Oh, bagaimana ini?
Niko dalam masalah.
"Hei, kenapa diam? Nggak mau pesan sesuatu?"
Suara itu menyadarkan Niko dari lamunan. Ia melirik sedikit pada pemuda di hadapannya yang hanya tersenyum sambil menatapnya. Niko mengambil buku menu, lalu mencari, berpura pura menghiraukan pemuda itu. Astaga! Kenapa Niko bisa terjebak dalan kondisi yang tidak menguntungkan ini?
Helaan nafas terdengar dari bibir Niko.
"Sudah memutuskan buat pesan apa?"
"Sebentar." Itu jawab Niko. Singkat. Yah, berusaha ia singkat karena tidak ingin memperlebar percakapan di antara mereka.
Aduh, haruskan ia pura pura izin ke toilet, lalu kabur setelahnya?
Tidak. Tidak. Itu ide buruk. Akan lebih baik Niko segera menyelesaikan pertemuan ini dan beranjak pergi sesegera mungkin dari sana. Sebelum ada salah satu dari keempat temannya yang menyadari mereka.
"Kamu lebih pendiam dari yang ku kira, ya?"
Pertanyaan itu sebenarnya tidak menyinggung Niko sama sekali. Namun, sepertinya percakapan ini bisa membantunya untuk keluar dari situasi ini. Niko lalu menatap tepat ke arah mata pemuda itu, ia menatapnya sinis, seolah tersinggung dengan perkataan pemuda itu. "Jadi? Tidak menyukai sikap gw yang pendiam ini?"
Sedikit tawa keluar dari mulutnya. Niko ini benar benar sesuatu. "Tidak, tidak, justru aku senang dengan orang pendiam. Sangat tenang." Begitu pembelaannya.
Namun pembelaannya itu dibalikkan kembali oleh Niko.
"Oh? Kalau begitu kenapa tidak coba makan siang sendiri? Gw bisa pergi."
"Hmm, ku rasa itu ide buruk." Jawaban pemuda itu membuat Niko berdecak. Gagal. "Justru bersama orang sepertimu makan siang ini jadi lebih menarik." Itu lanjutan darinya. Pemuda ini begitu licin, sangat licin hingga tidak mudah dijebak. Ini menyusahkan Niko!
Kalau begini caranya, akan susah bagi Niko untuk kabur.
...
Oh, penasaran bagaimana Niko bisa terjebak dalam situasi seperti ini?
Sebenarnya, saat ia mencoba untuk membawa minumannya ke salah satu meja, Niko tak sengaja menabrak sosok ini. Akibatnya, sebagian minuman Niko tumpah dan mengotori jas miliknya. Tentu Niko sudah minta maaf dan berniat mengganti jas itu jika perlu. Namun, hal yang diinginkan orang itu justru makan siang bersama. Niko sempat ingin menolak, namun perkataannya tak terucap karena ia sudah terlebih dahulu ditarik untuk duduk pada mejanya.
Begitulah akhir mengenaskan kenapa Niko bisa berada di sini.
Sudah beberapa kali Niko meminta untuk ganti rugi saja, namun pemuda itu tetap ngotot ingin Niko menemaninya makan saja.
Setelah beberapa saat mengamati wajah pemuda itu, Niko baru sadar kalau wajahnya familiar dan pernah ia lihat di suatu tempat. Saat menggali kembali memorinya tentang pemuda itu, ingatan Niko kemudian mengarahkannya pada satu sosok.
Liam.
Benar, tak salah lagi pemuda ini adalah Liam!
***
"Lo sengaja ya?"
Liam menatapnya sambil tersenyum, menatapi Niko seolah tidak mengerti apa yang tengah ia bicarakan. "Hum?"
Niko menghela nafas. Biarlah, Liam juga tidak terlihat seperti orang jahat. Kalau pemuda itu macam macam nantinya, Niko hanya tinggal menghabisinya saja. Masalah pertahanan diri, Niko cukup percaya diri. Karena kalau kalian lupa, Niko ini merupakan pemegang sabuk hitam. Jadi ia sudah terlatih.
KAMU SEDANG MEMBACA
GAMERS || NIKO
Teen FictionNiko yang menjadikan game sebagai pengalih ke-overprotectivean keempat sahabatnya. Membuat alasan alasan masuk akal agar dirinya bisa bermain game seharian tanpa dilarang. Niko si maniak game. Juga keempat sahabatnya yang ternyata sama gilanya pada...
