8. Kapten Lovi

2.3K 220 3
                                        

"Itu Marvel!"

Tatapan Niko terfokus pada Marvel yang kini tengah menggiring bola pada area lawan.

Marvel berhenti berlari saat dihadang oleh tiga pemain lawan, tangannya masih mendribble bola, berusaha mencari celah dari ketiga orang itu. Marvel mengambil satu langkang kebelakang dan memposisikan bola pada tangannya untuk melakukan passing. Siapa sangka pada detik detik terakhir Marvel menukar posisi tangannya dan langsung melakukan shooting.

3 point tim Marvel dapatkan dari shootingnya itu.

Mata Niko berbinar sepanjang menonton pertandingan basket Marvel. Benar apa yang mereka katakan, kalau Niko melakukan sesuatu yang berhubungan dengan basket ia jadi berkeinginan untuk main basket lagi.

Pertandingan dimenangkan oleh tim Marvel dengan score 101-89

Kalau dipikir pikir tim sebelah juga ga kalah hebat. Ga heran si, soalnya kan sudah final juga, mana mungkin tim yang akan dilawan cupu juga. Tapi ya emang pada dasarnya tim Marvel jauh lebih hebat, emang pantas untuk menang.

Rasanya ingin main basket lagi setelah melihat pertandingan Marvel tadi.

"Yoo, kalian jadi menonton pertandingan gw ya. Gimana tadi? Permainan gw bagus banget, kan. Hasil latihan rutin selama sebulan emang berpengaruh banget." Marvel datang ke mereka, dan mengatakan hal itu dengan bangga.

"Beat gw sama Niko menang si." Marvin kembarannya nyeletuk, hal itu membuat Marvel bingung. Perjudian apa yang Marvin dan Niko lakukan kepadanya.

Niko yang mendengar namanya dibawa bawa langsung membantah. "Gw ga pernah bilang setuju sama taruhan lo itu ya!"

Marvin mengedikkan bahunya tak peduli. "Ga penting juga. Ucapan gw tetap benar kan, Marvel menang dengan point diatas seratus."

"Lo... percaya tim gw bakal cetak point diatas seratus ya?! Emang bener lo kembaran gw yang terbaik di seluruh dunia." Tidak sesuai harapan, Marvel malah tampak senang ketika mengetahui Marvin menjadikannya objek taruhan. Tidak heran juga, karena mau bagaimanapun ini Marvel, tidak ada yang bisa menebak isi pikiran ajaibnya.

Marvin yang lehernya dipeluk satu tangan oleh Marvel berusaha untuk menjauhkan tangan itu darinya. "Cuma gw kembaran lo didunia ini."

"Iya iyaa, percaya deh."

"Waduh ada mantan anggota gw nih disini."

Semua mata sontak menoleh kearah sumber suara.

"Hai Niko. Udah lama banget kita ga ketemu di gedung ini ya. Gimana kabar lo sekarang?"

"Oh, as you can see. Gw baik baik aja, Lovi." Niko tersenyum tipis saat membalas sapaan mantan kaptennya itu.

"Syukurlah. Keadaan kaki lo? Udah mendingan?" tanya Lovi yang sedikit membahas masalah sensitif itu dangan sedikit melirik kearah lutut Niko. Niko hanya tersenyum tipis tentang itu, seperti biasa mantan kaptennya ini terlalu blak blakkan, bahkan dari dulu saat Niko masih menjadi anggotanya.

"Sudah cukup baik, Lovi. Lo lihat gw udah bisa berjalan dengan baik kan."

Lovi mengangguk paham. "Kalau gitu ga mau ikut basket lagi? Gw yakin lu masih sangat ingat bagaimana cara memainkan permainan hebat seperti yang kita berdua lakulan dulu."

Niko tergelak kecil mendengarnya. Benar, ia jadi kangen permainannya dulu bersama Lovi. Andai saja lututnya tidak cedera mungkin saja Niko masih bermain dan menjadi anggota club Lovi sampai hari ini. Tapi keadaannya berkata lain. "Kalau keempat orang ini ngizinin gw mau mau aja ikut basket lagi. Coba tanya mereka deh."

Niko menunjuk keempatnya senggunakan jari jempolnya.

Lovi menoleh kearah mereka, disana ada salah satu anggotanya juga, ada ketos sekolah mereka, mantan ketos, satu lagi wajahnya terlihat tidak asing dimatanya. Sangking fokusnya ia berbicara dengan Niko tadi, ia sampai mengabaikan keempat orang dibelakang Niko ini.

Niko yakin Lovi sudah menyadarinya. Jawaban dari pertanyaan Niko tadi sudah jelas sekali. Tanpa menoleh kebelakangpun Niko tau kalau keempatnya sekarang tengah melemparkan tatapan tidak setujunya.

"Kalian-"

"Ga boleh!" jawab mereka serempak.

Bahkan Lovi belum menyelesaikan kalimatnya, tapi sudah dipotong begitu saja. Lovi tau tatapan tidak setuju itu. Sayang sekali, padahal Lovi ingin kembali bermain basket dengan Niko. Apa boleh buat kalau keputusan Niko bergantung pada keempat pawangnya ini.

"Kalian kompak sekali," ujar Lovi.

"Tentu saja!" Keempatnya kembali serempak menjawab.

Lovi menoleh kearah Niko. "Niko lo punya temen yang kompak, ya. Bagus."

"Apanya yang bagus kapten sialan?! Lo ngeledek kami ya? Sana jauh jauh, jangan ajakin Niko main bakset lagi! Niko ga akan pernah main basket lagi!" Marvel maju kesamping Niko sambil menunjuk nunjuk wajah datar Lovi.

Lovi bergantian menoleh kearah Marvel dan juga Niko. Setelahnya ia mengangguk, tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan disini. "Baiklah, kalau gitu gw pergi dulu."

Saat Lovi membelakangi mereka hendak pergi, Marvel mengacungkan jari tengahnya dengan membuat muka jelek dan menyumpah serapahinya. Saat Lovi berbalik, Marvel menyembunyikan jarinya dan pura pura tak tau.

"Marvel, karena lo terlambat tadi pagi, jadwal latihan khusus lo diperpanjang."

Marvel melotot kaget. "Loh, mana bisa gitu anjir?!"

"Bisa, lo terlambat hampir satu jam soalnya." Lovi berbalik dan kembali berjalan tanpa memperdulikan rengekan tidak terima Marvel.

"Kapten, katanya gw ga bakal kena hukuman kalau kami menang. Tim kita menang loh. Kok jadwal latihan gw masih ditambah? Lo bohong anjir. Gw ga mau latihan tambahan pokoknya." Marvel sedikit berlari mengejar kaptennya itu, menyuarakan protesannya karena Lovi yang tiba tiba menambah jadwal latihannya.

"Siapa peduli? Gw personal sama lo."

GAMERS || NIKOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang