18. Babak Belur

556 52 2
                                        

"Vel, astaga... lo kenapa?! Kok babak belur gini?"

Semua yang berada di ruangan menampilkan raut wajah khawatir. Bagaimana tidak, tiba tiba wajah Marvel menjadi trending di base twiter sekolah mereka. Niko dengan segera membawa Marvel untuk duduk, ia mulai menbersihkan luka Marvel juga mengobatinya.

Marvel sedari tadi hanya diam. Matanya enggan bersitatap langsung dengan Niko.

Niko yang melihat itu menghela nafasnya. "Jarang banget lo berantem kayak gini. Ada yang ganggu?"

Marvel tampaknya masih enggan untuk menjawab, ia hanya menoleh ke samping dengan wajah masam sedari tadi. Kali kedua pertanyaan Niko dihiraukan Marvel, itu cukup membuat Niko kesal. Tangannya yang tadi berhati hati agar tidak menekan terlalu keras luka Marvel, kini malah sengaja menekannya keras yang tentu berhasil membuat Marvel kesakitan.

"Shhhh, sakit."

"Jawab bertanyaan gw Marvel. Kenapa lo bisa babak belur begini?"

Marvel akhirnya menatap mata Niko, tangannya masih berada di pipinya, menjaganya agar Niko tidak semena mena dengan luka di pipinya.

Kini tatapan Marvel beralih kearah Marvin, kembarannya. Astaga, Marvin tanpak sudah siap menerkamnya sekarang. Marvel merinding, dengan cepat ia beralih tatap ke arah Niko.

"Mereka ngehina orang yang gw sayang. Saat itu rasanya gw ga bisa ngebiarin mereka pergi begitu aja. Jadi... gw mukulin wajah mereka satu satu sebagai balasan."

Marvel akhirnya menjawab dengan sejujurnya. Ia masih merasa kesal sekarang, perkataan bajingan itu masih terbayang bayang di kepalanya. Sial, jika guru tidak datang, Marvel pastikan mereka akan menemui ajalnya. Berani beraninya menghina seseorang yang penting untuknya, tak bisa dimaafkan.

Semuanya hening. Marvel juga diam. Namun perasaannya tak nyaman.

"Maaf."

"Hm, untuk apa?"

"Lo semua khawatir kan? Maaf buat kalian iadi khawatir."

Lagi lagi untuk beberapa saat semuanya terdiam. Namun kemudian Marvin menghela nafasnya, ia melangkah lebih dekat ke arah Marvel, kembarannya. Tanggannya terangkat, ia menyentil pelan dahi Marvel, ringisan tertahan terdengar dari mulut kembarannya itu. Setelahnya Marvin lanjut mengusap rambut Marvel yang sedikit lepek, entah itu akibat keringat atau darah di kepalanya.

"Lo bener bener ga berubah, ya? Ga pernah berhenti buat gw khawatir." Marvin menatap lurus ke arah Marvel. Ia tersenyum tipis, ada sirat kekhawatiran di matanya. Ah, bagaimanapun, Marvel tetaplah adiknya, ia tidak akan pernah bisa berhenti khawatir tentangnya.

"Lo khawatir juga?" tanya Marvel.

"Jelas gw khawatir, bego."

Marvel menundukkan kepalanya, ia meraih sebelah tangan Marvin untuk digenggamnya. Setelahnya Marvel kembali menatap manik kembarannya. "Maaf ya karena buat lo khawatir."

Marvin dapat melihat gambaran Marvel kecil yang menatapnya. Kalau begini apa boleh buat, Marvin jadi tidak tega untuk memarahi adik kembarnya ini lebih lama.

"Hm, lain kali hati hati. Lo bisa panggil gw kalau ada masalah."

Marvin hanya mengangguk, "iya."

Terkadang Marvin ini berlebihan. Apa yang sebenarnya ia takutkan? Marvel sudah terbiasa berolahraga, tubuhnya yang atletis ini cukup kuat untuk berantem sama lima kroco sekaligus. Namun Marvel memilih untuk mengiyakan Marvin saat ini karena ia dapat melihat kekhawatiran di wajah kembarannya itu, setidaknya setelah Marvel mengiyakan perkataannya, Marvin terlihat sedikit lebih tenang. Syukurlah.

"Jadi, siapa yang orang itu hina sampai buat lo babak belur segininya."

"Hm, anak sekolah sebelah. Awalnya dia ngomongin Marvin, tapi gw masih diemin. Pas mereka mulai ngomongin Niko gw ga bisa diem lagi. Dia bilang Niko cacat gara gara Niko ga bisa main basket lagi. Bener bener mulut sampah." Ekspresi Marvel berubah marah. Namun satu tepukan pada punggunggunya kembali menyadarkan Marvel. Marvel menoleh ke arah Niko, senyum tipis yang Niko berikan sangat membantunya untuk tenang.

"Sial, siapa yang berani bilang kayak gitu tentang Niko?!" Kini Saga yang mulai tersulut emosinya.

Tebak siapa yang menenangkan, Saga? Siapa lagi yang menenangkannya kalau bukan Niko.

"Huft, kalian tenanglah. Gw ga masalah kok."

"Ga masalah apanya?! Bajingan itu ngehina lo Niko. Gimana caranya kita tenang coba?" Saga kembali angkat suara. Sungguh cerita Marvel tadi berhasil menyalakan sumbu apinya.

"Asal ga sampai ngelukai gw, biarin aja. Jangan terlalu berlebihan." Kini tatapan Niko beralih ke arah Marvin dan Nilam, ia tau betul tabiat kedua temannya ini, pasti mereka tengah merencanakan sesuatu. "Lo juga, Vin. Jangan aneh aneh. Inget kalau lo itu sekarang ketua OSIS. Jangan buat nama lo sendiri jelek cuma karena masalah sepele begini."

Marvin membuang mukanya ke samping, lalu berdecak kesal. "Ck, iya."

Nilam yang paling kalem, yang oaling dewasa. Kelihatannya aja yang seperti itu. Nyatanya Nilam sangat mudah meledak. Maka sebelum hal buruk terjadi (pada orang malang yang berani menghina Niko itu), Niko harus mendinginkan kembali kepala Nilam.

"Nilam, denger gw?"

"Hm."

"Jangan, ya."

Nilam menatap dalam mata Niko. Hah, kalau seperti ini ia bisa apa. "Lo terlalu khawatir. Padahal gw bisa kasih sedikit pelajaran pada bajingan itu."

"Apanya yang sedikit. Jangan kira gw ga tau jalan pikir kepala lo itu ya, Nilam."

Nilam menghela nafasnya. Yah, asal Niko baik baik saja sepertinya tidak masalah jika ia menahan diri sedikit. "Iya, iya."

Emang satiran paling kuat itu dipegang oleh satu orang di sini. Niko, sosok yang mampu membuat semuanya bertekuk lutut, mengiyakan perkataannya, dan menjaga mereka agar tetap berada dalam kendali.

Niko, dia merupakan wujud hati dari teman temannya.











To Be Continued

Aku bakal up lagi kalau vote nya 20++ ^^ atau komennya 50++. so, jangan lupa votemen yahh teman temann, boleh kok spill reaksi kalian di tiap scene ceritanyaa

GAMERS || NIKOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang