17. Flashback Marvin

331 26 3
                                        

Niko, Marvin, Saga dan juga Nilam duduk melingkar pada salah satu meja di dalam ruangan OSIS, yang kini mereka jadikan sebagai tempat mereka berkumpul. Marvin, sang ketua OSIS SMA Brawijaya tengah menikmati makan siang serta waktu istirahatnya setelah berkutat lama dengan pekerjaannya sebagai ketua OSIS. Karena udah dimarahi Niko juga...

Yah, memang Marvin sering kali melupakan makan siangnya atau sekedar berhenti untuk beristirahat dari semua tugas tugasnya.

Marvin itu ambisius, selagi bisa ia kerjakan sekarang, maka akan ia lakukan. Visi nya juga sangat tinggi, tak heran selama masa jabatannya sebagai ketua OSIS, SMA Brawijaya mampu mendapatkan penghargaan penghargaan berkelas baik di kancah nasional bahkan internasional, dengan campur tangan OSIS di dalamnya tentunya.

Namun, ambisi Marvin yang tinggi inilah yang membuat teman temannya sedikit was was, terutama Niko.

Saat pertama kali bertemu Marvin di tahun pertama, Marvin hanyalah seorang jenius yang ambisius. Melihat Marvin yang tampak tekun setiap kali pembelajaran dimulai membuat Niko kagum. Bahkan tak jarang Marvin dipuji oleh guru guru di sekolah mereka karena kejeniusannya. Sampai saat Niko melihat satu sisi yang tidak seharusnya ia lihat dari Marvin.

Saat itu, suasana ramainya waktu istirahat sangat terasa.

Siswa siswi berhamburan untuk pergi menuju kantin sekolah, mengisi perut mereka yang kosong. Niko salah satunya. Namun, saat melihat ramainya isi kantin, Niko memutuskan untuk berbelok arah. Niko kurang suka keramaian, jadi ia memilih untuk mengalah dan pindah tempat istirahat saja. Mungkin ia akan menunda terlebih dahulu makan siangnya. Lagipula ia memiliki dua buah roti yang bisa mengganjal perut kosongnya, setidaknya untuk beberapa jam kedepan.

Karena itulah Niko memutuskan untuk menuju rooftop sekolah. Niko berencana untuk beristirahat di sana.

Rooftop, tempat itu menjadi tempat pertama Niko berbicara langsung dengan Marvin, dan juga melihat sisi Marvin yang lain. Sisi yang tak pernah Marvin perlihatkan di muka umum.

Pada awalnya Niko hanya bisa terdiam menyaksikan kejadian di hadapannya.

Di sana, Marvin terduduk lemas dengan salah satu tangannya memukul kepalanya beberapa kali.

Niko tak dapat melihat jelas raut wajah Marvin saat itu, wajah Marvin tertunduk. Niko terdiam, ia tampak bingung harus melakukan apa di situasi seperti ini.

Sejenak, Marvin terdiam.

Terdengar erangan letih dari sosok di seberangnya. Niko menggenggam erat sebuah paperbag berisi dua bungkus roti di tangannya. Melihat kondisi Marvin saat itu membuat hatinya sakit.

Marvin terlihat menderita dengan pemikirannya sendiri.

Tak lama, Niko tersentak melihat Marvin menghantam kepalanya sendiri pada tembok di belakangnya. Mata Niko terbelalak kaget. Astaga! Itu akan mengakitinya. Paperbag berisi dua bungkus roti itu Niko jatuhkan begitu saja, Niko segera berlari kearah Marvin yang masih melakukan aksinya. Saat sampai di tempat Marvin, Niko segera meletakkan punggung tangannya pada sisi tembok, untuk menahan hantaman yang Marvin lakukan pada kepalanya.

"L-lo ngapain?!" teriak Niko dengan sedikit panik.

Marvin melirik sedikit kearahnya. Saat itu bahu Niko menjadi lemas. Tatapan itu, tatapan tanpa semangat hidup. Marvin menatapnya dengan tatapan kosong, dan bagi Niko itu adalah tatapan yang paling mengerikan.

Marvin tidak berbicara apapun setelahnya.

Untungnya, Marvin tidak melanjutkan kegitan yang menyakiti dirinya.

Marvin hanya tertunduk, tangannya terkulai lemas di atas lantai.

Niko masih meletakkan punggung tangannya pada sisi tembok, jaga jaga kalau seandainya Marvin kembali menghantam kepalanya pada sisi tembok. Niko tak peduli dengan punggung tangannya yang sedikit memar karena mendapatkan gesekan dan juga hantaman dari kepala Marvin. Hal terpenting saat ini adalah untuk memastikan Marvin tidak lagi menyakiti dirinya sendiri.

GAMERS || NIKOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang