Hallo readers mimin sudah upload kelanjutan ceritanya nih
Penasarankan? Yuk langsung aja di baca
Happy reading :)
Tanpa kusangka-sangka Billy mengeluarkan serbuk dari saku bajunya. Mataku membelalak seketika. Serbuk itu? Tangan Billy terulur. Badanku merapat pada sandaran kursi. "Ayo, Yang."
"Nanti sajalah," tangkisku gugup. Entah mengapa, aku merasa takut melihat benda itu. Padahal dulu benda itu kudapatkan dengan susah payah. Semenjak benda itu selalu hilang secara misterius dalam tasku, aku merasa itu sesuatu pertanda. "Lain kali saja Bil," sambungku melihat gelagatnya yang mencurigakan. Kini kedua kakiku telah berada di luar meja.
Dan ketika Billy mulai mendesak, aku telah waspada! Lari. Hanya iti satu-satunya jalan. Sempat kudengar teriakan paraunya memanggil-manggil namaku. Dengan nafas terengah-engah aku menyelinap ke suatu sudut. Dari sana kuperhatikan Billy kebingungan memandang berkeliling.
Beberap saat kemudian kulihat dia kembali ke tempat duduk. Kepalaku mulai menyembul hati-hati dari balik pilar. Tinggal semeter lagi pintu ke luar. Mendadak kakiku nyaris tersandung oleh benda yang bergulir dari meja... Terdengar tawa terkikik. Di saat menatap pengunjung di meja itu, mukaku pias seketika! Seorang lelaki separuh mabuk tertawa tak henti-henti sambil mereguk minuman botol hijau. Aku pernah memergoki Jerd meminum itu dulu di halaman sekolah, dan dia langsung terkapar. Tetapi lelaki ini..., dia terus minum! Kulihat bola lehernya turun naik dengan cepat.
Bibirku membuka. Tetapi desakan lain dari hati kecil memaksaku terus terpaku dan menelan satu patah kata yang ingin kulontarkan. Botol kedua bergulir ke bawah. Lelaki itu mulai hilang kesadaran. Aku memungutnya hati-hati dengan dada terhimpit. Sakit di kepalaku sendiri mulai menyentak-nyentak.
Tawa aneh bergaung kembali di telingaku. Perlahan aku mendekat, namun langkahku seketika urung melihat sesosok tubh yang mendekat dengan botol di tangannya. Langkahnya terhenti dekat meja. Wanita itu melihatlku!
Bergegas aku berbalik. Aku yakin sekali! Mereka bukan suami isteri..., kepalaku perdenyut perih, yang lelaki itu baru saja kawin? Sekuat tenaga ku giggit vivir yang bergerak hebat. Tubuhku menggigil padahal di dalam terasa panas bukan main! Terang yang menyambut di luar ruangan justru membuatku ingin cepat sampai di mobil. Pulang! Pulang! Aku sudah tidak tahan mengapa aku dilahirkan penuh penderitaan seperti ini!
Ya, mengapa baru sekrang aku tahu, bahwa lelaki yang selama ini kubanggakan dan kurindukan, dan selalu kusebut papa dengan tulus, tidak lebih dari seorang pemabuk! Mama, mengapa baru sekarang aku tahu?
*
Tamparan kedua kini singgah di pipi kiriku. Perih. Tetapi lebih perih luka yang mengiris hati ini. Melihat mama yang menangis sambil berterik-teriak, papa yang terduduk lemas kebingungan, serta pancaran mata mas Yok seolah tak percaya, itu yang lebih menyakitkan.
"Anak macam apa kamu ini? Sudah tahu orang tua sibuk mencari uang untuk hidup, bukannya prihatin. Eh, malah tambah menyusahkan! Mau jadi apa kamu, Yang? Mama sungguh tidak mengira kamu berbuat sekotor itu! Seharusnya kamu yang jadi contoh adik-adikmu! Lihat1 Yossi lari karena kamu tidak pernah memperhatikannya! Kamu sering memukulnya kan??"
"Sudah, ma. Sudah ..." papanya Yaye mencoba menengahi. Tetapi mama kian meradang.
"Sudah sudah, apa?? Anak seperti ini tidak perlu dibela, pa! Papa lihat sendiri apa kejadiannya! Dia sudah mencoreng arang di kening kita!!"
"Tetapi kesalahan bukan hanya pada Ayang toh, ma? Kita berdua terlalu sibuk sehingga melupakan memreka. Buktinya Yossi juga tidak tahan sehingga minggat! Kita lupa, mereka tidak hanya butuh materi. Tapi juga kasih sayang!"

KAMU SEDANG MEMBACA
REMBULAN DIPERBATASAN
Short StoryKubanting tutup bolpoin kesal menatap hasil karya awut - awutan di catatan Jermanku. Coretan yang sama sekali tidak berbentuk. Hasil imajinasi kanak - kanak. Banyak orang berkomentar hasil lukisan anak - anak adalah alam kehidupan mereka yang murni...