"Hah, mabuk gimana?!"
"Kalian cek twit Liam deh coba."
Baik Niko maupin Nilam segera mencek akun twitter mereka masing masing. Benar yang Marvin bilang, Saga mabuk saat ini.
Nilam dengan panik langsung beranjak, mengambil kunci mobil juga jaket lalu melesat pergi, hendak menjemput Saga. Ia juga sedah mengirimkan pesan kepada si pemilik akun untuk menjaga Saga dulu sebelum durinya sampai.
"Vin, jaga rumah, jagain Niko! Gw mau jemput Saga dulu. Tu anak emang gila gilanya mabuk di luar, padahal bisa mabuk di rumah bareng."
"Nilam mau ikut!"
"Lo tunggu sini aja bareng Marvin. Gw jemput saga sebentar doang."
***
"Lo kenapa kok mabuk elah." Marvel berucap gusar.
Saat ia pulang ke rumah, setelah pulang dari latihan basket, Marvel terkejut karena tiba tiba menerima kabar kalau Saga mabuk. Marvel segera bergegas keatas untuk mengecek keadaan teman seperumahannya itu.
"Liam bilang dia nemuin Saga diam di tepi jalan dalam keadaan mabuk," sahut Nilam dari belakang, karena memang dialah yang menjemput Saga ketempat Liam tadi.
"Ni anak ga bisa cerita apa ya? Pake acara mabuk begini." Marvel mengusak rambutnya kesal, ia cukup kesal melihat keadaan Saga saat ini. Atau ia kesal pada dirinya karena masi belum bisa menjadi tempat yang aman, rumah bagi Saga. Anak itu terlalu tertutup. Marvel pikir setelah pertemuan Saga dengan Niko itu akan membuat hatinya sedikit melunak, dan terbuka untuk mulai menceritakan masalahnya kepada mereka. Ternyata tidak, Saga masih sama saja seperti Saga yang dulu. Saga yang menyimpan masalah hanya untuk dirinya sendiri.
Marvel menatap Saga yang terbaring di kasurnya dengan tatapan sendu. "Lo bener bener kekanakan kalau begini terus, Ga. Apa gunanya lo disini kalau lo tetap sendiri?"
Marvel berbalik, ia merasa kesal pada dirinya. Kenapa dirinya menjadi seseorang yang tidak peka begini? Bahkan saat temannya membutuhkan dirinya, Marvel tidak menyadari keresahan temannya itu.
Marvin yang sedari tadi hanya melihat, ia lantas menghela nafasnya. Cukup bagi kembarannya ini untuk menyalahkan dirinya sendiri. "Sana mandi, terus istirahat. Saga biar gw dan Nilam yang jagain."
"Niko mana?"
"... ah benar, dimana anak itu?"
***
Niko terdiam menatap langit yang mulai mendung. Awan awan bergerak lambat, udara mulai terasa dingin. Tanda tanda akan turunnya hujan itu Niko abaikan, ia masih terduduk diam di atas kursi yang memang tersedia pada rooftop apartmen mereka. Untungnya lagi tidak ada orang di rooftop saat ini, Niko jadi bisa menggunakannya untuk bermenung.
Mata Niko terlihat lebih kelam. Sesuatu menganggu pikirannya, sesuatu mengganjal di hatinya. Niko merasa takut.
Rasa takut ini berbeda dari rasa takut saat ia dihadapkan dengan monster game level max yang mengejarnya. Rasa takut ini berbeda dengan rasa takut saat ia tidak diperbolehkan main game seharian oleh Nilam. Rasa takut ini sangat asing baginya. Niko takut kembali sendiri seperti awal mula ia belum bertemu dengan empat bocah yang ia pungut. Niko rasanya takut kembali pada dirinya di masa lalu. Padahal Niko yang dulu bukanlah tipe seseorang yang akan memikirkan hal semacam ini. Makanya semua ini terasa asing bagi Niko.
Dipikirannya, mereka bisa saja pergi meninggalkan Niko saat ini juga dan Niko tidak bisa melarang keputusan mereka itu. Niko tidak punya wewenang untuk menolak keputusan mereka untuk meninggalkan-(nya) rumah ini.
Tangan Niko merambat pada rambut hitamnya, tangan kirinya itu menggenggam helaian rambut yang dapat tergenggam oleh tangannya. Niko menghela nafas berat.
Niko tidak seharusnya membuka diri pada orang lain.
Ternyata ia takut, sangat takut ditinggalkan.
"Hujan anjir, ngapain diam disini?!"
Niko tersentak.
Niko menoleh kebelakang mendapati Marvel yang terlihat panik. Kepala Niko terteleng bingung. Rasanya udara semakin dingin.
"Niko lo basah! Ayo buru masuk. Anjir ngapain si ujan ujanan. Lo mau sakit, hah?!"
Niko mendongak keatas, setetes air masuk kedalam matanya, hal itu refleks membuat kedua mata Niko tertutup. Ternyata hujan, pantas saja Niko merasa tubuhnya mulai dingin. Niko menadahkan tangannya menampung air hujan, menatap lamat beberapa tetes air yang tertampung pada tangannya.
Marvel geram melihat Niko yang tak kunjung beranjak dari duduknya. Dengan kesal Marvel akhirnya menerobos hujan itu untuk menjemput Niko. Agar cepat, Marvel segera menggendong Niko untuk masuk kedalam rumah mereka. Postur tubuh Niko yang kecil sangat memudahkan Matvel untuk meminandahkan Niko.
Mereka berdua masuk rumah dalam keadaan basah.
Marvel mengabaikan jejak air mereka yang ikut masuk kedalam apartmen. Marvel menggendong Niko sampai mereka tiba di kamar mandi. Marvel langsung memasukkan Niko ke dalam bathtub, lalu menyetel suhu air agar Niko tidak kedinginan atau kepanansan saat air terisi nanti.
"Buka baju, mandi."
Niko masih terdiam, hal itu kembali membuat Marvel mendengus. Ia menghampiri Niko, dan bantu membuka bajunya yang basah itu. Lambat banget, Marvel kesal sendiri dibuatnya.
"Udah, mandi ya. Gw tunggu diluar. Gw siapin baju lo dulu." Marvel hendak keluar dari kamar mandi, namun tertahan karena Niko memanggilnya.
"Marvel."
"Hm?"
"Jangan tinggalin gw."
Kening Marver menyernyit tak mengerti. "Hah?"
"... ga jadi."
Marvel terdiam, ia masih mencerna apa maksud dari perkataan Niko tadi. Marvel berfikir sebentar, lalu kembali bersuara.
"Lo mau gw nungguin lo mandi disini?"
Muka Niko berubah datar. "Tolol, sana keluar lu."
"Jahat banget. Tapi kalau lo mau gw bisa nungguin lo sampe selesai mandi disini kok." Marvel menaik turunkan alisnya, menantikan reaksi yang akan Niko keluarkan.
"Najis."
Marvel tertawa ngakak. Memang seperti itulah harusnya respon Niko saat ia tengah menjahilinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GAMERS || NIKO
Roman pour AdolescentsNiko yang menjadikan game sebagai pengalih ke-overprotectivean keempat sahabatnya. Membuat alasan alasan masuk akal agar dirinya bisa bermain game seharian tanpa dilarang. Niko si maniak game. Juga keempat sahabatnya yang ternyata sama gilanya pada...
