilayangkan olehnya. Satu hari tak bertemu saja rasanya seperti seabad mereka tak berjumpa. "I m so sorry, baby. Forgive me for this many errors, i will try my best to fix everything."

"Nathan denger ... nggak papa, aku nggak papa kok. Yang mereka bilang itu bener, aku memang nggak sempurna dan aku punya kecacatan dalam diri aku. Sedangkan kamu itu sempurna, kamu punya segalanya Nathan-

"-kamu tampan, cerdas, bertalenta, kamu cocok bersanding ama yang lebih sama aku ..."

Nathan meletakkan jari telunjuknya tepat dibibir gadisnya. Menyuruhnya untuk berhenti berbicara sejenak, bukan apa yang diucapkan oleh gadisnya sangat melukai hati.

Ya, hatinya sakit mendengar pengakuan gadisnya.

Dipeluknya tubuh ramping itu, isakan tak berapa lama kemudian keluar. Kaos oblong yang dipakainya basah akan air mata gadisnya. Hati Nathan mencelos, mendadak matanya ingin ikut menangis.

"Ola, i'am perfect because of you beside me."

"Mau sesempurna apapun orang lain, i don't care. But when it comes to you, you are always perfect in my eyes."

Digenggamnya jemari kecil itu perlahan, lalu membawanya pada bibir dan mengecupnya tiga kali. "You are my choice, only you can make me like this, Ola."

"Aku terlalu takut kamu berpaling, Nathan. Temen kamu itu pasti cantik, kan? Dia pasti lebih segala-galanya dari aku. Sedangkan aku? Hiks, aku buta."

"Kita bersama untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing, Ola. Ga peduli orang lain, all i want is you, and that's you Ola."

Viola menangis didekapannya. Bertambah terisak mendengar penuturan dari sang kekasih.

"All you need to do is how to continue to believe in me, because that's what keeps me alive."

"Jangan tinggalin aku ya, Nathan."

"Nggak akan, aku disamping kamu terus selamanya."

"Jangan pernah tinggalin aku dengan alasan apapun itu, Nathan."

"Nggak akan, aku janji untuk terus sama kamu. Please, do not cry anymore."

Mengurai pelukannya, Nathan mengusap lembut pipi Violanya. Lalu mengecup kedua mata gadisnya penuh sayang. Melihat ke arah langit yang rupanya hujan telah reda.

Dirinya tersenyum kemudian berujar, "Jalan-jalan mau?"

Dangerous Prince [ selesai ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang