Niko yang menjadikan game sebagai pengalih ke-overprotectivean keempat sahabatnya. Membuat alasan alasan masuk akal agar dirinya bisa bermain game seharian tanpa dilarang.
Niko si maniak game. Juga keempat sahabatnya yang ternyata sama gilanya pada...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*
Minggu pagi yang cerah, Niko hanya terduduk diam tanpa melakukan apapun. Sekarang ia hanya berdiam diri sambil menemani Marvin yang terlihat berkutat dengan laptopnya. Katanya sih tugas OSIS.
Sudahkah diinfokan kalau Marvin itu merupakan seorang ketua OSIS?
Ya, Marvin itu ketua OSIS. Niko pikir Marvin sangat cocok menjadi ketua osis, karena Marvin itu orangnya sedikit kaku dan sangat realistis, Marvin juga terlihat berwibawa. Sangat berbeda dengan kembarannya, Marvel. Marvel sangat petakilan, sangat aktif dan terlalu banyak gerak. Marvel cocok menjadi pemain basket, badannya sangat atletis. Bukan berarti Marvin tidak memiliki badan yang atletis seperti Marvel, hanya saja dari segi badan Marvel lebih unggul dibanding Marvin. Tapi, kalau masalah otak, itu beda lagi.
Niko lumayan sering bermain game bersama Marvel, tapi biasanya Marvel menemaninya hanya sebentar atau saat Marvel lagi ada maunya saja.
Marvel itu lebih suka melakukan hal yang membutuhkan banyak gerakan, seperti olahraga contohnya. Kalau hanya duduk diam dengan bermain game seharian seperti yang tiap hari Niko lakukan, mustahil Marvel mau melakukannya. Mungkin Marvel akan mati kebosanan dibuatnya.
"Marvel mana?"
"Latihan basket katanya," jawab Marvin yang masih saja sibuk berkutat dengan laptopnya.
Menjadi ketua OSIS yang sangat sibuk pasti akan sangat melelahkan pikir Niko. Melihat Marvin yang hampir setiap hari mentengin laptop atau layar handphonenya membuat Niko berpikir demikian. Bahkan beberapa kali Niko mendapati Marvin bergadang karena tugas tugasnya itu. Kalau ketahuan, saat itu juga Niko akan langsung mengomeli Marvin, dan menyuruhnya untuk segera tidur. Marvin terkadang terlalu memaksakan dirinya, padahal masih ada hari esok.
"Temani gw main basket dong, Vin."
Mendengar itu Marvin dengan tegas langsung menggeleng, menolak permintaan Niko. Tapi tetap saja fokus matanya masih tertuju pada laptop di hadapannya.
"No. Ngegame aja sana. Bang Nilam ngebolehin lo ngegame kok tadi."
Niko menghela nafasnya kasar. Kemudian ia sandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Males ngegame gw."
Mendengar itu sontak Marvin menghentikan kerjaannya, lalu menatap serius kearah Niko yang kini tengah memejamkan kedua matanya. Niko yang merasa ditatap lantas membuka mata. Niko mendapati Marvin yang tengah menatapnya lamat. Niko bingung.
"Apa?" tanya Niko terheran dengan Marvin yang tiba tiba menatapnya.
"Lo sakit?"
Niko sontak menggeleng cepat. "Engga!"
"Terus kenapa?"
"Kenapa apanya?" Niko bingung sendiri dengan pertanyaan Marvin.
Apa yang Marvin tengah coba tanyakan kepadanya. Niko rasa sedari tadi tidak ada yang salah dengan percakapan mereka.