11. Menjaga Rahasia

1.6K 153 6
                                        

"Iya, iyaa ah bawel bener."

Marvel lantas mematikan sambungan teleponnya.

Marvin tadi meneleponnya, memastikan kalau dirinya tidak ketinggalan beli satupun barang yang Marvin suruh. Bawel banget, terhitung sudah lima kali Marvin meneleponnya semenjak ia pergi tadi. Kalau ga dijawab, malah ngespam. Beneran bawel banget pokoknya.

Handphonnya kembali berdering.

Marvel mendecak kesal, "apaan sih anjir."

"Apa Marvin?" Marvel pada akhirnya tetap menjawab panggilan telepon itu, walau sedang kesal setengah mampus ia sekarang.

"Pulang cepetan. Jangan lama lama."

"Iya, iya elah. Ini udah mau selesai belanjaan gw. Lah u juga jangan nelpon mulu dong, kapan selesainya gw belanja kalau lu nelponin gw mulu." Marvel menjawab sambil menyeret trolinya pada satu rak terakhir.

"Yasudah, langsung pulang kalau udah selesai."

"Iya bawel."

tut!

Sambungan kembali terputus.

Marvel bergegas, ingin segera menyelesaikan semua belanjaannya. Hanya tinggal beberapa barang lagi, setelah itu Marvel bisa banyar dikasir dan segera pulang. Ia sudah muak menjawab telponan Marvin, lebih baik ia segera menyelesaikan tugasnya ini.

"Tinggal beras," gumam Marvin.

Selesai dengan semua belanjaannya, Marvel dengan segera membawa troli belanjaannya ke kasir. Setelah menghitung semua belanjaan Marvel, sang kasir menyebutkan total belanjaan Marvel, sedangkan Marvel memberikan kartu debitnya untuk membayar belanjaannya.

"Terimakasih sudah berbelanja di toko kami." Kasir itu tersenyum ramah.

Marvel hanya sedikit tersenyum untuk menanggapi.

"Sip, udah selesai semua. Pulang ah."

Saat akan berjalan ke mobilnya, Marvel melihat siluet yang tidak asing dimatanya. Marvel berjalan mendekat, dua tentengan besar yang berisi barang belanjaan masih ia bawa. Setelah melihat lebih dekat, Marvel akhirnya menyadati kalau orang itu adalah Saga. Marvel yang terkejut melihat kondisi Saga lantas segera mendekat. Marvel panik saat melihat lebam dipipi temannya itu.

"Anjir, Saga lu kenapa?!"

"Ah, itu ga penting. Ayo, ayo kita pulang dulu."

Saga terlihat tanpa tenaga, mukanya lesu, pipinya memerah seperti terkena tamparan. Pipi Saga harus segera diobati. Marvel meletakkan asal semua barang belanjaannya, kemudian membantu Saga untuk berdiri.

"Kita pulang ya?"

"Jangan pulang dong, kita makan aja yuk." Tidak mungkin ia menemui teman temannya yang lain dalam kondisi berantakan. Cukup seperti biasa, Marvel yang selalu menemukannya saat kondisinya lagi berantakan begini.

"Yasudah, tapi kita ganti baju lo dulu ya. Terus entar pokoknya lo harus ceritain semuanya sama gw. Ga boleh bohong!"

Saga tersenyum tipis, "iya."

"Ayo, bisa sendiri ga? Mau gw bantuin?"

"Aman bisa sendiri kok gw."

"Bentar, gw masukin barang barang ini dulu kedalam mobil. Lo jangan gerak, gw bentaran doang kok. Gw bakal lari. Jadi tunggu ya!" Marvel berlari dengan dua kantong besar barang belanjaannya untuk ia masukkan ke dalam bagasi mobil. Marvel bergegas, soalnya ia menyuruh Saga untuk menunggu. Anak itu bosanan orangnya.

Saga menggeleng heran melihat kelakuan Marvel. "Padahal udah dibilang gw baik baik aja. Masih aja kayak biasa ya, Vel."

"Saga! Gw udah selesai!"

Marvel berlari kearahnya dengan tangan yang sudah kosong, tudak ada lagi barang belanjaan yang dibawanya.

"Iyaa, buruan kesini! Bopongin gw, lagi lemes banget nih kaki."

"Mau gw gendong aja ga?" tanya Marvel.

"Kuat lu?"

"Kuat gw mah. Lo ngeraguin kekuatan pemain basket kayak gw?"

"Iyain, kuat dah lu."

"Jadi lo beneran mau gw gendong."

"Ga tolol. Bantuin gw jalan aja udah," sahut Saga menolak mentah tawaran Marvel. Yakali ia mau digendong. Gini gini juga Saga masih kuat jalan kok.

"Serius ga apa?" tanya Marvel sekali lagi memastikan.

"Kapan gw bercanda Marvel. Udah ah, jangan ngide lu mau ngegendong gw. Yang ada dikira orang orang kita belok."

Marver tertawa. "Peduli amat sama omongan orang cok."

"Yok pergi."

Marvel menangguk. Ia meletakkan sebelah tangan Saga pada pundaknya. Marvel membopong Saga sampai kedalam mobil. Setelahnya mereka melaju menuju tempat makan.

***

"Jadi lo kenapa?"

"Eh, ini gw bagusnya mesen apa ya? Thaitea apa milkshake. Menurut lo bagusn mesen yang mana, Vel?"

"Mulai, mulai nih ngalihin topiknya. Gw seblak juga lu ye." Marvel menoyor main main kepala Saga. Kebiasaan emang, kalau udah ditanyain gini selalu ngalihin topik dia.

"Shhhh, apanya Vel?"

"Kenapa pipi lo bisa merah gitu? Abis ditampar? Sama siapa gw tanya."

"Biasa bokap gw."

"Lagi?"

Saga menggedikkan bahunya acuh, seakan itu bukan masalah besar baginya. "Ga sengaja lagi dia. Gw juga sih ga mau dengerin omongannya bokap, jadinya gini deh."

"Ga sengajanya berkali kali loh."

"Yaa, biasa."

"Lo cerita kek ke gw anjir. Masalah apa si lo sama bokap lu itu."

"Masalah keluarga cok, biasalah."

Marvel mengernyit kesal. "Biasa gimana? Pulang pulang dari sana lo digebukin, memar sebadan badan. Pulang dari sana ditampar. Pulang dari sana kepala lo berdarah. Itu biasa darimananya gw tanya?!"

Saga terdiam.

"Masih untung yang lain ga tau kejadian akhir akhir ini. Gw bisa aja bilangin ke mereka, tapi gw masih mau ngehargain keputusan lu. Gw tau lo gak mau ngerepotin yang lain, terutama Niko. Tapi gw mohon, gw minta sama lo, lo bebas mau ngerepotin gw kapanpun itu. Gw mohon gunain gw, Saga." Marvel sudah menyerah memikirkan cara agar Saga mau cerita.

Tertegun mendengar setiap kalimat yang di lontarkan Marvel untuknya, Saga tersenyum tipis. "Dengan lo ada disaat saat seperti ini aja udah membantu banget buat gw, Vel."

Marvel menengukupkan kepalanya keatas meja. "Tapi lo kalau ada masalah cerita dong. Kita semua khawatir tauk."

"Iyaa, besok gw cerita," ujar Saga dengan terkekeh.

"Ah, bohong. Lo pasti ga bakal cerita."

"Cerita entar."

"Bohong! Bohong! Lu pembohong."

"Ga bohong gw."

Marvel menengok kearah Saga. "Beneran nih ya?"

"Iyaa."

"Janji?"

"Janji."

"Awas aja kalau bohong."

"Kenapa emangnya kalau bohong?"

"Gw ceburin lo ke kolam buat jadi makanan ikan ikan gw."

"Jahatnya."

"Makanya jangan bohong lu!"

Saga tertawa lepas. Bahkan saat tatapan beberapa pengunjung kafe tertuju kearahnya ia tak lagi peduli. Marvel dengan cepat mampu mencharging energinya kembali.

GAMERS || NIKOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang