Hesa membuka matanya secara perlahan, ia lalu menyentuh bahunya sendiri.
Terakhir kali, ia melihat Heeseung menghilang setelah saudaranya yang lain memutuskan untuk berhenti melakukan teror.
Jungwon menepuk bahunya dengan wajah sendu, dari ucapanya terlihat bila setan itu merasa bersalah dengan keputusan sepihak dari Heeseung.
Hesa reflek menangis setelah mengingat semua kejadian itu.
Tak lama, pintu terbuka yang membuat Hesa buru2 menghapus air matanya.
"Kak,"
"Khan,"
Arkha tersenyum melihat si kakak kelas yang sudah bangun.
"Kenapa loe nangis?" ucap Arkha.
"Bukan apa2" ucap Hesa.
"Gak masalah kok kalo loe gak mau cerita dulu, emang lebih baik loe fokus dulu sama kesembuhan loe," ucap Arkha.
Hesa menoleh ke lemari kecil yang ada disamping ranjangnya, di depan lemari itu ada sebuah tongkat.
"Gips?"
"Loe kecelakaan, mobil loe nabrak pohon dan kaki loe kejepit diantara body mobil, makanya untuk sementara waktu loe perlu itu," ucap Arkha menjelaskan.
Hesa perlahan ingat bila tadi ia pergi dari sekolah setelah mendapat telfon dari Heeseung yang mengatakan Joan ada bersamanya, Hesa panik sampai lupa mengecek mobilnya yang ternyata mengalami rem blong, ia menabrakan mobil ke pinggir jalan lalu Heeseung muncul dan membenturkan kepalanya ke stir.
"Tunggu. Joan, kita harus cari dia?!"
Arka langsung menenangkan si kakak kelas yang terlihat bergerak gelisah. "Kak tenang, Kayn berhasil nemuin Joan dan gue sama dia udah nyelamatin Joan."
"Beneran?" ucap Hesa.
"Iya. Tadi pas gue mau nyari loe, Kala ngajak gue nolongin Joan dulu karna menurut dia, loe bakal-bakal baik aja." ucap Arka.
Hesa menghemebuskan nafasnya lega setelah mendengar perkataan Arka, ada satu hal lagi yang sepertinya telah selesai.
~~~~~
Hesa kini beristirahat sendirian diruanganya seusai beberapa temanya datang menjenguk.
Dokter mengatakan bisa melakukan rawat jalan, jadi Hesa menghubungi Jaehyuk agar pulang sekolah nanti datang menjemputnya.
"Males juga nginep disini, mending rawat jalan," ujarnya santai sembari melahap buah apel ditangan.
Kriettt, pintu terbuka perlahan menampakan si pemuda manis bersurai merah.
"Hai kak, gimana keadaan loe," ucap Kayn.
Hesa diam sejenak menatap pemuda itu, pikiranya melayang ke masa lalu tepatnya kejadian di gudang bawah tanah.
"U-Udah baikan kok, bahkan boleh pulang," ucap Hesa. Dadanya sekilas terasa nyeri, namun ia berusaha menetralkan perasaannya.
"Oh bagus deh kalo gitu, gue pikir bakal tinggal beberapa hari," ucap Kayn.
"Sebenernya dokter lebih menyarankan itu, tapi gue tetep milih pulang," ucap Hesa.
"Oh," Kayn mengangguk paham sembari menggaruk lehernya tak gatal.
"Gue bawa buah juga buat loe," ucapnya lalu menaruh keranjang buah itu di meja.
"Kenapa gugup?" tanya Hesa to the point.
KAMU SEDANG MEMBACA
You Can't See Mee
FanficBermain petak umpet bangunan kosong? Ini ide yang cukup gila namun siapa sangka, permainan ini diwujudkan oleh sekelompok remaja. Hesa serta teman-temanya merencanakan liburan bersama di villa, tak sekedar liburan karna pada malam hari mereka bermai...
