16. Lost - (?)

487 47 8
                                        

"Pagi, Niko!"

Begitulah kira kira sapaan teman seman sekolahnya.

Niko memang terkenal di sekolah, namanya sering disebut karena ia merupakan streamer gaming yang cukup dikenal. Bahkan banyak teman temannya yang menonton Niko, mendukungnya. Niko bersyukur mendapatkan banyak dukungan dari teman teman di sekitarnya.

Niko membalas semua sapaan itu dengan senyuman.

Satu yang Niko tidak ketahui, bahwa senyumannya dapat membuat dunia seseorang berpaling hanya untuknya dalam sejenak.

Senyuman Niko memang berefek sebesar itu!!

Kali ini ia tidak bersama teman temannya. Marvin tadi berangkat duluan karena ada tugas OSIS yang harus segera ia selesaikan, Marvel juga memiliki jadwal latihan basket yang entah kenapa dimulai lebih awal dari biasanya. Yah, kemungkinan besar itu ulah Kapten Lovi, haha. Lalu, Saga, anak itu tiba tiba kembali menghilang di pagi hari meninggalkan Niko sarapan sendiri dengan makanan yang sudah Nilam siapkan.

Nilam? Mungkin ada sesuatu yang harus ia kerjakan.

Yah, Niko juga tidak masalah. Kali ini ia bisa menikmati waktunya sendiri. Walau waktu yang ia habiskan bersama teman temannya lebih menyenangkan sih.

Setelahnya, kegiatan sekolah Niko berlanjut seperti biasa. Niko tidak kesusahan sedikitpun. Matematika? Ia selesaikan dengan mudah. Fisika? Ga terlalu buruk. Kimia? Niko ga pernah kesusahan dalam mengerjakan soalan Kimia, mungkin karena ia sudah terlalu terbiasa?

Ketiga pelajaran berat itu digabung dalam satu hari. Harusnya wajah Niko terlihat seperti teman teman sekelasnya, tampak jelas raut capek tercetak di wajah mereka. Namun, wajah Niko saat ini malah lempeng, seakan tidak terjadi apapun sebelumnya. Sejujurnya, yang ada dipikiran Niko sekarang adalah game yang menantinya di rumah. Niko tidak sabar ingin memainkannya.

Saat memikirkan tentang game, wajah lempeng Niko sedikit berubah, matanya terlihat sedikit berbinar.

"Niko?"

Niko tersadar dari lamunannya, ia lalu menoleh ke samping. "Oh, Saga!"

"Ngapain ngelamun, hm? Nungguin siapa?"

"Lagi nunggu Marvel. Dia janji mau ke ruangan OSIS sama sama buat ketemu Marvin." Menjawab pertanyaan Saga ia jadi tersadar, mukanya langsung bete. Sudah hampir tiga puluh menit Niko menanti Marvel, tapi sampai sekarang batang hidung si pemain basket itu belum juga kelihatan.

Saga terkekeh melihat perubahan raut wajah Niko. "Mau bareng gw aja?"

"Marvel gimana?" tanya Niko.

"Kabarin aja dia, bilang kalau kita jalan duluan ke tempat Marvin."

Niko mengangguk, ia lalu mengeluarkan handphonenya untuk mengabari Marvel. Setelah pesan terkirim, Niko menyimpan kembali handphonenya, dan sedikit berlari kecil untuk menyamakan langkahnya dengan Saga.

"Udah?"

"Hum, udah."

Saga mengulurkan sebelah tangannya ke arah Niko. "Ayo," ujarnya.

Niko tanpa bantahan menerima uluran tangan Saga. Dengan ini Niko ga akan ketinggalan jauh di belakang nantinya. Langkah Saga itu lebar banget, Niko sampai kesusahan mengimbangi langkah teman jangkungnya ini.

***

"Loh, ada Ilam juga?"

Nilam yang menyadari keberadaan Niko dan Saga langsung melontarkan pertanyaan andalahnnya. "Lo udah makan, kan?" tanyanya saat Niko mendekat.

"Udah, gw tadi makan di kantin pake nasgor. Kalian udah pada makan?"

Saga dan Nilam serempak menjawab sudah. Tersisa Marvin yang tampak tak mendengarkan pertanyaan Niko tadi, Marvin sendiri masih sibuk dengan beberapa kertas di tangannya. Marvin tampak tenggelam dalam kesibukannya sendiri.

Tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan, Niko berjalan mendekati Marvin.

"Vin."

"Hm." Hanya dehaman yang Marvin berikan sebagai jawaban. Bahkan Marvin sama sekali tidak mengalihkan pandangannya le arah Niko yang berdiri di sampingnya.

Niko? Tentu ia kesal. Satu hal lain yang tidak Niko sukai selain waktu bermain gamenya diganggu, hal itu adalah Niko benci diabaikan.

Tiba tiba-

Sebelah tangan Niko mencengkram dagu Marvin, dan memaksa anak itu untuk menoleh ke arahnya. Jangan bingung kenapa tangan kecil Niko memiliki tenaga sekuat itu, sudah dibilang kan kalau Niko ini lulusan sabuk hitam karate. Hanya untuk mematahkan beberapa tulang seseorang bukan hal sulit untuknya.

...

Marvin tampak kaget dengan perlakuan tiba tiba Niko.

Nilam sendiri hanya diam. Sudah dari tadi ia meminta Marvin untuk istirahat, tapi anak iti tetap keras kepala dan berencana untuk mengerjakan kesemua tugas OSIS  yang menumpuk itu hari ini juga. Biarlah Niko yang menangani keras kepalanya Marvin. Mari melihat siapa yang kepalanya lebih keras.

Terdengar siaulan dari bibir Saga yang berdiri di samping Nilam. Hal yang Niko lakukan sekarang terlihat keren di matanya.

Niko menatap lurus kearah mata Marvin yang tengah kebingungan. Marvin bingung harus bereaksi seperti apa. Namun, satu hal yang ia tau kalau Niko kini tengah kesal kepadanya.

"Fine, gw istirahat Niko." Akhirnya Marvin yang meruntuhkan egonya terlebih dahulu.

Kekesalan Niko akan berlangsung lama jika ia tidak mengalah. Lebih baik ia melakukan apa yang Niko inginkan sekarang.

Cengkraman pada dagu Marvin belum sepenuhnya terlepas. Niko masi mentapnya tajam dari atas. "Lo tau gw ga suka diabaikan, kan? How dare you."

Marvin, ayo segera selesaikan ini, atau perang dunia akan segera terjadi setelah ini!

Marvin berusaha tenang, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk menenangkan Niko. Tangan Marvin yang sudah tidak lagi memegang apapun terulur untuk mengelus punggung Niko.

"Gw minta maaf, ya? Maaf udah mengabaikan lo, maaf udah lalai sama waktu istirahat gw sendiri. Gw akan berusaha untuk ga ngulangin hal yang sama lagi." Marvin mengucapkan kalimat demi kalimat dengan nada tenang tapi tetap penuh penyesalan. Tangannya masih setia menguap usap punggung Niko. Marvel hanya harus membuat Niko tenang.

Cengkraman Niko mulai sedikit mengendur.

Marvin sedikit tersenyum ke arah Niko, "temenin gw beli makanan, mau?"

Niko menarik tangannya dari pipi Marvin. Ia kemudian mengangguk pelan. Saat ia sadar, pipi Marvin tampak memerah. Niko merasa bersalah karenanya. Bibir Niko melengkung sedih, matanya sedikit berlinang.

"Maaf, Vin." Niko berujar lirih.

Tangannya menyentuh pipi Marvin yang memerah dengan perlahan. "Ini sakit?" tanyanya lagi dengan mata yang sudah siap menumpahkan air matanya.

Marvin tersenyum lembut. Ah, mana mungkin anak semanis ini mempu menyakitinya.

Marvin menarik Niko untuk masuk ke dalan pelukannya, kemudian membiarkan Niko bersandar pada bahunya. Marvin mulai mengusap rambut Niko, menenangkannya kembali, seakan apa yang Niko lakukan barusan tidak masalah untuknya.

"Shhhh, Avin minta maaf, ya? Maaf udah bikin Iko khawatir. Pipi Avin ga sakit ko. Iko jangan sedih ya, Avin ga marah sama sekali."

Niko hanya terdiam, ia mengeratkan pelukannya.

Jika kejadian ini membuat orang orang yang berharga baginya pergi, Niko tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.

Karena terkadang...

Niko juga takut dengan dirinya sendiri.













To Be Continued!!

siapa yg masih nungguin cerita ini?? hehe

GAMERS || NIKOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang